Selasa, 07 Juli 2020

MUI Keluarkan Fatwa Penyelenggaran Shalat Jumat di Tengah Pandemi Covid-19

MUI Keluarkan Fatwa Penyelenggaran Shalat Jumat di Tengah Pandemi Covid-19

Jakarta, Swamedium.com — Setelah melalui pembahasan panjang, akhirnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terkait penyelenggaraan shalat Jumat di tengah masa pandemi Covid-19.

“Komisi Fatwa rampungkan fatwa terkait penyelenggaraan shalat Jumat dan jamaah untuk mencegah penularan wabah Covid, setelah dilakukan muthalaah dan pembahasan maraton tiga hari tiga malam,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni’Am Sholeh dalam keterangannya, Kamis (4/6/2020).

Dalam fatwa bernomor 31 tahun 2020 ini, MUI menyatakan shaf jamaah boleh renggang karena bagian dari penerapan jaga jarak fisik untuk mencegah penularan Covid-19.

Komisi Fatwa MUI juga mengingatkan jamaah membawa sajadah sendiri, wudhu di rumah, dan menjaga jarak aman. Jamaah shalat Jumat juga diminta menggunakan masker, dan bagi jamaah yang sakit dianjurkan shalat di kediaman masing-masing.

Selain itu, Komisi Fatwa MUI mengingatkan agar khotbah dipersingkat dan dalam shalat dipilih bacaan surat Al-Qur’an yang pendek.

Berikut ini isi Fatwa MUI tentang penyelenggaraan Shalat Jumat untuk mencegah penularan Covid-19:

FATWA NOMOR 31 TAHUN 2020 TENTANG PENYELENGGARAAN SHALAT JUM’AT DAN JAMAAH UNTUK MENCEGAH PENULARAN WABAH COVID-19

I. KETENTUAN HUKUM
A. Perenggangan Saf Saat Berjamaah
1. Meluruskan dan merapatkan saf (barisan) pada shalat berjamaah merupakan keutamaan dan kesempurnaan berjamaah.
2. Shalat berjamaah dengan saf yang tidak lurus dan tidak rapat hukumnya tetap sah tetapi kehilangan keutamaan dan kesempurnaan jamaah.
3. Untuk mencegah penularan wabah COVID-19, penerapan physical distancing saat shalat jamaah dengan cara merenggangkan saf hukumnya boleh, shalatnya sah dan tidak kehilangan keutamaan berjamaah karena kondisi tersebut sebagai hajat syar’iyyah.

B. Pelaksanaan Shalat Jum’at
1. Pada dasarnya shalat Jum’at hanya boleh diselenggarakan satu kali di satu masjid pada satu kawasan.
2. Untuk mencegah penularan wabah Covid-19 maka penyelenggaraan shalat Jumat boleh menerapkan physical distancing dengan cara perenggangan saf.
3. Jika jamaah shalat Jum’at tidak dapat tertampung karena adanya penerapan physical distancing, maka boleh dilakukan ta’addud al-jumu’ah (penyelenggaraan shalat Jum’at berbilang), dengan menyelenggarakan shalat Jum’at di tempat lainnya seperti mushalla, aula, gedung pertemuan, gedung olahraga, dan stadion.
4. Dalam hal masjid dan tempat lain masih tidak menampung jamaah shalat Jum’at dan/atau tidak ada tempat lain untuk pelaksanaan shalat Jum’at, maka Sidang Komisi Fatwa MUI berbeda pendapat terhadap jamaah yang belum dapat melaksanakan shalat Jum’at sebagai berikut:
a. Pendapat pertama, jamaah boleh menyelenggarakan Shalat Jum’at di masjid atau tempat lain yang telah melaksanakan shalat jum’at dengan model shift, dan pelaksanaan shalat Jum’at dengan model shift hukumnya sah.
b. Pendapat Kedua, jamaah melaksanakan shalat zuhur, baik secara sendiri maupun berjamaah, dan pelaksanaan shalat Jum’at dengan model shift hukumnya tidak sah.
Terhadap perbedaan pendapat di atas (point a dan b), dalam pelaksanaannya jamaah dapat memilih salah satu di antara dua pendapat dengan mempertimbangkan keadaan dan kemaslahatan di wilayah masing-masing.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.