Senin, 23 November 2020

Yang Gendeng Jadi Waras, Yang Waras Jadi Gendeng

Yang Gendeng Jadi Waras, Yang Waras Jadi Gendeng

Foto: Almarhum H. Irsan Massardi alias Ki Gendeng Pamungkas.

Jakarta, Swamedium.com — Sejak kemarin di beranda saya berseliweran berita wafatnya seorang tokoh yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh supranatural.

Nama yang sangat beken di jagat perdukunan dan supranatural. Saya memang sudah lama mendengar tentang pertaubatan beliau dan keluarganya. Bahkan putranya ikut ngaji dan menjadi barisan dari pejuang syariah dan khilafah.

Melalui wasilah putranya, beliau akhirnya bertaubat dan hidup sebagai muslim yang taat.

Iya, siapa yang tidak kenal dengan Ki Gendeng Pamungkas. Masa lalunya pernah digunakan mendalami ilmu hitam pada 59 guru di 16 propinsi di Indonesia.

Bahkan kegilaannya pada ilmu hitam konon sempat membawanya sampai ke Afrika untuk belajar Voodoo. Sejak 1978 ia menjadi orang terkenal dan disegani banyak orang.

Siapa yang mengira beliau akhirnya bertaubat di akhir hayatnya. Meninggalkan praktik syirik dan kembali menjadi seorang muslim sejati dengan mengikrarkan kembali syahadat.

Bahkan putranya, G Nusantara Merdeka, kini konsisten di jalan dakwah. Perubahan yang terjadi pada diri Ki Gendeng Pamungkas pun banyak dipengaruhi oleh putranya tersebut.

Kemarin, Sabtu 6 Juni 2020 M/15 Syawwal 1441 H, lima belas hari setelah menunaikan ibadah puasa sebulan penuh, beliau dipanggil Allah. Semoga beliau mendapatkan apa yang disabdakan Nabi:

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Siapa saja yang berpuasa di Ramadhan dengan didasari keimanan, dan semata karena Allah, maka dia diampuni semua dosanya yang telah lalu.”

Moga ini menjadi kabar gembira, yang menutup lembaran hidupnya. Karena pada akhirnya yang dinilai oleh Allah adalah catatan terakhir amalnya:

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

_“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.”_ (HR Bukhari no. 6607)

Tak hanya itu, beliau juga meninggalkan anak shalih yang akan terus mengalirkan pahala setelah wafatnya, dengan doa-doa dan amal dakwahnya. Putra yang tiap langkah dakwahnya akan menjadi pahala yang terus mengalir kepadanya. Apalagi pahala dakwah kepada syariah dan khilafah yang begitu luar biasa.

Mari kita doakan:

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ.

Selamat jalan, Ki Gendeng. Engkau beruntung di akhir hayatmu. Di saat ada yang sebelumnya waras justru menjadi gendeng, meninggalkan dakwah dan memusuhi syariat-Nya. (*)

*Penulis: KH Hafidz Abdurrahman

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.