Sabtu, 28 November 2020

Rocky Gerung: Parliamentary Treshold Itu Dibuat oleh Maling

Rocky Gerung: Parliamentary Treshold Itu Dibuat oleh Maling

Rocky Gerung.

Jakarta, Swamedium.com — Pengamat politik Rocky Gerung mengatakan, parliamentary treshold atau ambang batas ambang parlemen itu dibuat oleh maling untuk menghalangi proses demokrasi. Maka menurutnya, hal tersebut tak perlu digunakan dalam pemilu.

Sebelumnya diketahui, sejumlah partai politik ingin menaikkan ambang batas parlemen dari 4 menjadi 7 persen. “Kita ingin tidak boleh ada parliamentary treshold. Parliamentary treshold itu dibuat oleh maling, untuk menghalangi proses demokrasi,” katanya dalam diskudi bertajuk `Ambang Batas Pilpres dan Ancaman Demokrasi` yang dilakuakn secara virtual melalui aplikasi Zoom meeting, kemarin.

Adapun parliamentary treshold atau ambang batas menurutnya ibarat portal yang ada di kompleks perumahan yang dibuat oleh tuan rumah dengan tujuan untuk menghalangi maling masuk ke dalam rumah.

“Treshold itu semacam portal yang dibuat supaya orang tertentu saja yang lewat. Itu seperti portal di perumahan. Itu dibuat untuk menghalangi maling, tapi di treshold, portal itu dipasang oleh maling, bukan dipasang oleh tuan ruamh, agar tuan rumah dihalangi masuk,” lanjut Rocky.

Seharusnya menurut Rocky, untuk mengatasi itu adalah tugas Mahkamah Konstitusi (MK). Namun, nyatanya, MK tak membantu untuk menciptakan proses demokrasi berjalan baik di Indonesia. Begitu juga dengan kehadiran KPU.

“MK tidak membantu untuk mmebuat mesin demokrasi berputar. KPU juga begitu 11 12 dengan MK. Tugas utama KPU itu bukan menjalankan Pemilu tapi mendidik demokrasi, mengaktifkan etika politik.,” tukasnya.

Dimana sebelumnya, Partai NasDem dan Golkar mengusulkan ambang batas parlemen dinaikkan dari 4 persen ke 7 persen pada Pemilu 2024 nanti. Namun, atas usulan kedua partai ini, banyak fraksi di DPR yang menolaknya.

Sumber: Indonesiakita

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.