Minggu, 29 November 2020

Cerita Haru Penjual Nasi yang Gratiskan Dagangan Tiap Jumat

Cerita Haru Penjual Nasi yang Gratiskan Dagangan Tiap Jumat

Pekalongan, Swamedium.com — Berbagi dengan sesama, merupaka sebuah kebaikan yang juga termasuk dalam lingkup ibadah. Sedekah, donasi, sumbangan sukarela, adalah nama lain dari kegiatan tersebut. Tak perlu menunggu kaya raya dan berkecukupan. Seperti yang dilakukan pasangan suami istri penjual nasi Megono, Ende dan Kus Wati ini.

Meski hidup pas-pasan dari jualan Nasi Megono, hal itu tak menghambat niat mereka untuk bersedekah. Setiap Jumat keduanya menggratiskan nasi Menggono khusus untuk anak yatim dan kaum djuafa. Dua tahun berjualan, mereka akhirnya mencoba beramal dengan cara tersebut.

“Kami hanya mampunya berbuat seperti ini. Semoga bisa membantu mereka (anak yatim dan duafa) untuk bersarapan,” kata Ende.

Menggelar dagangannya di di depan Pasar Kedungwuni, suami istri asal Gembong, Kedungwuni Timur, Kabupaten Pekalongan itu, tergugah batinnya setelah ikut sebuah pengajian di sebuah pondok pesantren. Ia merasa harus berbuat kebaikan yang bermanfaat bagi banyak orang.

“Baru tiga minggu (amal ke anak yatim dan duafa). Ini saya lakukan setelah beberapa kali mengaji di Pondok Pesantren Darus Salam Puri, Kedungwuni,” jelasnya .

Saat berjualan sendiri, Ende dan Kus Wati menggunakan gerobak sederhana. Isinya terdiri dari bahan makanan, kompor untuk menggoreng tempe dan tahu sebagai lauk untuk nasi megono. Alih-alih mendapat dukungan, keduanya malah sempat dicibir oleh beberapa orang yang iseng.

“Ya tidak sedikit yang mencibir. Orang masih susah kok, gaya sodaqoh,” kata Ende sembari menirukan cibiran orang lain.

Dari momen itulah, suami istri tersebut semakin tercambuk untuk giat bersedekah. Mereka pun kerap membuka warungnya dari jam 06.00 hingga pukul 08.00. Khusus untuk mereka yang hendak sarapan pagi sebelum beraktifitas. Bahkan, dari gaya berbagi inilah yang akhirnya memperlancar usahanya.

“Alhamdulillah, berkah. Dapat rezeki pesanan. Beramal tidak perlu menjadi kaya dulu,” pungkasnya.

Pedagang nasi di atas memang hidup pas-pasan. Namun hal tersebut bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk berbagi. Terbukti, usaha keduanya semakin dilancarkan. Sesuai dengan pepatah, lebih baik tangan di atas dari pada di bawah.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.