Jumat, 27 November 2020

Amien Rais: Keblinger yang Bilang Komunis Itu Hantu

Amien Rais: Keblinger yang Bilang Komunis Itu Hantu

Jakarta, Swamedium.com — “Keblinger yang bilang komunis itu hantu. Keblinger yang bilang komunisme abstrak dan seolah-seolah dianggap tidak ada dan hilang di muka bumi ini”.

Demikian kata Prof Dr M Amien Rais MA dalam Kajian Timur Tengah Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Timur dan Jawa Tengah bertema Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah. Acara yang digelar via Zoom itu berlangsung Selasa, (2/6).

Menurut Amien, ada pemahaman yang dipaksakan oleh sementara pemimpin Indonesia. Komunisme dianggap hantu yang abstrak sehingga tidak ada paham komunis di muka bumi ini. “Saya kira keblinger yang bilang itu,” ujarnya.

China di bawah Xi Jinping, kata Amien, memegang empat kekuasaan pokok yang luar biasa mewakili Partai Komunis China. Empat kekuasaan sentral itu antara lain yang menggenggam kekuasaan politik maupun negara. Ada Sekjen Partai Komunis dan Komite Sentral Partai Komunis. Juga ketua Tinggi Komite Militer sentral dan Presiden China.

“Semua itu dipersembahkan untuk kepentigan komunisme China. Sekarang ada orang yang tidak tanggung jawab mengatakan tidak perlu takut terhadap komunisme,” ungkapnya.

Di Indonesia, saat ini tidak ada lagi recruitment pegawai negeri, tentara, polisi, dan dosen yang menyertakan surat keterangan bebas Gestapu. Sehingga ada anak dan cucu dari komunis yang waktu itu mau menjadikan negara Indonesia menjadi negara komunis.

Walaupun sesungguhnya, kata Amien, semua itu sudah selesai dan menerima anak cucu komunis itu sesuai al-Quran wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā. Yang artinya orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. “Tidak boleh anak PKI ditimpakan kesalahan PKI, kecuali jika anak itu memiliki aspirasi PKI juga,” jelas Amien.

Amien juga menyampaikan jika Indonesia merupakan negeri yang sangat rawan. Uni Soviet yang besar itu saja bisa runtuh. “Saya khawatir bahwa mereka yang ingin menghidupkan komunisme, sama saja ingin mengesahkan PKI sebagai partai yang sah. Hal itu sama saja hakikatnya menghancurkan agama dan riwayat komunisme, yang ujung kepala sampai ujung kakinya itu antiagama,” paparnya.

Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah

Sebelumnya, terkait Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah yang merupakan rumusan Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, Amien mengatakan hal itu merupakan sesuatu pemahaman konsep bermasyarakat dan bernegara yang cukup mengena.

Karena Pancasila memang kesepakatan tokoh bangsa menjelang kemerdekaan. Maksudnya, Pancasila sebagai kontrak politik atau sosial. Pancasila adalah ideologi dan filosofi negara, serta kesepakatan adiluhung dari para tokoh bangsa pada saat itu. “Agar kita mempunyai negara yang bisa awet dan bisa terus bermanfaat bagi para anak bangsa,” ujar Amien.

Kata Darus Syahadah, lanjut Amien, mendorong semua elemen untuk berpartisipasi menjadi syuhada, menjadi umat yang di depan, pertengahan, dan referensi. “Mengapa? Karena bangsa Indonesia, khususnya Muhammadiyah, punya partisipasi besar saat merumuskan Pancasila. Maka sudah tentu Muhammadiyah dituntut tidak pasif apalagi penganut Pancasila yang tidak kreatif. Hal ini yang harus kita jauhi,” tuturnya.

Amien menyebut, Muhammadiyah usianya 33 tahum lebih tua dari Indonesia. Dari segi pengalaman berbangsa dan bernegara, secara teoritik tokoh-tokoh Muhammadiyah sudah mendahului para pendiri bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan lainya.

