Minggu, 05 Juli 2020

Malcolm X

Malcolm X

Foto: Malcolm X.

Jakarta, Swamedium.com — Hari-hari ini, ketika seluruh Amerika bergolak karena #GeorgeFloyd dan #icantbreathe-nya yang meneguhkan bahwa #rasisme #racism belum punah dari negara juru kampanye #hakasasimanusia #HAM, kita kembali mengenang pria berkacamata itu. Beberapa tahun lalu ketika menyempatkan berziarah ke makamnya dan bergambar di boulevard yang mengabadikan namanya, saya langsung ingat sebuah hadits;

وإنما الأعمال بالخواتيم

“Dan sesungguhnya ‘amal-‘amal itu ditentukan oleh penutupnya.” (HR Ahmad)

Malcolm X adalah nama yang jadi hujjah tentang kelamnya hidup di alam zhalim rasisme, nistanya diri yang kehilangan arah, berlikunya jalan menuju cahaya, panjangnya masa ketertipuan oleh lentera palsu, dan singkatnya manis iman bersama kebenaran sejati.

Tapi sependek apapun, itulah penutup indah, husnul khatimah, yang membuat nama Al Hajj Malik El Syabaz abadi sebagai da’i Amerika yang membawakan hidayah Islam dan berjuta orangpun mendoakannya.

Lahir di Omaha Nebraska pada 19 Mei 1925, saat dia masih kecil ayahnya dinyatakan mati kecelakaan, dengan kesaksian beberapa orang menyebut kelompok rasis kulit putihlah yang mendorongnya hingga tertabrak trem. Tunjangan tak dibayarkan, hidup berpindah-pindah dalam ancaman Ku Klux Klan, ibunya mengalami gangguan jiwa, lalu dia dan saudara-saudaranya harus pindah dari satu panti asuhan ke rumah yatim yang lain.

Menjadi peraih nilai terbaik di sekolahnya, sang guru berkata padanya, “Cita-citamu menjadi pengacara, mustahil untuk seorang kulit hitam.” Diapun keluar dan memulai berbagai kejahatan terhadap kulit putih, pencurian, kekerasan, bahkan menurut biografi terbarunya jatuh pula dalam kenistaan hubungan sejenis karena kesulitan ekonomi. Fase terkelam hidup ini diakhiri dengan vonis 10 tahun penjara. Dan dari penjara itu, dia mengenal Nation of Islam.

Begitu keluar, dia bergabung dengan organisasi yang dipimpin oleh Elijah Muhammad itu dan menjadi juru bicara utamanya yang begitu karismatik. Ajaran Nation of Islam selain ‘diwarnai sedikit’ nilai Islam, justru meliputi pula supremasi kulit hitam yang adalah insan asli bumi, kulit putih itu iblis, dan bahwa Elijah adalah Nabi yang diutus sebagai Juru Selamat. Selama 12 tahun, Malcolm mendakwahkan hal batil ini, dan interaksinya yang kian luas membuat dia diajak berdiskusi oleh para muslim sunni dari Timur Tengah dan Afrika.

Pages: 1 2 3

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.