Sabtu, 28 November 2020

Level Kritik Listrik

Level Kritik Listrik

Jogjakarta, Swamedium.com — Mengkritik itu lumrah. Justru tak normal jika dianggap ujaran kebencian.

Termasuk lumrah pula jika ada seorang pemuja berbalik mengkritik entitas yang biasa dipujanya.

Hanya saja, setiap kritik bisa dinilai bobot dan levelnya. Kritik seseorang menunjukkan kualitas dirinya.

Kritik karena kepentingan pribadi terusik, adalah kritik level hewani.

Mengkritik penyelenggara listrik karena tagihan pribadi mencekik adalah salah satu contohnya.

Betapa tidak? Hewanpun pasti melawan saat kepentingan perutnya terancam.

Ke dua adalah kritik level kemanusiaan. Pada level ini, seseorang mengkritik bukan semata karena kepentingan pribadinya semata. Tetapi karena kepeduliannya pada sesama.

Bisa jadi dia masih kuat membayar tagihan. Tapi dia tidak diam, karena tau bahwa di luar sana banyak rakyat kesusahan.

Level ke dua ini sudah cukup bagus. Tetapi masih ada yang di atasnya, yaitu level orang beriman.

Orang beriman adalah yang sadar bahwa manusia diciptakan untuk patuh pada seluruh aturan Sang Pencipta.

Ketika orang beriman melihat bahwa penguasa suatu negeri tak menerapkan Syari’at Sang Pencipta, maka dia pasti tidak akan berhenti mengkritik.

Orang beriman senantiasa akan menyeru agar Syari’at diterapkan oleh penguasa. Tak peduli siapapun dan dari partai apapun yang sedang berkuasa.

Orang beriman tidak mengkritik demi kepentingan perut sendiri. Orang beriman mengkritik karena kemungkaran masih tegak di bumi.

Kritik level ke tiga inilah yang akan membawa manusia pada kebaikan sejati. Kebaikan yang akan dirasakan semua manusia.

Landasannya karena niat patuh pada Allah ta’ala. Dampaknya membawa kebaikan bagi semua manusia, termasuk dirinya.

Nah, di level berapa kritik yang biasa anda utarakan? Level hewani? Level manusiawi? Atau orang beriman?

*Penulis: Doni Riw

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.