Kamis, 23 September 2021

Memakmurkan Masjid, Poros Istiqlal dan Aya Sofya

Memakmurkan Masjid, Poros Istiqlal dan Aya Sofya

Foto: Ustaz Fahmi Salim. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — MASJID Aya Sofya menjadi kebanggaan rakyat Turki, karena sebagai simbol penaklukan dan toleransi. Begitu pula, Masjid Istiqlal bagi umat Islam di Indonesia, merupakan simbol kemerdekaan. Meskipun memiliki aspek historisitas yang berbeda, keduanya disatukan dalam satu semangat ukhuwah islamiyyah untuk meninggikan izzah Islam.

Banner Iklan Swamedium

Bangsa kita ternyata memiliki ikatan historis dengan Turki, yang jejak kejayaan peradabannya dibangun pada era Turki Usmani. Saat itu, kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara selain memiliki hubungan perdagangan dengan Kesultanan Usmani, juga memiliki hubungan politik. Fakta sejarah membuktikan, seperti yang diakui oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Kongres Umat Islam ke-6 di Yogyakarta pada 2015, bahwa keraton masih menyimpan bendera hitam dari kiswah Ka’bah bertuliskan *_Laa Ilaaha Illalloh_* dan bendera bertuliskan *_Muhammad Rasul Alloh_* sebagai bukti perwakilan Kekhalifahan Turki Usmani di tanah Jawa.

Dalam sejarah peradaban Islam, pengaruh Turki Usmani begitu besar hinggi ke bumi nusantara. Begitu pula, moment sejarah dibukanya Aya Sofya menjadi masjid seharusnya menjadi energi yang memantik semangat kebangkitan umat, karena semuanya dimulai dari masjid. Sebagaimana Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam dahulu menjadikan masjid tidak sekedar untuk ibadah shalat, tapi menjadi pusat kajian ilmu dan peradaban. Di dalam masjid, Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabatnya untuk merumuskan strategi politik. Di masjid pula, rasululloh menerima para delegasi dari negeri lain.

Kesamaan semangat inilah, yang disampaikan dua tokoh umat, KH Fathurrahman Kamal Lc, M.Si, Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah dan Ust HM Jazir, ASP, Ketua Takmir Masjid Jogokariyan dalam acara Ngaji Syar’ie (NGESHARE) bareng UFS, “Ngaji Dulu, Alim Kemudian” yang mengangkat tema Memakmurkan Masjid, Poros Istiqlal dan Aya Sofya. Simak selengkapnya di link ini:

Ustadz Jazir begitu optimis kembalinya Aya Sofya menjadi masjid titik balik kejayaan Islam dalam percaturan dunia internasional. Karena, Alloh Ta’ala telah mempergilirkan sebuah kegemilangan dan kejayaan bagi bangsa-bangsa. Umat Islam dahulu pernah jaya, tapi kemudian mengalami kemunduran hingga saat ini. Kejayaan itu insyaaAlloh akan kembali diraih. Namun, bukan tanpa syarat. Semuanya harus kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Kemerdekaan yang kita raih adalah hasil perjuangan bangsa, terutama umat Islam yang dikomando para ulama dengan menggelorakan semangat jihad. Simbol kemerdekaan itu ditunjukan dengan berdirinya masjid Istiqlal, yang dibangun di atas bekas Taman Welhelmina dan benteng kuno Belanda. Bung Karno saat itu bersikukuh dengan sikapnya, mendirikan masjid Istiqlal di lokasi itu. “Benteng yang merupakan lambang penjajahan beradab-abad di Indonesia ini harus dibongkar betapapun jua sulit serta besar biayanya. Dan di atas bekas benteng penjajahan inilah kita bangun Masjid Istiqlal yang berarti merdeka atau kemerdekaan,” tegas Presiden Soekarno kala itu.

Masjid Istiqlal yang merupakan usulan para ulama ini letaknya berdampingan dengan Katedral yang dibangun lebih dulu pada masa penjajahan Belanda. Bisa ditafsirkan membawa pesan semangat persatuan dan toleransi. Namun, belajar toleransi, belajarlah pada Aya Sofya. Sebuah penaklukan biasanya menghalalkan segala cara, membantai, merampas kekayaan warga dan memaksakan agama, sebagaimana dahulu saat Andalusia ditaklukan pasukan salib. Namun, Sultan Al Fatih menunjukan sikap yang luhur, ia membeli Aya Sofya bekas gereja Kristen Ortodoks ini dengan harta pribaidnya dan ia wakafkan untuk umat Islam.

