Rabu, 20 Oktober 2021

AHY dan Sandiaga: Indonesia Masuk Jurang Resesi

AHY dan Sandiaga: Indonesia Masuk Jurang Resesi

Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono main basket bareng.

Jakarta, Swamedium.com – Sejumlah tokoh dan lembaga meyakini Indonesia akan memasuki zona resesi. Baru-baru ini ramalan resesi datang dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan pengusaha yang juga mantan Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Banner Iklan Swamedium

AHY, yang juga merupakan putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meyakini Indonesia akan masuk jurang resesi. Dia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 akan minus 5% sampai 7%.

Jika kontraksi pada kuartal II-2020 terkontraksi begitu tajam, maka kata AHY pada kuartal III-2020, pertumbuhan ekonomi juga akan memburuk.

“Kita dipastikan resesi. Kuartal II-2020 itu pertumbuhan minus 5% sampai minus 7%. Demikian di kuartal III-2020 dan kuartal IV-2020 yang kalau berkelanjutan dampaknya akan buruk,” kata AHY dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV seperti dikutip CNBC Indonesia, Senin (3/8/2020).

Lebih lanjut, AHY mengatakan, dirinya bersama Partai Demokrat tidak akan berhenti untuk memberikan masukan dan kritik kepada pemerintahan, yang kaitannya dalam menyelamatkan pasien yang terpapar covid-19.

Menurut AHY, hal-hal yang harus diperbaiki di tengah pandemi saat ini, adalah menyelamatkan terlebih dahulu jiwa manusia dan kelangsungan hidup masyarakat.

Senada dengan AHY, Sandiaga juga meyakini resesi ekonomi akan menghampiri Indonesia. Resesi ini akan diawali oleh pengumuman BPS pada 5 Agutus 2020 tentang Pertumbuhan Ekonomi kuartal II-2020.

“Resesi sebentar lagi masuk Indonesia. Tanggal 5 Agustus akan ada pengumumannya,” ujar Sandiaga di laman Facebooknya.

“Ancaman resesi akan semakin nyata jika peningkatan jumlah kasus baru covid-19 tak bisa ditekan. Di kuartal II-2020 ini, saya prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi besar mengalami kontraksi bahkan hingga -6% jika sektor konsumsi belum pulih karena pelemahan daya beli masyarakat,” lanjutnya.

Mereka yang Prediksi Indonesia akan Resesi

Dalam proyeksi terbarunya, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia tidak tumbuh alias staganan atau tumbuh 0% pada tahun ini. Jika situasi memburuk, ekonomi sudah tentu akan mengalami kontraksi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan 0% dengan asumsi ekonomi global mengalami resesi cukup dalam dan pembatasan aktivitas masyarakat di dalam negeri dalam kadar yang moderat.

“Ekonomi Indonesia bisa saja memasuki resesi jika pembatasan sosial berlanjut pada kuartal III-2020 dan kuartal IV-2020 dan/atau resesi ekonomi dunia lebih parah dari perkiraan sebelumnya,” tulis laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juli 2020 yang berjudul The Long Road to Recovery.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kerap kali mengutarakan bahwa kondisi ekonomi dunia saat ini tidak mudah. Hampir seluruh pertumbuhan ekonomi di seluruh negara, tidak ada yang mampu mencatatkan pertumbuhan positif.

“Bayangkan isinya hanya minus dalam posisi yang gede-gede pada [proyeksi] September itu [kuartal III]. Kita Indonesia di kuartal I masih plus, sebelumnya plus 5 persen, kuartal II kita akan jatuh minus 4,3, mungkin 5 persen,” tegas Jokowi.

Pernyataan Jokowi memang tidak secara gamblang menyebutkan Indonesia akan memasuki jurang resesi, seiring dengan pertumbuhan ekonomi negara tetangga yang sudah lebih dulu masuk ke ‘lubang hitam’ tersebut.

Namun, tidak sedikit yang percaya Indonesia dalam waktu yang tidak akan lama akan memasuki resesi.

Kajian Tengah Tahun Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut, pandemi yang terjadi di awal 2020 menjadi batu sandungan yang terjal bagi pemulihan ekonomi global.

Hasil kalkulasi Indef menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh negatif pada kuartal II-2020 dan memasukii zona resesi pada triwulan III-2020.

“Pada triwulan II-2020 ekonomi diproyeksi tumbuh negatif di kisaran -3,26 persen (skenario sedang) hingga -3,88 persen (skenario berat),” tulis Kajian Tengah Tahun Indef.

Perhitungan Indef dilakukan dengan menggunakan model CGE (Computable General Equilibrium) yang didekati dengan dua skenario implikasi, yaitu skenario sedang dan berat.

Skenario sedang didefinisikan sebagai skenario kebijakan penanganan wabah Covid-19 lebih dari lima bulan dengan realisasi alokasi stimulus fiskal Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) lebih besar dari 30%, dan skenario berat didefinisikan sebagai skenario penanganan wabah Covid-19 terjadi lebih dari 5 bulan dengan realisasi alokasi stimulus fiskal PEN lebih kecil dari 30%.

Indef melihat, pada triwulan III-2020, ancaman pertumbuhan ekonomi negatif juga masih membayangi perekonomian Indonesia.

“Hal ini terlihat dari proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berpotensi negatif di kisaran -1,3% (skenario sedang) hingga -1,75% (skenario berat). Waspada dan siap siaga memitigasi kemungkinan resesi ekonomi menjadi pilihan kebijakan yang tidak terelakkan,” tulis Indef.

Belum lama ini, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu juga meramal, ada kemungkinan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III juga negatif.

Febrio mengaku pemerintah saat ini sedang bekerja keras agar pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 tidak terkontraksi seperti proyeksi pada kuartal II yang kemungkinan pertumbuhan ekonominya akan minus 2% sampai 4,3%.

“Saat ini kita masih punya peluang tidak masuk resesi. Kalaupun resesi, harapannya tidak terlalu dalam berada 0% atau mungkin sedikit di bawah 0%,” kata Febrio dalam konferensi pers virtual, Jumat (24/7/2020).

Salah satu kerja keras yang akan dilakukan pemerintah, kata dia, adalah dengan percepatan penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat, yang ada di dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Sumber: Detik

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita