Senin, 03 Agustus 2020

Teror terhadap Jurnalis Terkait Diskusi ‘Diskriminasi Rasial di Papua’

Teror terhadap Jurnalis Terkait Diskusi ‘Diskriminasi Rasial di Papua’

Foto: Kerusuhan di Manokwari, ibu kota Papua Barat, Senin, 19 Agustus 2019. (ist)

Bandarlampung, Swamedium.com — Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung (Unila) menyampaikan sikapnya terkait aksi teror yang dilakukan orang tidak dikenal (OTK) terhadap Redaksi Teknokra sebagai penyelenggara Diskusi ‘Diskriminasi Rasial di Papua’.

“Kami mengutuk aksi teror dan peretasan kepada penyelenggara dan narasumber diskusi,” demikian isi poin pertama dari rilis yang diterima Swamedium, Kamis (11/6).

UKPM Teknokra meminta semua pihak untuk menghormati kebebasan berpendapat dan berekspresi, serta tidak melakukan aksi teror, ancaman, dan peretasan.

“Mendesak kepolisisan mengusut tuntas aksi teror dan peretasan terhadap jurnalis Teknokra dan meminta negara untuk menjamin kebebasan berpendapat dan berekspresi setiap warga negara,” tegas mereka.

Kronologis Teror

Rabu, 10 Juni 2020, sekitar pukul 13.00 WIB, Chairul Rahman Arif (Pemimpin Umum) mendapat telpon dari nomor tidak dikenal mengatasnamakan alumni Unila sebanyak 12 kali, ia menanyakan keberadaan tempat pengadaan diskusi tentang papua. Penelpon tidak menjelaskan identitas secara rinci.

Kemudian Chairul, meminta penelpon mengikuti acara seperti yang ada di pamflet. Bersamaan dengan itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Unila Prof. Yulianto meminta Chairul menemuinya.
Prof. Yulianto menyarankan untuk menunda diskusi atau menambah akademisi untuk ikut dalam diskusi. Namun, Teknokra tetap memilih diskusi dijalankan dengan narasumber yang ada dan akan mengadakan diskusi lanjutan.

Pukul 19.39, Mitha Setiani Asih (Pemimpin Redaksi) mendapatkan pesan kode OTP akun Gojek miliknya. Namun, mitha tidak terpikir akan mengalami peretasan. Tiba-tiba pesan WhatsApp masuk dari driver gojek “P”. Awalnya Mitha tidak menduga pesan itu dari gojek, ia mengira hanya nomor orang yang iseng. Telpon Mitha terus berdering ratusan kali dari driver gojek.

Sejak itu ia menyadari bahwa akun gojek-nya diretas. Saat mitha membuka aplikasi Gojek miliknya, puluhan pesanan gojek sudah muncul di fitur pesanan. Dan pesanan tersebut tidak bisa dibatalkan. Chat pesanan seolah-olah Mitha benar-benar memesan dengan kalimat “sesuai aplikasi ya bang”, bahkan chatnya pun menyarankan untuk menghubungi akun WhatsApp Mitha. Sampai sekitar pukul 21.47 WIB, akun gojek-nya terus memesan makanan dengan titik yang disebar di mana-mana. Sampai akhirnya mitha bisa menghubungi Call Center gojek untuk menutup akun gojeknya.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.