Jumat, 27 November 2020

Srebrenica – Hagia Sophia

Srebrenica – Hagia Sophia

Foto: Pemimpin Turki, Recep Tayyip Erdoğan dengan latat belakang Hagia Sophia yang kembali menjadi Masjid

Jakarta, Swamedium.com — Tahun ini. Berhamburan di akhbar patik. 7 Juli. 25 tahun lalu terjadi genosida di Srebrenica yang menewaskan lebih dari 8.000 jiwa Muslim Bosnia. Barat, untuk sebagian besarnya, bungkam. Tak mau tahu ada tragedi mengenaskan dan paling mengerikan selepas Perang Dunia II.

10 Juli. Turki mencabut peraturan 1934 yang menjadikan Hagia Sophia sebagai museum dari awalnya masjid. Pencabutan berselisih 3 hari dari peringatan 25 tahun Tragedi genosida di Srebrenica, pada hari mulia, Jumat. Hagia Sophia bakal berfungsi lagi sebagai masjid, dan resmi dipergunakan 14 hari kemudian, masih para Jumat.

Jauh sebelum penetapan ini, Barat meradang.

“The issue of Hagia Sophia’s status is not an international matter but is a matter of national sovereignty for Turkey,” kata Mevlüt Çavuşoğlu, Menteri Luar Negeri Turki. Çavuşoğlu membidas radangan sebagian komunitas Barat jauh sebelum putusan 10 Juli. Barat lupa, seperti dikutip dari Daily Sabah, di Turki ada 435 gereja dan sinagog yang baik-baik saja.

“As with all other mosques, the doors of Hagia Sophia will be open to all, including Turkish citizens and tourists. We are planning to open Hagia Sophia Mosque for worship on July 24. Hagia Sophia is under Turkish jurisdiction. Any objection to our judiciary’s decision will be perceived as a breach of our sovereignty.” Recep Tayyip Erdoğan memantapkan putusan era kekuasaannya. Ini soal dalam negerinya, bukan soal internasional; soal kedaulatan negerinya, bukan urusan krusial kemanusiaan.

Retorika Erdoğan, dan pilihan berselang 3 hari dari 25 tahun Tragedi Tragedi genosida di Srebrenica jelas politis. Wajar dn perlu. Agar ada alternatif wacana komunikasi politik untuk mengingatkan Barat dalam bersikap konsisten. Mana skala penting dalam kemanusiaan. Urusan kemanusiaan mahapenting, bungkam; giliran simbol “usang”, meradang.

Turki layak pasang marwah. Memaki Barat yang menganut standar ganda. Dan di bawah rezim Erdoğan, bidasan telak dihunjamkan. “Ini urusan kedaulatan kami, apa urusan Anda?”

Sementara soal Srebrenica Barat bungkam, simbol agama para pembantai atau pelaku genosida: Hagia Sophia, ditentang sengit. Termasuk para penaqlid di sini. Hagia Sopihia dan Serbia adalah seporos dalam satu iman. Bukan tanpa timbangan matang bila Erdoğan bertindak menggertak seakan-akan tidak tahu kaidah merawat peninggalan lawas versi UNESCO.

3 hari yang penting. Bukan hanya pada kejadian kedua, yang di negeri ini banyak disambut panjatan doa dan sujud syukur. Ini tentang interteks pada dua kronik: tragedi “dibalas” tragedi. Bukankah Barat bercirikan menyukai tragedi dalam lakon hidupnya? Begitu kalau kita baca uraian mendalam Syed Naquib al-Attas. (*)

*Penulis: Yusuf Maulana (Kurator)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.