Minggu, 29 November 2020

Cerita Sedih Dibalik Gugurnya Dokter

Cerita Sedih Dibalik Gugurnya Dokter

Duka cita mengiringi gugurnya sejawat dokter yang telah mengabdikan diri untuk raga yang lain. Hari ini rekan kerja terbaik, murid yang penuh
pengabdian,almarhum dr. Miftah Fawzy Sarengat telah melepaskan segala tugas dan kewajibannya yang tidak akan pernah diembannya lagi sebagai insan mulia. Lagi-lagi Covid-19 yang telah merenggut nyawanya. Istrinyapun sebagai rekan seprofesi, saat ini harus berjuang keras melawan penyakit yang sama.

Kejadian yang menimpa tenaga medis sebagai garda terdepan mitigasi pandemi Covid-19, berulang dan berulang lagi.
Sampai kapankah kami sebagai tenaga medis harus bersiap diri, berjuang tanpa lelah demi rasa kemanusiaan ?

Covid-19 bukanlah infuenza biasa. Covid-19 bukanlah suatu konspirasi. Penyakit ini tidak akan memilih siapa yang akan dihinggapinya. Setiap saat, setiap insan hidup mesti bersiap diri, akankah menunggu giliran terpapar virus SARS-CoV-2, nama keren virus penyebab Covid-19 itu. Virus ini termasuk virus yang baru, namun nenek moyangnya dari jenis virus RNA juga pernah mengamuk pada periode waktu sebelumnya. Pada tahun 2002, juga berawal dari Tiongkok, generasi pendahulunya yang disebut dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) cepat menyebar kesegala penjuru dunia hanya dalam beberapa bulan saja. Gejala penyakit ini tidak jauh berbeda dengan Covid-19 yang menimbulkan pandemi seperti yang kita alami saat ini. Untunglah Cobaan manusia segera terhenti. Pada tahun 2004, WHO menyatakan tidak ada
penularan lagi.

Rupanya generasi virus RNA berikutnya tidak menyerah. Sekali lagi dunia dikagetkan dengan munculnya MERS (Middle East Respiratory Syndrome) atau dikenal sebagai sindroma pernafasan Timur Tengah pada tahun 2012 dengan episentrum di Timur Tengah. Sama-sama disebut virus Corona, namun MERS ini jauh lebih mematikan bila dibanding Covid-19. Dikabarkan angka kematiannya bisa mencapai 37%.

Covid-19 memang fenomenal. Segala usaha dan upaya untuk membendung laju penularannya melalui pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan pola hidup
bersih dan sehat (PHBS), belum menampakkan hasil yang signifikan, bahkan laporan angka penularan seakan sulit terhenti. Saat ini telah dicanangkan oleh pemerintah untuk masa transisi menyongsong tatanan kehidupan yang baru. Fase New Normal yang lebih dikenal oleh telinga masarakat, sebenarnya lebih tepat disebut dengan norma-norma yang
baru. Perubahan kebiasaan yang telah mengakar lama walaupun bertujuan baik, tidak selalu mendapatkan respon yang positip dari masarakat. Norma-norma baru yang sekarang diharuskan menggunakan masker, sebagai sarana pencegahan penularan Covid-19, walaupun sudah didukung melalui peraturan gubernur lengkap dengan segala sangsinya, kadang kala dianggap angin lalu saja oleh sebagian masarakat.
Bagaimana dengan kebiasaan harus sering mencuci tangan ? Mungkin setali tiga uang. Tak mudah memang untuk menghadapi norma-norma baru ini.

Lalu apa konsekuensi yang bakal kita hadapi ? Bisa dipastikan laju penularan virus akan tetap berlangsung, semua fasilitas kesehatan khususnya perawatan kasus-kasus Covid-19 di rumah sakit, akan selalu penuh. Tenaga kesehatan mau tidak mau harus tetap mempersiapkan diri “menyambut” aliran pasien Covid-19 yang mungkin akan tetap meluber. Bisa diprediksi, tenaga kesehatan harus “merelakan diri” dengan segenap perhatian dan tenaganya untuk tetap berjuang sampai titik darah penghabisan, seperti halnya sejawat dan peserta didik kami almarhum dr. Miftah Fawzy Sarengat.

