Minggu, 02 Agustus 2020

Akhiri Semester Pertama, Peserta SPI Bandung Kritisi Pemikiran Sosiolog

Akhiri Semester Pertama, Peserta SPI Bandung Kritisi Pemikiran Sosiolog

Foto: Akmal Sjafril, Kepala Sekolah Pemikiran Islam (SPI).

Bandung, Swamedium.com — Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung menutup perkuliahan semester pertama dengan diskusi literasi secara daring melalui aplikasi Zoom pada Kamis (2/7/2020).

Diskusi yang dipandu oleh Kepala SPI pusat, Akmal Sjafril ini membahas dan menelisik kekeliruan yang ada pada pernyataan-pernyataan Julia Indiati Suryakusuma, seorang sosiolog yang diwawancarai oleh Ulil Abshar Abdalla, salah seorang tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL).

Mengomentari hasil wawancara antara Yulia dengan Ulil, Akmal menyoroti sudut pandang Yulia sebagai seorang sosiolog saat membicarakan agama. Menurut Akmal, agama dan sosiologi adalah hal yang berbeda.

“Sosiologi membicarakan apa yang ada pada masyarakat, sementara agama bukan membahas apa yang ada, melainkan apa yang semestinya ada,” jelas Akmal.

Pada awal wawancara, Yulia mengaku tidak terlalu percaya pada agama, melainkan hanya mempercayai Tuhan. Sebab agama hanya wahana menuju Tuhan dan ia bisa sampai kepada Tuhan tanpa agama, karena Tuhannya itu sama saja dengan Tuhan yang lain, hanya penghayatannya saja yang berbeda.

Alwan, salah seorang peserta mengomentari, seseorang yang percaya Tuhan semestinya juga mempercayai agama.  Sebab Tuhan sudah pasti membawa sistem yang mengatur umat manusia, sehingga ada hal yang harus diikuti, yaitu agama. Akmal turut menambahkan, “narasumber mengartikan Tuhan sesuai prasangkanya sendiri, dengan argumennya adalah karena merasa sudah kesana kemari dalam pencariannya.” Menurut Akmal, orang yang berkata demikian kemungkinan belajar agamanya hanya kulitnya saja, tidak mendalam.

Menariknya, pada akhir wawancara, Yulia mengaku setiap pagi selama satu jam dan setiap ia merasa bingung, ia melakukan meditasi sebagai ritualnya. Baginya, “perjumpaan” dengan Tuhan itu setiap waktu, bukan terbatas lima waktu. Salah satu peserta diskusi, Fika Adelia mengomentari, “Di awal dia merendahkan agama, tetapi pada akhirnya dia kembali lagi pada metode-metode agama, yaitu meditasi. Jadi sedari tadi yang ia jelaskan hanya omong kosong,” tutur Fika. 

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.