Kamis, 21 Oktober 2021

Doa sebagai Sarana Menggapai Rida Allah

Doa sebagai Sarana Menggapai Rida Allah

Foto: Ustaz Bachtiar Nasir.

Jakarta, Swamedium.com — Sebagai hamba Allah, sudah seharusnya berdoa kepada-Nya. Dalam suatu hadits disebutkan bahwa Allah Marah kepada orang yang tidak mau memohon kepada-Nya. Sabda Nabi:

Banner Iklan Swamedium

إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi).

Dalam kitab “Mirqaat al-Mafaatih” (IV/1530), diterangkan alasan mengapa Allah sampai marah, karena tidak memohon, meminta atau berdoa kepada Allah merupakan bentuk kesombongan dan tak butuh kepada-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan marah di sini adalah hendak menimpakan sanksi kepadanya.

Jadi, marah Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu kalau kita tidak berdoa. Maka dari itu, orang yang terlalu bersandar pada ikhtiar keduniaan cenderung putus asa.. Tetapi bila diiringi dengan doa, dia cenderung sabar.

Sampai disini, rida Allah Subhanahu Ta’ala terletak pada permohonan kepada-Nya, bukan kepada ikhtiar dan takdir. Bagi kita yang sedang mencari rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala misalnya dengan berdoa, “Ya Allah, aku bermohon kepada Engkau, berikanlah aku rida-Mu!”

Mau rida nya Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah permulaan. Cinta, sebagian ulama mengatakan posisinya di tengah. Sedangkan yang paling tinggi adalah rida-Nya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Di mana letaknya rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Yaitu pada permohonan dan ketaatan kita kepada-Nya. Semakin kita banyak memohon dan banyak melakukan ketaatan, itulah cara paling hebat meraih rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bukan sekedar meeting, tinjau sana, tinjau sini, tanpa doa tidak akan mungkin..

Saya pernah bilang ke anak saya, “Nak! kalau kamu naik gunung, Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam menganjurkan membaca: Allahu Akbar. Kalau turun, ucapkan: Subhanallah Di situ ada malaikat gunung, dia akan menunjukkan jalanmu.”

Tanpa disadari, banyak anak gunung, mungkin tidak ada adab, banyak yang ketika pulang tiba-tiba malas kuliah, malas ibadah.. Ini kejadian di antara orang yang saya kenal. Orang yang buang air sembarangan, di satu tempat di gunung. Dipikir tidak ada orang. Hanya dia sendiri. Dikira tidak ada malaikat dan jin. Dia bisa ketempelan, bahkan bisa tersesat. Saya kira banyak kejadian yang tersesat, karena dia tidak paham.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, ketika masuk ke suatu tempat, tetap memberikan salam. Jadi misalnya, bagi pendaki gunung, sebelum Anda pasang tenda perlu mengucapkan salam sebagaimana riwayat Mujahid ini:

إِذَا دَخَلْتَ بَيْتًا لَيْسَ فِيهِ أَحَدٌ فَقُلْ: «بِسْمِ اللَّهِ , الْحَمْدُ لِلَّهِ , السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ»

“Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish-shalihiin (salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang shaleh)” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah).

Ketika ini dipraktikkan oleh anak saya, dia dapat kesan menarik. Ada temannya ketika naik gunung bersama, dia bilang, “Kok gue denger lu baca Allahu Akbar, pas gue pegangan lu, juga jadi ringan.”

Orang kalau sudah rida dan diridai Allah Subhanahu Wa Ta’ala hidupnya akan baik. Caranya dengan bermohon dan taat, terutama dalam aspek ibadah. Ini poin penting yang ingin menjadikan doanya sebagai sehebat-hebat ikhtiar. Kalau kita lihat hukum alam, musibah itu terkait dengan maksiat. Tetapi kebaikan itu terkait dengan rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala..

Ada petani, sebelum berkebun berkata, “Ya Allah aku mau menanam, kalau nanti aku panen, aku akan zakatkan 10% dari hasil panen ini.” Karena dia tahu, tidak pakai biaya produksi.. Kalau pakai, maka zakatnya 5 %.. Melihat ketaatan petani ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan malaikat awan untuk menurunkan hujan terbaik..

Salah satu pesantren kami di Purwakarta panen cabe bagus-bagus. Padahal saya kesana sebelumnya masih belajar. Belakangan saya lihat hasil panennya bagus-bagus. Terongnya besar-besar, cabenya itu bagus-bagus, timunnya juga besar-besar. Padahal tanahnya, ilmunya, itu-itu juga.

Ada yang menarik lagi. Ini belum saya cerita ke pesantren. Ada pembeli yang mau beli semua hasil panen. Inilah contoh kalau Allah Subhanahu Wa Ta’ala rida. Kita saja kalau di Jakarta yang dikirimi jadi obrolan dan orang pesantren saya itu, dia tidak promosi. Tapi ini menjadi omongan baik, karena saya yakin doanya baik.. Bahkan pembelinya pun berkata kepada saya, “Kalau nanti panen, ke saya ya Ustadz, saya yang beli.”

Saya bilang, “Silahkan datang saja. Kamu tau darimana?” “Sudahlah saya sudah tahu Ustadz”. Ya saya juga mikir, saya yang beli atau dia yang beli. Tapi kalau Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah rida, bukan karena usaha kita. Kebaikan akan berlapis kebaikan lagi. (*)

*Penulis: Ustaz Bachtiar Nasir

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita