Sabtu, 28 November 2020

Renungan Bagi yang Merasa Sebagai Pemimpin

Renungan Bagi yang Merasa Sebagai Pemimpin

Uus Rusad.

Bandung, Swamedium.com — Tulisan ini sebagai muhasabah untuk siapa saja yang diamanahi menjadi seorang pemimpin. Baik itu pemimpin Negara, perusahaan, organisasi, atau menjadi pemimpin apapun. Apakah kita termasuk pemimpin yg baik atau pemimpin yang buruk?

Imam Ahmad dan yang lain meriwayatkan sebuah hadits dari Qatadah, bahwa Nabi Musa As berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau berada di langit sedangkan aku berada di bumi. Bagaimanakah ciri-ciri mereka yg mendapatkan ridhoMu?” Allah berfirman, “Jika aku telah mengangkat orang-orang yang baik jadi pemimpin, maka itulah tanda kerelaanKu padamu. Dan jika aku telah mengangkat orang-orang yang jelek menjadi pemimpinmu, maka itu tandanya kemurkaanKu padamu.”

Dalam kumpulan hadits-hadits mursal al-Hasan, ada sebuah hadits:

“Jika Allah menghendaki kebaikan atas suatu kaum, Allah akan menyerahkan urusan mereka kepada orang-orang yang murah hati dan Allah serahkan harta rampasan mereka kepada orang-orang yg dermawan. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, Allah akan menyerahkan urusan mereka kepada orang-orang yang bodoh dan Allah serahkan harta rampasan mereka kepada orang-orang yang bakhil.

Jika hari ini kita menemukan banyak yang diamanahi mengurus Negara, perusahaan, lembaga pendidikan, organisasi, atau kumpulan-kumpulan lainnya, mereka memimpin dengan kebodohannya, kebakhilannya, dan kezolimannya, maka ada hadits dari Malik bin Dinar, menjadi bahan introspeksi bagi pemimpinnya ataupun bagi yang dipimpinnya.

“Aku (Malik bin Dinar) pernah membaca dalam al-Hikmah, “Allah Swt berfirman, Aku adalah Allah yang merajai semua raja. Hati para raja berada dalam TanganKu. Barang siapa tunduk kepadaKu, Aku akan memberi kasih sayang pada mereka. Dan barang siapa yang durhaka kepadaKu, aku akan menimpakan siksa pada mereka. Karena itu, janganlah kalian sibuk mencela para raja, akan tetapi bertobatlah kepadaKu, niscaya Aku akan memberikan kasih sayang mereka kepada kalian.” (Ibnu Qayyim, Ad Da’ wad Dawa’)

Perlu jadi catatan, bahwa kita tidak boleh mencela pribadinya, tapi kita tetap wajib amar maruf nahi munkar, kita tetap harus mengkritik dan menasehati pemimpin atas kebijakan dan aturan yang bertentangan dengan Islam, tapi tidak boleh mencela pribadinya.

Catatan berikutnya, Allah akan memberikan kepada pemimpin sikap kasih sayang, dermawan, dan adil dalam memimpin, selama pemimpin tadi tunduk dan hanya taat kepada Allah. Wallahu a’lam. (*)

*Penulis: Uus Rusad (Sastra Pembebasan)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.