Selama belum ditemukannya vaksin untuk mencegah Covid-19 dan belum tersedianya obat anti virus yang poten untuk melawan penyakit ini, niscaya manusia akan selalu dihadapkan pada kedigdayaan virus Corona ini. Pelan namun pasti, secara teoritis setiap manusia secara alamiah akan berkesempatan “berkenalan” dengan virus tersebut. Inilah konsekuensi logis yang bakal akan kita hadapi. Herd immunity alamiah itulah nama kerennya.

Herd immunity atau kekebalan kelompok/komunitas adalah suatu bentuk imunitas terhadap suatu penyakit menular yang dapat terjadi , jika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi, baik karena dilakukan vaksinasi (imunisasi aktif) atau setelah sembuh dari infeksi alamiah sebelumnya. Semakin besar proporsi individu yang mempunyai imunitas, semakin kecil pula peluang individu yang tidak kebal untuk tertular, sehingga individu tersebut akan terlindungi. Bila cakupan vaksinasi pada ambang tertentu (biasanya sekitar 70%) telah tercapai, imunitas kelompok secara bertahap akan dapat menghilangkan penyakit infeksi menular tersebut dari suatu populasi.

Bila keadaan ini meliputi seluruh dunia, maka tidak akan terjadi lagi penularan yang disebut sebagai keadaan eradikasi. Sebagai contoh klasik adalah vaksin cacar yang telah mampu mengeradikasi penyakit ini pada tahun 1977.

Namun mesti diingat, kalau secara alamiah manusia dibenturkan dengan agen infeksi yang sifatnya ganas (virulen), seperti Covid-19 ini, dampak herd immunity akan memakan korban yang sangat besar, termasuk tenaga kesehatan.

Hingga saat ini, menurut data Internasional maupun didalam negeri, tampilan klinis Covid-19 yang memerlukan perawatan intensif adalah sekitar 15% kasus Covid-19 secara keseluruhan (10% kasus yang berat dan 5% kasus kritis yang memerlukan perawatan di ICU atau menggunakan ventilator). Sedangkan sebagian besar (85%) kasus merupakan Covid-19 yang tanpa gejala atau bergejala ringan. Justru pada kasus yang tanpa gejala ini (disebut OTG= orang tanpa gejala), berkontribusi besar terhadap laju penularan penyakit ini, karena mereka relatif bebas beraktifitas, tanpa menyadari bahwa mereka sebagai pembawa virus (carrier).

Disisi lain, manusia sebagai host sasaran virus, perlu diedukasi, dipilah-pilah, manakah yang potensial akan menyebabkan penyakit yang berat, bahkan berujung pada
kematian. Data menunjukkan, individu yang rentan mengalami fatalitas adalah yang berusia diatas 60 tahun, penderita kencing manis, hipertensi, asma, penyakit jantung, ginjal dan kanker. Perokok juga ikut berkontribusi meningkatkan angka kematian.

Semoga tidak ada Miftah-Miftah lain sebagai korban herd immunity ini.

Tulisan ini sebagai penghargaan sekaligus kewaspadaan bagi tenaga kesehatan, khususnya dokter. Karena pada hari ini teman sejawat kami yang juga murid
kami, sebagai peserta didik PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) Penyakit
Dalam telah wafat karena menderita Covid-19. Hari ini juga, kami sebagai garda
terdepan mitigasi Covid-19 , mendapat laporan dari organisasi, baik IDI maupun PAPDI, bahwa beberapa sejawat dokter sedang dirawat berjuang melawan Covid-19. (*)

*Penulis: Ari Baskoro (Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam FKUA/RS Dr. Soetomo Surabaya)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.