Senin, 23 November 2020

Dr dr Andani Eka Putra, Patriot Militan di Tengah Pandemi (Bagian 2)

Dr dr Andani Eka Putra, Patriot Militan di Tengah Pandemi (Bagian 2)

Foto: Dr. dr Andani Eka Putra

‘Lebih Baik Menangkap Harimau di Luar Kandang daripada di Dalam Kandang’ – Dr dr Andani

Padang, Swamedium.com — Totalitas bekerja Andani dan timnya, tak bisa diragukan, adalah wujud nasionalisme tertinggi. Seperti yang ia kemukakan, bahwa sejak awal kepada anggota lab, Andani sudah tegas mengatakan bahwa yang mereka kerjakan semata-mata untuk bangsa dan negara, atas nama kemanusiaan.

Tidak peduli soal honor, bahkan tidak peduli bagaimana mereka bisa hidup sehari-hari. “Bahkan, untuk makan sehari-hari kami dibantu oleh para donatur. Selalu saya tekankan, bekerjalah dengan ikhlas. Ada atau tidak ada imbalan, jangan sekali-kali dipikirkan. Ini saatnya berjuang,” tegas Andani semangat.

Kini, mereka bahkan tidak saja bisa bekerja untuk Sumatera Barat, tetapi juga bisa membantu daerah-daerah lain. Surabaya yang sedang diguncang besarnya angka korban yang terpapar, pun mendapat tawaran untuk memeriksakan sampelnya ke Padang.

Sebelumnya, ia sudah membantu permintaan tolong pemeriksaan sampel Covid-19 dari Palembang, Kabupaten Sambas Kalbar Bengkulu, dan beberapa daerah lain.

Tanpa disadari, hadirnya Andani dan tim laboratoriumnya, melahirkan satu pola penanganan Covid-19 tersendiri, yang bisa ditiru bahkan diterapkan di daerah lain. Sebagai contoh, statistik nasional, pasien positif yang dirawat di RS sebesar 66 persen. Sedangkan di Sumatera Barat, persentase yang dirawat di RS hanya 16 persen.

“Nasional terjebak pada pemeriksaan PDP sedangkan kita langsung ke OTG,” katanya. Tentang itu, Andani punya analogi yang menarik, yakni mana lebih baik, menangkap harimau di dalam kandang atau menangkap harimau yang berkeliaran di rimba. OTG adalah ibarat harimau yang berkeliaran dan bisa memangsa siapa saja.

Atas analogi itu, Andani menjawabnya sendiri, “Jelas lebih baik menangkap harimau di rimba, kan?” Ia menambahkan, yang dilakukan adalah pemeriksaan PCR, bukan rapid test. “Sudahlah, kalau boleh saran, tinggalkan pola rapid test, yang bahkan WHO sendiri tidak merekomendasikannya,” tandas Andani.

Ada contoh nyata. Dua hari lalu (4/6/2020), seseorang lolos dari rapid test di bandara Soekarno Hatta menuju Padang. Di bandara internasional Minangkabau, dilakukan test dan hasilnya positif. Sebelumnya lagi, kami memeriksa 20 anggota Polri yang sudah rapid test dan negatif, hasilnya dua di antaranya ternyata positif. “Berhati-hatilah dengan rapid test,” tandasnya.

Yang perlu kita lakukan saat ini adalah meningkatkan kapasitas laboratorium. Sebab, hanya dengan cara itu kita bisa memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Ingat, perang menghentikan Covid-19 itu adanya di lapangan, bukan di rumah sakit. “Perang sesungguhnya itu ya di pasar-pasar, di stasiun-stasiun, di terminal-terminal, di kantor-kantor, bahkan di rumah-rumah penduduk. Bukan di rumah sakit. Rumah sakit itu benteng terakhir untuk mencegah dan mengurangi angka kematian,” papar Andani.

Karenanya, Andani prihatin ketika koleganya sesama dokter di Jakarta bercerita, bahwa ketika ada pasien masuk, yang dirawat hanya pasien, sementara keluarganya tidak diperiksa. “Ini terjadi karena memang kapasitas labotarotium di Jakarta juga terbatas,” ujarnya.

Sedangkan kepada teman-teman di Dinas Kesehatan di mana pun berada, termasuk di Kementerian Kesehatan, Andani berharap bisa bekerjasama, menghentikan ego sektoral. Harus dibangun komitmen bersama. “Sederhananya, jangan ada yang merasa paling hebat, tapi pekerjaannya sedikit. Jangan diperbanyak publikasi di media massa, tetapi faktanya hasil kerjanya tidak seberapa,” ucap Andani kritis.

Apa yang ia kerjakan di Sumatera Barat, setidaknya sudah menunjukkan indikator positif. Dengan kapasitas lab yang ada, ia mampu menorehkan angka perbandingan 0,43 persen dari jumlah penduduk Sumbar yang dilakukan tes PCR. Bandingkan dengan angka nasional yang masih 0,08 persen.

“Kami telah memeriksa 24.000 penduduk dari 5 juta penduduk, sekitar 0,43 persen. Sementara di Korea Selatan, 1,3 persen. Setidaknya di Indonesia, Sumbar adalah yang tertinggi. Harusnya semua provinsi berlomba-lomba memperbanyak jumlah pendduk yang dites,” katanya.

Mengingat belum ditemukannya vaksin, dan belum adanya kepastian kapan Covid-19 akan hilang, maka Andani pun belum akan berhenti. Ia masih akan memacu diri dan timnya untuk bekerja ekstra keras memeprbanyak kapasitas. Bahkan, jika labnya diberi perlengkapan tambahan, ia optimis mampu menyelesaikan pemeriksaan hingga 4.000 sampel par hari. “Toh lab ini tidak akan hilang, meski misalnya, corona sudah hilang. Lab ini akan selalu ada dan bermanfaat ke depan,” imbuhnya.

Tiga Kunci Sukses

Berbicara kunci suksesnya mengembangkan laboratorium Covid-19 di Sumbar, Andani menyebut adanya tiga kunci. Pertama, berkat dukungan Gubernur Sumatera Barat, serta dukungan berbagai pihak. Ini terkait dengan posisinya di Unand dan pengalamannya sebagai direksu RS Unand.

Kunci kedua adalah nasionalisme. Ia dan tim bekerja untuk bangsa dan negara. Kunci ketiga adalah inovasi. Andani mengembangkan inovasi pemeriksaan sampel yang disebut Pool Test. “Tapi untuk menghindari kesalahpahaman, persoalan pool test harus dikupas dalam satu penjelasan tersendiri,” katanya.

Terakhir, apakah dengan demikian Sumatera Barat sudah siap untuk memasuki fase new normal? Jujur Andani mengatakan, belum ada satu daerah pun di Indonesia yang bisa mengatakan aman seratus persen.

Akan tetapi, melihat perkembangan yang ada, maka Sumbar relatif menjadi salah satu daerah yang paling siap memasuki fase new normal. Bahkan, Sumbar sudah berani mempromosikan pariwisata. Penginap di hotel akan mendapatkan voucher untuk test swab secara gratis.

Bagaimana jika hasilnya reaktif positif? Jangan khawatir. Pihak Dinas Pariwisata kan mengirim wisatawan tadi ke pulau-pulau indah yang ada di Sumatera Barat (sepeti Kepulauan Mentawai). Di sana mereka bisa karantina mandiri selama 14 hari. “Setelah negatif, boleh pulang. Enak kan? Bahkan positif pun masih bisa berwisata di pulau-pulau indah yang ada di Sumatera Barat,” kata Andani. (Rustian/ Ketum IKA Farmasi Unand)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.