Senin, 03 Agustus 2020

Geram dengan RUU HIP, Chusnul Mariyah Sampaikan Surat Terbuka ke Megawati

Geram dengan RUU HIP, Chusnul Mariyah Sampaikan Surat Terbuka ke Megawati

Foto: Mantan Komisioner KPU yang juga Dosen Ilmu Politik, Chusnul Mariyah. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Pemerintah telah memutuskan menarik diri dari pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) di Badan Legislatif (Baleg) DPR, meski begitu RUU tersebut terus menuai polemik.

Masyarakat tidak ingin RUU hanya dihentikan pembahasannya. Mereka menuntut agar RUU usulan DPR ini dicabut dari program legislasi nasional (prolegnas). Gelombang aksi pun terjadi seantero negeri. Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari 34 provinsi seluruh Indonesia juga menolak RUU yang diprakarsai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu.

Terbaru, Dosen Politik FISIP-UI Chusnul Mariyah ikut bersuara. Dia menyampaikan surat terbuka yang ditujukan kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Surat itu berisi permintaan agar Megawati memerintahkan kader PDIP di DPR untuk membatalkan RUU HIP. Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu beralasan, RUU tersebut jelas-jelas akan mengubah Pancasila sebagai dasar negara menjadi ekasila.

Berikut isi lengkap surat terbuka Chusnul Mariyah untuk Megawati Soekarnoputri:

Depok, 12 Juli 2020

Surat Terbuka
Chusnul Mar’iyah, Ph.D
(FISIP- UI)

Yang Terhormat Ibu Megawati Soekarnoputri
Ketua Umum PDI Perjuangan

Assalamu’alaykum wr.wb.,

Ibu Megawati yang terhormat,
Semoga Ibu Megawati sehat walafiyat, dijauhkan dari musibah Pandemi Covid-19 ini. Saya menulis surat ini (sepertinya agak panjang) kepada Ibu Megawati dalam rangka meminta Ibu dapat memerintahkan ke petugas partai di eksekutif dan di DPR agar membatalkan RUU HIP. Karena ini bukti Pancasila diganti menjadi Eka Sila. Ibu Mega, adanya putusan MA itu legitimasi dan justifikasi dari kekuasaan pemerintah saat ini telah ambruk. Seluruh komponen Ummat Islam dan kelompok beragama lainnya bersatu menolak RUU HIP.

Berikut ini penjelasan saya, kenapa saya menulis surat ini kepada Ibu Mega. Pertama, sebagai sesama perempuan, seorang scholar dari negeri Maghribi (Marokko) Fatima Mernisi pernah menulis bahwa menulis surat ke penguasa lebih baik dibandingkan pergi ke salon untuk melakukan face lift. Saya ingin menyampaikan beberapa pandangan saya dalam perspektif perempuan tentang kekuasaan yang bersifat power to do, bukan power over yang lebih maskulin. Perempuan berkuasa itu lebih bicara tentang caring, mengayomi, melakukan sesuatu untuk anak bangsa sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Yaitu melindungi segenap tumpah darah Indonesia, mencerdaskan bangsa, mensejahterakan rakyat dan ikut dalam ketertiban dunia untuk perdamaian dan keadilan.

Pages: 1 2 3 4 5 6

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.