Sabtu, 08 Agustus 2020

ITJ: Kaum Feminis Penista Nabi Ibrahim as Tak Paham Sejarah

ITJ: Kaum Feminis Penista Nabi Ibrahim as Tak Paham Sejarah

Jakarta, Swamedium.com — Warganet di Tanah Air kembali dikejutkan dengan aksi-aksi kaum feminis radikal yang menistakan Nabi Ibrahim as tepat pada Hari Raya Idul Adha, Jum’at (31/07) silam. Sebuah cuitan dari akun Twitter @mubaadalah_news memuat sebuah infografis yang menggambarkan sebuah tafsir kontroversial seputar sejarah keluarga Nabi Ibrahim as.

Dalam infografis tersebut, dikisahkan bahwa Siti Hajar dinikahi Nabi Ibrahim as semata-mata untuk menjalankan fungsi reproduksi, sebab Nabi Ibrahim as tak kunjung mendapatkan anak dari istri pertamanya, Siti Sarah. Akan tetapi, ketika Sarah pada akhirnya melahirkan anak, yaitu Nabi Ishaq as, maka situasinya berubah. Infografis itu menyebutkan (cetak tebal sesuai teks aslinya):

Sayangnya, apa hendak dikata, ketika Ismail beranjak besar, Sarah melahirkan putra lainnya, Ishaq. Dengan kedatangan anaknya sendiri, Sarah merasa tersaingi dengan adanya Hajar dan Ismail. Keberadaan Ismail sendiri tentunya mengancam prospek Ishaq untuk mewarisi posisi ayahnya sebagai pemimpin.

Dengan demikian, diasingkanlah Hajar dan Ismail ke padang pasir. Ibrahim sendiri mengantarkan lalu meninggalkan mereka. Menghadapi situasi demikian, *Hajar dengan lantangnya berseru bahwa Allah akan memberikan petunjuk baginya dan putranya.

Tak lama, Ismail pun merasa kehausan. Hajar dengan semangat bertahan hidupnya berlari bolak-balik dari Safa menuju Marwa untuk mencari sumber air bagi anaknya. Tak disangka, ketika ia kembali kepada anaknya, Ismail (dan atau Jibril) mengorek pasir tandus yang kemudian mengalirkan air untuk diminum.

Infografis ini mendapatkan reaksi keras dari komunitas #IndonesiaTanpaJIL (ITJ). Lewinda Jotari, Muslimah pegiat ITJ dari Chapter Bandung, menganggap bahwa kaum feminis radikal yang membuat infografis tersebut telah melakukan kesalahan fatal dalam memahami sejarah.

“Ditinggalkannya Siti Hajar dan anaknya di Mekkah serta peristiwa berlari-larinya Siti Hajar di antara bukit Shafa dan Marwah itu terjadi ketika Nabi Isma’il ‘alaihissalaam masih bayi, sedangkan Nabi Ishaq ‘alaihissalaam lahir bertahun-tahun kemudian. Jadi mengapa Sarah harus merasa terancam anaknya yang belum lahir akan terancam oleh Nabi Isma’il ‘alaihissalaam ?,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Jota ini.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.