Sabtu, 08 Agustus 2020

KOKAM Keluar Barak Kawal Keputusan PP Muhammadiyah Tolak RUU HIP

KOKAM Keluar Barak Kawal Keputusan PP Muhammadiyah Tolak RUU HIP

Foto: Aksi KOKAM di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Sabtu (20/6).

Jakarta, Swamedium.com — Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda (KOKAM) Pemuda Muhammadiyah keluar dari barak untuk memberi bukti dalam mengawal keputusan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang menolak rancangan undang-undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP).

PP Muhammadiyah telah mengeluarkan surat edaran yang berisi alasan bahwa RUU HIP tidak terlalu urgen dan tidak perlu dilanjutkan pembahasannya menjadi undang-undang. Selanjutnya Markas Besar KOKAM Nasional mengeluarkan memo yang berisi himbauan kepada KOKAM untuk mengawal keputusan PP Muhammadiyah. Memo ini juga menginstruksikan kepada KOKAM untuk membentuk Komando Kawal Keputusan PP Muhammadiyah.

Aksi pertama dari Komando Kawal Keputusan PP Muhammadiyah dari KOKAM DIY adalah mengikuti Aksi Anti RUU HIP yang diadakan oleh Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY. FUI merupakan gabungan ormas Islam di DIY. Aksi yang diadakan pada Sabtu (20/6) di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. KOKAM bersama ribuan umat Islam di DIY mengikuti demo ini dengan damai. 

KOKAM yang diwakili oleh Akhid Widi Rahmanto menegaskan bahwa TAP MPRS nomor XXV/MPRS/1966 yang berisi larangan terhadap Komunisme, Leninisme, dan Marxisme tidak dapat diabaikan dalam kehidupan politik berbangsa.

“Bahwa ada yang mau merubah Pancasila itu adalah orang yang tidak punya nilai sejarah, padahal nenek moyang mereka pernah mengatakan jasmerah. Tapi mereka sendiri yang melupakan sejarah,” kata Akhid dalam orasinya seperti dalam siaran pers yang diterima redaksi. 

Sekretaris Bidang KOKAM PP Pemuda Muhammadiyah Iwan Setiawan mengatakan Markas Besar KOKAM Nasional dalam mengawal Keputusan PP Muhammadiyah juga memberi alasan untuk menolak RUU HIP. “Mereduksi Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila juga menjadikan sejarah menjadi kabur,” ujarnya.

Menurutnya, Pancasila memang memang berasal dari ide Sukarno, tetapi perumusan menjadi Pancasila yang seperti sekarang ini dibahas oleh tim yang terdiri semua kelompok. “Sejarah perumusan Pancasila inilah yang mampu menyatukan bangsa Indonesia. Kalau Pancasila diperas dan dirubah menjadi trisila dan ekasila sejarah seperti ditarik ke masa lalu dan peranan tim perumus Pancasila menjadi tidak berarti,” ujarnya. 

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.