Jumat, 27 November 2020

Target Jokowi Meleset, Mei Berlalu dengan 700 Kasus Baru Covid-19

Target Jokowi Meleset, Mei Berlalu dengan 700 Kasus Baru Covid-19

Foto: Rumah M (64) di Depok, yang dinyatakan Presiden Jokowi positif terjangkit virus Corona.

Jakarta, Swamedium.com — Presiden Joko Widodo pernah menyampaikan bahwa target pemerintah pusat tentang kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia mengalami penurunan pada Mei 2020. Target itu, kata dia, harus tercapai dengan cara apapun.

Hal itu Jokowi sampaikan saat membuka Sidang Kabinet Paripurna Pagu Indikatif RAPBN 2021 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/5). Menurutnya, capaian pada Mei itu akan berimplikasi pada penurunan kasus pada Juni dan Juli mendatang.

“Target kita di bulan Mei ini harus betul-betul tercapai. Sesuai target yang kita berikan yaitu kurvanya sudah harus turun dan masuk posisi sedang di Juni, di Juli masuk posisi ringan. Dengan cara apapun,” ujar Jokowi kala itu.

Akan tetapi, keinginan Jokowi itu masih belum bisa terealisasi. Menurut Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono tren penyebaran kasus positif Covid-19 masih mengalami peningkatan jika dilihat secara nasional hingga saat ini.

“(Kasus positif Covid-19) Kalau secara nasional itu masih naik turun (fluktuatif), tapi rata-rata masih naik,” kata Pandu saat dihubungi, Ahad (31/5).

Mengacu pada laporan harian Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, kasus positif virus corona di Indonesia masih terus bertambah hingga 31 Mei. Jumlahnya pun ratusan.

Total kasus positif per 31 Mei mencapai 26.473 orang, bertambah 700 dari hari sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.408 di antaranya telah sembuh dan 1.613 pasien meninggal dunia. Pada bulan Mei pula, peningkatan kasus sempat melambung hingga 973 orang pada 21 Mei dan 949 orang pada 23 Mei.

Sementara, jumlah masyarakat yang terkena virus corona pada akhir April 2020 tembus 10.118 orang. Dengan demikian, jika dihitung, jumlah penambahan kasus dari April sampai Mei 2020 mencapai 16.355 orang.

Pandu beranggapan bahwa peningkatan kasus itu belum dapat memberikan gambaran kinerja penanganan Covid-19 secara utuh di Indonesia. Pasalnya, jumlah pengujian spesimen virus ini pun fluktuatif.

Misalnya, pada 19 Mei, sebanyak 12.276 spesimen berhasil diuji lewat pengujian di seluruh lab di Indonesia. Namun, jumlah tersebut menurun pada 20 Mei, yakni sebanyak 8.947 spesimen, kemudian 8.092 spesimen pada 21 Mei, lalu 9.359 spesimen pada 22 Mei.

Angka kembali meningkat dan berhasil melampaui target Jokowi, yakni sebanyak 10.617 spesimen pada 23 Mei dan 11.013 spesimen pada 24 Mei. Kemudian, kembali anjlok pada 25 Mei dengan hanya pemeriksaan terhadap 4.741 spesimen. 

“Kalau dilihat masih fluktuatif. Sudah meningkat sih, tapi masih ada keterlambatan,” kata Pandu.

Selain itu, kata dia, terdapat sejumlah variabel yang mempengaruhi penilaian tim epidemiolog ihwal laju pergerakan kurva virus Covid-19.Salah satunya soal pelaporan kasus yang mengalami delay atau penundaan setiap harinya.

Idealnya, kata dia, pengujian spesimen dilakukan dan dilaporkan sesegera mungkin sehingga tidak membuat antrean pemeriksaan. Artinya, laporan kasus positif pada hari tersebut belum tentu merupakan hasil dari pemeriksaan pada hari yang sama.

“Jadi kalau hari ini ada swabnya sudah masuk, nanti sore bisa keluar dan sudah diumumkan. paling telat besok pagi sudah diumumkan. Karena yang terjadi kan bisa sampai dua minggu gitu,” jelasnya.

Relaksasi atau pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan di beberapa wilayah. Hal itu menurutnya dapat mempengaruhi kurva penyebaran Covid-19 secara nasional.

Oleh sebab itu, menurutnya, setiap daerah harus memiliki perhitungan yang masak apabila ingin melonggarkan status PSBB. Analisis mendalam perlu dilakukan oleh masing-masing pemerintah daerah sesuai dengan keadaan di wilayah masing-masing.

“Ternyata selama pandemi banyak hal-hak yang diluar dugaan kita. (Misalnya) intervensi PSBB tidak berjalan optimal, terus penduduk masih bergerak, dan yang paling mengganggu itu adalah kapasitas testing kita masih belum maksimal,” katanya.

Meski belum bisa memprediksi kurva kasus virus corona level nasional, Pandu mengatakan pihaknya bisa memprediksi kurva di dua provinsi, yakni Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Pelaporan data kasus yang dilakukan oleh kedua wilayah tersebut dapat dikategorikan cukup baik, sehingga dapat memperlihatkan tren penurunan jumlah kasus positif secara akurat.

“Kalau kurva yang bisa kita pelajari dengan baik itu hanya di dua Provinsi yang datanya cukup bagus. Jawa Barat dan DKI Jakarta. Kurvanya sudah menurun di dua wilayah itu,” lanjut Pandu.

Sumber: CNNIndonesia

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.