Senin, 13 Juli 2020

Tetap Senang Belajar dalam Situasi Darurat

Tetap Senang Belajar dalam Situasi Darurat

Jakarta, Swamedium.com — Diskusi nasional yang diselenggarakan Rumah CaPer ini, dengan moderator Budi Santoso (Founder Rumah CaPer) berlangsung selama setengah jam.

Narasumber acara ini ada tiga orang. Pertama, M. Isa Anshori Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim, pernah belajar di Program Doktoral Ilmu Psikologi. Saat ini lebih banyak mendalami pencegahan kekerasan disekolah dengan layanan sekolah ramah anak dan linguistic forensik.

Kedua, Yayah Komariah, ibu dari 5 orang anak, yang juga pemerhati pendidikan dan founder Rumah Belajar Berkemas.

Ketiga, Diana Bakti Siregar, Pengajar matematika di SAI Bless, anggota SP2I (Srikandi Pembaca Puisi Indonesia) pimpinan Anneke Puteri, penulis buku ‘Catatan Aisyah 1 dan 2’, ‘Kemana Hilangnya Adab?’, dan ‘Jalan Cinta-Nya’, dan Tim Akademik di suatu Yayasan di Cijeruk Kabupaten Bogor.

Acara ini dimulai dengan prolog yang disampaikan oleh Diana yang mengatakan bahwa ide diskusi ini dilatarbelakangi oleh kegelisahan orang tua ketika anak harus terus belajar di rumah dan juga keluhan guru yang merasa bingung bagaimana harus mengejar target pelajaran dalam kondisi darurat seperti sekarang ini.

Namun kegelisahan orang tua semakin bertambah saat mulai ada kasak kusuk tentang sekolah yang akan dibuka sementara kondisi masih darurat. Adakah antisipasi dari keadaan ini? Lalu haruskah tetap mengejar target akademik saat COVID19 masih berstatus pandemic?

Menurut Diana, kita semua harus berubah karena keadaan sudah berubah agar tidak menjadi korban dari perubahan, jadilah agen perubahan. Pendidikan baik dalam sistem maupun penerapannya di lapangan harus berubah.

M Isa Ansori memulai pemaparannya dengan “Membincang Merdeka Belajar dan Kedaruratan. Dalam situasi pandemi Covid 19 ini membuat segala sesuatunya menjadi berubah. Model pembelajaran convensional dilarang bahkan dibatasi. Pembelajaran online menjadi sebuah keniscayaan. Tentu semua tidak bisa diharapkan maksimal. Termasuk tuntutan kurikulum. Siswa harus belajar dirumah dan didampingi orang tua. Sementara orang tua belum selalu maksimal dalam mendampingi proses belajar baik berkenaan dengan waktu dan kemampuan (sarana maupun pengetahuan). Namun fakta yang terjadi di lapangan, guru memaksimalkan tuntutan kurikulum. Ini menimbulkan kegaduhan wali murid utamanya cara guru melakukan tugas pembelajaran. Akibatnya tntutan penilaian tidak bisa berjalan secara maksimal.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.