Karena itulah, menurut Ustadz Jazir, percikan api kebangkitan Aya Sofya mengembalikan komitmen tegaknya syariat Islam, yang digetarkan melalui Masjid Istiqlal. Memakmurkan masjid bagian dari tegaknya syariat Islam itu sendiri, Mereka yang memakmurkan masjid disebutkan dalam surat Attaubah ayat 18, “Sesungguhnya hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Masjid yang makmur tak cukup ditandai dengan fisik bangunan yang indah dan megah. Tapi, harus mampu menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan kaum muslimin. Setelah berhasil memobilisasi umat untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid, dilanjutkan dengan menyeru umat untuk memuliakan Islam, sebagaimana pesan dari kemerdekaan republik ini, atas berkat rahmat Alloh Ta’ala. Rahmat Alloh turun, ketika kita memasuki masjid dan berdoa untuk dibukakan pintu rahmat-Nya. Maka, dari pintu masjid inilah, menurut Ustadz Jazir kita menggedor pintu langit agar cita-cita kemerdekaan bisa tercapai.

Karena itulah, indikator keberkahan sebuah bangsa terletak pada optimalisasi fungsi masjid. Menurut KH Fathurrahman, Jika bangsa ini ingin tercerahkan, dihormati dan disegani di dunia, maka kembalilah kepada masjid. Disanalah, cahaya Alloh akan menaungi kita, simaklah firman Alloh dalam surat Annur ayat 36, yang artinya: “(Cahaya itu) di rumah-rumah yang disana telah diperintahkan Alloh untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang.”

Cahaya Alloh akan menerangi kesadaran kita dalam memandang kehidupan dunia. Kita tidak akan silau dengan gemerlap emas, tapi melupakan cahaya yang membuat kita bisa melihat emas. Bangsa ini akan dimuliakan Alloh, jika kita muliakan ayat-ayat-Nya. Penaklukan Konstantinopel, yang dilakukan Al Fatih merupakan bukti keberhasilan generasi yang takut kepada Allloh, sebuah generasi yang membangun peradabannya dengan kalimat tauhid.

Perjuangan ini sudah dirintis dan dilakukan para pendahulu bangsa ini. Bung Karno sudah menyadarinya, dengan membangun masjid Syuhada, yang artinya kemerdekaan tidak mungkin diraih tanpa ditebus oleh perjuangan para syuhada. Puncaknya adalah kemerdekaan diraih dengan simbolisme berdirinya Masjid Istiqlal, yang bermakna kemerdekaan. Bung Karno pun mendirikan sebuah masjid kecil di Istana Negara, bernama Baiturrahim, yang bermakna rumah penuh kasih sayang, yang menggambarkan cita-cita kemerdekaan bangsa ini. Untuk meraih cita-cita itu harus didukung dengan hadirnya sumber daya manusia yang hatinya dipenuhi iman dan cinta terhadap ilmu pengetahuan, yang disimbolisasikan dengan berdirinya Masjid Salman Al Farisi di Kampus ITB.

Umat Islam sudah mulai menyadari bahwa masjid tidak sekedar untuk pelaksanan ibadah shalat. Masjid harus difungsikan untuk pemberdayaan masyarakat, sebagaimana yang telah dilakukan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Ada sekitar 11 ribu masjid yang menjadi jejaring Masjid Jogokariyan, untuk memberdayakan badan usaha milik masjid. Sehingga, masjid bisa berfungsi menjadi kekuatan ekonomi dan jaring pengaman sosial. Karena itu, selama ada masjid, tidak boleh ada yang takut dengan kelaparan, atau keamanan dirinya.

Bahkan, masjid pula bisa menjadi sebab penghalang turunnya azab Alloh sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka (HR al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2946].

Begitu banyak keutamaan yang akan diraih orang yang memakmurkan masjid, antara lain disebutkan dalam sabda nabi
“Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani).

Semoga kita semakin dekat dan cinta dengan masjid kemudian memakmurkannya. Karena, kebangkitan umat ini bermula dari masjid.

Wallohu A’lam. (*)

*Penulis: Ustaz Fahmi Salim (Wakil Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah dan Komisi Dakwah MUI)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita