Jumat, 27 November 2020

Kalilah dan Dimnah (Bagian 2): Kancil dan Raja Singa

Kalilah dan Dimnah (Bagian 2): Kancil dan Raja Singa

Foto: Asyari Usman (Facebook)

Medan, Swamedium.com — Di suatu kerajaan Singa di hutan belantara, semua jenis binatang bersepakat untuk mempersembahkan seekor diantara mereka, setiap hari, kepada Raja. Agar Raja Singa tidak melakukan perburuan terhadap mereka. Setiap hari pula dilakukan undian diantara ‘puak-puak hewan’ yang wajib mempersembahkan upeti kepada Raja Singa.

Tiap jenis (puak) binatang menyajikan seekor dari jenis mereka sendiri. Sebagai contoh, kalau undian jatuh ke kambing, maka pimpinan kambing harus mengantarkan seekor anggotanya kepada Raja. Jika ‘pemenang’ undiannya lembu, maka ketua puak lembu akan menggiring seekor diantara mereka kepada Raja. Begitu seterusnya.

Suatu hari, undian jatuh pada kancil alias pelanduk. Tetapi, si Kancil sengaja melambatkan pengantaran sesajen. Raja Singa sangat marah. Karena dia lapar sekali.

Si Kancil tiba di depan Raja tanpa persembahan. Raja bertanya mengapa si Kancil tidak membawa hidangan. Kancil menjelaskan bahwa dia ada membawa seekor kancil sajian, tetapi kancil sajian itu menolak dibawa kepada Raja. Alasannya, dia akan mempersembahkan dirinya sendiri kepada Singa yang asli sebagai Raja Hutan di situ.

Raja Singa tentu merasa terhina. Dia menuntut agar si Kancil membawa dia berjumpa dengan Singa tandingan itu. Si Kancil kemudian membawa Raja Singa ke sebuah sumur. Mereka berdiri di tepi sumur itu.

Sambil mengarahkan pandangan ke dalam sumur, si Kancil menunjukkan Singa tandingan bersama seekor kancil yang tadi menolak dijadikan sajian. Raja Singa langsung mengaum keras. Sekuat tenaga, Raja menerkam bayangannya di dalam sumur itu. Sejak itu, tidak ada lagi eksploitasi yang lemah.

Kata orang, itulah akal cerdik kancil. Dia bisa menghentikan kesewenangan yang dilakukan oleh ‘orang kuat’ yang berjubah kebodohan. Cuma, ‘orang kuat tapi bodoh’ di zaman ini tentu saja bisa melengkapi dirinya dengan alat-alat serba canggih. Jauh berbeda dengan ‘orang kuat bodoh’ di masa penulisan Kalilah dan Dimnah. Wallahu a’lam.

Namun begitu, tentu Anda bisa menciptakan ‘sumur high tech’ untuk menghentikan ‘orang bodoh yang menggunakan alat-alat canggih itu’. (*)

*Penulis: Asyari Usman

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.