“Jauh sebelum 33 tahun, kita sudah berbicara pentingnya kemerdekaan, kedaulatan, serta mengenyahkan penjajahan. Muhammadiyah amat sangat pantas berada di depan. Tetap di garis depan, Muhammadiyah selalu berjuang demi perjuangan yang amat mulia, ukhuwah islamiyah. Di garis depan mendapat berkah serta ridha Allah membangun masyarakat Indonesia,” kata Amien.

Menurut dia, Muhammadiyah mempunyai dokumen-dokumen sejarah yang terawat hingga kini. Seperti yang diguratkan para tokoh Muhammadiyah dalam Mukaddimah, Anggaran Dasar, maupun Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.

“Kepribadian Muhammadiyah itu juga muncul saat perkembangan bangsa pada saat itu yang mengkhawatirkan konsep Nasakom (nasionalis, agama, dan komunis). Pemerintah saat itu, menyetir bangsa Indonesia ke arah kiri atau komunisme, yang berkiblat ke China dan Uni Soviet,” kata Amien. Pada waktu itu, lanjutnya, ada upaya untuk mengubah Pancasila menjadi tiga sila saja, sosio demokrasi, sosio ekonomi, dan gotong royong.

Realitas yang Jauh dari Cita-Cita

Menurut Amien, fakta saat ini, Pancasila menjadi realitas sejarah yang memang sangat jauh dari cita-cita para tokoh bangsa. Mereka yang tidak paham Pancasila, diliputi dengan kebendaan dan nafsu duniawiyah, seolah sila pertama itu berbunyi keuangan yang maha kuasa. “Karena semua tentang uang, uang, dan uang,” ujar Amien.

Kedua, menjadi kemanusiaan yang tidak adil dan biadab. Diliat sangat mudahnya anak-anak bangsa melenyapkan sesama dengan anak bangsa yang lain. Lalu yang ketiga, katanya persatuan Indonesia, tetapi yang terjadi perpecahan Indonesia. “Berkali-kali kita sudah menyaksikan. Ada pemberontakan DII, Permesta, dan yang paling dashyat adalah Gestapu PKI,” ujar Amien.

Soal Rasisme di Amerika Serikat

Kasus George Floyd di Amerika mewarisi sebuah rasialisme dan diskriminasi luar biasa yang kemudian meledak. Di benak orang-orang Amerika kulit hitam dan minoritas lainnya tidak ada kehidupan demokratis di sana.

“Tahun 1955 ada seorang penyanyi kulit hitam di Amerika pergi di sebuah kantor tenaga kerja. Di sana, saat mengambil kartu tapi namanya tidak pernah dipanggil. Saat bertanya, dia malah disuruh mundur, mundur, dan mundur,” terang Amien.

Kemudian, lanjutnya, dia pernah pergi ke rumah sakit dan mengambil kartu dan tidak dipanggil. Dia lalu bertanya pada juru rawat. Jawabanya sama, ‘Andai saja kulitmu putih tidak mengapa, tetapi kulitmu hitam’.

“Jadi, seolah-olah orang kulit hitam dan kelompok minoritas yang lain tidak boleh mengalami mobilitas vertical, tidak boleh kaya, berkuasa, dan berpengaruh,” ungkap Amien.

Sekarang ini Amerika dikuasai orang kulit putih ugal-ugaan penuh kesombongan yang luar biasa. Tidak mengurangi hak apapun dari kulit hitam dan minoritas yang lain. Sepertinya akan berjalan panjang dan harus bersiap-siap dunia melihat kekacauan yang makin berat. “Karena Amerika ini negara super power yang masih jadi rujukan Eropa dan bangsa-bangsa yang selama ini berkiblat ke Barat,” tuturnya.

Jadi menurut Amien, tidak ada yang salah dari Pancasila, tidak ada yang salah dengan pemahaman Darul Ahdi wa Syahadah. Tetapi yang harap diingat, kadang-kadang sebuah kebijakan itu ada perbedaan yang sangat lebar antara formulasi kebijakan dengan policy implementation.

“Yaitu, ketika konsep bagus itu dilaksanakan di kehidupan ril dan kemudian bertemu berbagai rintangan yang luar biasa saat diimplementasikan,” kata dia.

Sumber: PWMU

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.