Minggu, 05 Juli 2020

Din Syamsuddin: Pemakzulan Sesuatu yang Dimungkinkan

Din Syamsuddin: Pemakzulan Sesuatu yang Dimungkinkan

Foto: Prof M Din Syamsudin.

Jakarta, Swamedium.com — Pemakzulan sesuatu yang dimungkinkan. Karena Islam dan pemikiran politik Islam menganggap suci sebuah amanat kepemimpinan.  

Demikan penilaian Guru Besar Pemikiran Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Din Syamsuddin MA dalam Webinar Masyarakat Hukum dan Tata Negara Muhammadiyah (Mahutama) bertema Menyoal Kebebasan Berpendapat dan Konstitusionalitas Pemakzulan di Era Pandemi Covid-19, Senin (1/6/20).

Menurut Din, dalam pemikiran politik Islam, ada yang berpendapat, pemimpin, imam, atau khalifah ketika naik ke tahta kepemimpinan atas dasar baiat, bersifat tuntas atau tidak dapat ditarik kembali.

Namun, banyak ulama lain yang mengatakan itu sesuatu yang bisa (ditarik kembali). Apalagi jika amanat kepemimpinan itu tidak ditunaikan sebagai amanat.

Maka, kata Din, jika ada penyimpangan dari amanat, maka kelompok ini memberikan hak kepada rakyat yang disebut dengan haqqul muarradah, hak untuk mengeritik dan juga mengoreksi. 

“Bahkan nanti, ada hak untuk menyoal kembali amanat yang telah diberikannya itu, yakni menarik kembali mandat tersebut. Itulah yang disebut dengan pemakzulan,” papar Din.

Din Syamsuddin menyebut, kata pemakzulan berasal dari bahasa Arab yang diambil ke dalam bahasa Indonesia. Meski, dia merasa dalam dalam hukum tata negara tidak disebut UUD 1945 dengan pemakzulan, tetapi impeachment. “Yang mana impeachmentpada proses, sementara pemakzulan pada hasil akhirnya,”ujarnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2015 itu melanjutkan, ada banyak istilah politik Islam. Seperti makzul dari kata azalayang artinya itu mencopot sesuatu dan menyingkirkannya ke samping. Sehingga dia tersingkir. “Dalam lisanu arab, arti pemakzulan saya kira sangat kuat dibandingkan dengan impeachment di dalam bahasa Inggris,” ungkap Din.

Pemakzulan Sesuatu yang Dimungkinkan

Dalam tradisi politik Islam, lanjut Din, ada beberapa gradasi dari pemakzulan itu. Ada yang sekadar penyingkiran dan pencopotan. “Ada juga tingkat yang tertinggi, kita keluar karena rakyat memberontak, karena rakyat melakukan aksi-aksi terutama dalam amar makruf nahi munkar, yang tentu ada syarat-syarat tertentu,” jelas Din.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.