Jumat, 27 November 2020

Kesultanan Pontianak Resmi Laporkan Hendropriyono ke Polda Kalbar

Kesultanan Pontianak Resmi Laporkan Hendropriyono ke Polda Kalbar

Foto: Pangeran Sri Negara Kesultanan Pontianak, Syarif Mahmud Alkadrie melaporkan AM Hendropriyono ke Polda Kalbar.

Pontianak, Swamedium.com — Kesultanan Pontianak resmi melaporkan mantan kepala Badan Intelejen Negera (BIN) AM Hendropriyono ke Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalbar, Senin (15/6/2020) siang. Laporan itu buntut dari pernyataan Hendropriyono disebuah kanal Youtube yang menyebut Sultan Hamid II sebagai penghianat bangsa.

Laporan yang dilayangkan siang tadi, diwakili Pangeran Sri Negara Kesultanan Pontianak, Syarif Mahmud Alkadrie. Syarif Mahmud memboyong 23 pengacara dan melengkapi laporan dengan barang bukti pemeriksaan.

“Saya sudah membuat laporan ke Polda Kalbar dan saya mengucapkan terima kasih Kapolda dan jajaran yang langsung cepat merespon dan tadi saya sudah diperiksa,” kata Syarif Abdullah Alkadrie kepada wartawan, Senin (15/6/2020).

Selaku Pangeran Seri Negera Syarif Mahmud Alkadrie tidak terima dengan pernyataan Hendropriyono yang menyatakan bahwa Sultan Hamid II penghianat.

“Kami dan keluarga merasa sangat kecewa dan sangat mengecam pernyataan Hendropriyono,” ungkapnya.

Dirinya pun mempertanyakan apa dasar Hendropriyono mengeluarkan pernyataan bahwa Sultan Hamid II maupun dasar keturunan Arab penghianat.

“Ini sangat melukai hati kami,” akunya.

Apalagi, Hendropriyono merupakan pria kelahiran tahun 1945. Sehingga mana mungkin Hendropriyono yang usianya baru empat tahun bercerita sejarah 1949 sebagaimana video yang beredar. Untuk itulah, dia meminta pihak kepolisian membawa Hendropriyono ke meja hijau dan diproses seadil-adilnya. Apalagi, Sultan Hamid II adalah salah satu pejuang yang punya kontribusi besar bagi bangsa.

“Kami tidak menuntut apa-apa mau dijadikan pahlawan atau apa. Dia seorang Sultan Pontianak dan jasanya telah banyak untuk bangsa Indonesia. Kalau pun beliau tidak dinobatkan sebagai pahlawan nasional tapi masyarakat tahu siapa Sultan Hamid,” pungkasnya.

Dalam video tersebut Hendropriyono menyebutkan alasan mengapa Sultan Hamid II tidak layak dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Dia menyebut Sultan Hamid II bukan pejuang tapi penghianat bangsa.

“Tiap tahun kan ada pengusulan untuk menjadi pahlawan nasional, pada peringatan 17 Agustus, hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Akhir-akhir ini kan gencar sekali saya menerima WhatsApp, saya kira ini viral ya di media sosial tentang pengusulan Sultan Hamid II dari Pontianak sebagai pahlawan nasional,” kata Hendropriyono.

“Saya ingatkan kepada generasi penerus bangsa, para kaum muda, jangan sampai tersesat dengan suatu usaha politisasi sejarah bangsa kita. Karena Sultan Hamid II Alkadrie ini bukannya pejuang bangsa Indonesia,” jelas Hendropriyono.

Hendropriyono menjelaskan, definisi pahlawan nasional adalah orang yang merebut dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sementara Sultan Hamid II dinilainya tidak masuk kategori tersebut.

“Dia sama sekali bukan itu, dia justru adalah tentara KNIL (tentara Belanda di Indonesia) yang pro ke Belanda. Jadi tidak pro ke Indonesia. Dia bahkan pernah ditugaskan untuk memerangi kita (Indonesia),” papar Hendropriyono.

“Dia dulu tahun 1949 ketika Indonesia berdasarkan KMB menjadi negara Republik Indonesia Serikat. Pada tahun 1950 rakyat menginginkan Indonesia menjadi negara kesatuan, dia tidak happy. Dia tidak senang. Dia tetap ingin menjadi federalis, dia ingin tetap menjadi Sultan Pontianak,” ungkapnya.

Selain itu, Hendropriyono menyebut Sultan Hamid II pun telah berkompot dengan Westerling.

“Nah dia ketika ada petualangan seorang bekas kapten KNIL yang bernama Reymon Westerling dia berkomplot sama Westerling dan sering ketemu di Hotel Des Indes. Itu tempat bertemunya Sultan Hamid II berkali-kali dengan Kapten Westerling Belanda,” tutupnya. 

Sumber: insidepontianak

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.