Senin, 23 November 2020

Dr dr Andani Eka Putra, Patriot Militan di Tengah Pandemi (Bagian 1)

Dr dr Andani Eka Putra, Patriot Militan di Tengah Pandemi (Bagian 1)

Foto: Dr. dr Andani Eka Putra

Padang, Swamedium.com — Saat bangsa gelisah dirundung wabah, kabar cerah muncrat dari Ranah Minang. Bumi yang banyak melahirkan “Sang Pencerah”, mulai dari Tuanku Imam Bonjol, Hatta, Hamka, Sjahrir hingga Rasuna Said. Di era kekinian, nama Andani, layak dicatat sebagai salah satu “patriot” Covid-19.

Jika ditulis lengkap, nama pria berkumis dan berjenggot tebal ini adalah Dr dr Andani Eka Putra, MSc. “Kalau belum kenal, banyak yang mengira saya perempuan, karena nama depan saya,” ujar Andani, mengawali percakapan via telepon, tadi malam, Sabtu (6/6).

Di Sumatera Barat, dokter berkacamata minus ini bukanlah nama yang asing. Selain sebagai pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Padang, juga menjabat Direksi RS Universitas Unand. Tapi kali ini, kita tempatkan dia dalam kedudukannya sebagai Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Dia memang banyak berkecimpung di ranah virus, mulai dari rotavirus, hepatitis, HIV dan lain-lain. “Alhasil, ketika virus corona menyerang, saya tidak mungkin berpangku tangan,” ujarnya.

Dengan sepasukan pekerja laboratorium yang berstatus mahasiswa, Andani menorehkan prestasi, dalam hal kapasitas pemeriksaan sampel untuk mendeteksi Covid-19. Ketika laboratorium lain hanya bisa menyelesaikan pemeriksaan 100 hingga 200 sampel per hari, laboratorium FK Unand rata-rarta bisa menyelesaikan 800 sampel.

“Angka tertinggi mencapai 1.570 sampel dalam satu hari selesai,” ujar lulusan FK Unand 1996 itu.

Bagaimana Andani bisa bekerja dengan hasil yang begitu fantastis? Bahkan melampaui pencapaian hasil tiga laboratorium besar di Indonesia yang dimiliki Kementerian Kesehatan, Pemprov DKI Jakarta, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

“Laboratorium yang kami pakai, awalnya adalah labotarorium riset milik saya pribadi. Hampir semua barang dan peralatan laboratorium milik saya. Sebagian saya beli sendiri, sebagian pengadaan hasil kerjasama dengan perusahaan untuk sebuah pengembangan produk,” tuturnya.

Nah, ketika virus corona mulai masuk Indonesia, ia pun bersiap-siap terlibat di dalamnya. Untuk membantu pemeriksaan di laboratorium, ia meminta kesediaan para mahasiswa kedokteran Universitas Andalah, baik yang S1 maupun S2. “Alhamdulillah, mereka bersedia. Meski dari sorot matanya, saya bisa membaca binar-binar cemas, bahkan takut,” kata lulusan master Kedokteran Tropis UGM Yogyakarta tahun 2009 itu.

Untuk keperluan pemeriksaan sampel Covid-19, Andani diberi tempat lebih luas oleh Dekan FK Unand. Sementara, Rektor Unand pun mendukung dan memberi bantuan untuk memperbaiki ruangan labotatorium. Izin lab turun tanggal 19 Maret 2020, dan pertama kali pemeriksaan sampel Covid-19 tanggal 25 Maret 2020.

Saat awal menerima sampel darah, para “pekerja lab” dadakan tadi tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir dan ketakutannya. Bahkan Andani menjumpai, ada beberapa yang sampai menangis. Andani memakluminya. Spontan, ia menjelaskan cara kerjanya dan turun tangan mengerjakannya. Memulai pemeriksaan sampel darah dan memberi contoh.

Lama-lama, para mahasiswa mulai terbiasa. Bahkan Andani memuji loyalitas mereka yang sangat tinggi. Andani bahkan memasang target bisa memeriksa 300 sampel per hari. “Sama seperti di bidang lain, maka laboratorium juga akan berjalan bagus kalau pemimpinnya strong,” kata doktor lulusan UGM Yogyakarta tahun 2016 itu

Tak lupa, Andani mengisahkan riwayat labotatorium miliknya. Bahwa, sebelum digunakan untuk memeriksa virus corona, semua peralatan lab dihibahkan ke FK Unand. Jika dirupiahkan, tak kurang dari Rp 2 miliar. “Saya hibahkan semua ke fakultas dengan harapaan bisa lebih produktif,” tambah dokter yang mengaku memiliki passion di bidang riset itu.

Dalam proses, datanglah bantuan alat PCR (Polymerase Chain Reaction) dari Walikota Padang. Juga bantuan lain dari Pemprov Sumatera Barat, Paragon, dan banyak pihak lain yang mendukung. Untuk mempercepat pemeriksaan sampel, serta meningkatkan kapasitas, Andani pun mengajukan permohonan pengadaan mesin ekstraksi.

“Di luar dugaan. Dari target 300 sampel per hari, saat itu kami sudah bisa menyelesaikan 700 sampai 800 sampel per hari. Maka, jika kami dilengkapi mesin ekstraksi hasilnya bisa 1.500 sampel per hari,” kata Andani.

Apa yang terjadi? Selagi permohonannya diproses, Andani dan anak buahnya sudah berhasil menyentuh hasil pemeriksaan 1.500 sampel per hari. “Itu karena kami bekerja 22 jam sehari. Mulai bekerja habis shubuh pukul 05.30 dan baru selesa pukul 03.30 setiap hari,” kisahnya.

Alhasil, ketika mesin ekstraksi datang, labotatorium FK Unand bisa menyelesaikan 2.500 sampel per hari. “Sampai hari ini, tidak ada satu pun labotatorium di Indonesia yang bisa melampaui hasil 1.100 per hari. Baik laboratorium Litbang Kemenkeas, Litbangkes DKI Jakarta, dan LBM Eijkman. Sebab, di luar laboratorium kami di FK Unand, ya tiga itu saja yang terbilang besar,” katanya melaporkan hasil kerjanya kepada Ketua Gugas Letjen Doni Monardo beberapa hari lalu.

Sampai di titik ini, kita menangkap adanya kesamaan frekuensi antara Dr dr Andani Eka Putra MSc dengan Letjen TNI Doni Monardo. Bukan karena keduanya sama-sama berdarah Minang, tetapi ada satu benang merah di antara keduanya: Sama-sama militan dan spartan.

Jika Dr Andani dan tim laboratoriumnya bekerja 22 jam sehari, demikian pula Doni Monardo dan sejumlah staf Gugus Tugas Covid-19 lainnya.

Jika Dr Andani dan tim bermukim di laboratorium Komplek FK Unand kawasan Limau Manis, Pauh – Padang, Doni dan tim sudah hampir tiga bulan tidur di markas Graha BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Timur.

Inilah teladan yang bisa menginspirasi kita. Wabah tidak untuk diratapi atau dicaci-maki. Wabah harus dihadapi dengan jiwa patriot sejati.

Jiwa Andani dan Doni, adalah jiwa yang dibutuhkan bangsa ini melawan wabah yang entah kapan bakal enyah. (Rustian/Ketum IKA Farmasi Unand)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.