Senin, 28 September 2020

Diskusi Online SPI: Hasil Karya Peserta Melampaui Ekspektasi

Diskusi Online SPI: Hasil Karya Peserta Melampaui Ekspektasi

Foto: Dalam perang pemikiran, menurut Akmal, orang belum tentu merasakan keadaan perang karena yang diserang bukan fisik. Meski demikian, umat Muslim dituntut untuk peka akan keadaannya dan selalu siap. (spi)

Bandung, Swamedium.com – Akhir semester pertama Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung Angkatan 6 ditutup dengan agenda diskusi online via aplikasi Zoom pada akhir Juli lalu. Diskusi kelompok yang menghasilkan karya tulis tersebut langsung dibimbing oleh pengurus dan menjadi salah satu indikator kelulusan peserta. Aditya Firman Ihsan, salah seorang pembimbing memberikan apresiasinya kepada anggota kelompok. Menurut Adit, hasil diskusi mereka melebihi ekspektasinya.

“Mereka mengerjakannya lebih dari apa yang saya ekspektasikan. Inisiatif dan semangatnya sangat tinggi. Awalnya saya mengira mereka hanya akan membuat tulisan dua sampai lima halaman saja. Tetapi ketika H-1, mereka mampu mengerjakan hingga 25 halaman. Sebagian besar anggota kelompok pun ikut terlibat sehingga proses pengerjaan karya tulisnya berjalan lancar”, terang Adit (1/8).

Lebih lanjut Adit mengungkapkan bahwa kemampuan literasi dalam menulis adalah kemampuan yang langka pada saat sekarang, karena banyak intelektual yang sebenarnya memiliki pengetahuan tinggi dan akalnya bagus namun jarang sekali menulis. Menurutnya, kadang yang dibutuhkan seseorang ketika belajar hanyalah petunjuk jalan, setelahnya mereka akan jalan sendiri dan menemukan tujuannya.

“Misalnya tema yang dibawakan kelompok yang saya bimbing adalah tentang teori konspirasi. Berhubung salah satu anggotanya adalah mahasiswa psikologi, saya dorong ia untuk menggali lebih dalam fenomena konspirasi dari segi psikologis. Awalnya ia bingung karena belum pernah mendengar sisi psikologisnya. Tapi akhirnya tetap berusaha mencari lebih jauh tentang itu dan menghasilkan penjelasan yang sangat bagus”, ujar Adit yang saat ini juga tengah menempuh pendidikan doktor di ITB.

Miftahul Firdaus, salah seorang peserta yang membawakan tema tentang Worldview, turut memberikan komentarnya terkait diskusi online tersebut. “Diskusinya berkesan, namun karena dilaksanakan secara online jadinya ada kendala-kendala yang tidak bisa dihindarkan. Misalkan, susah berkoordinasi dalam penyiapan materi, hingga kadang tidak semua anggota kelompok bisa ikut meeting. Selain itu, mungkin pengurus juga perlu membagikan resume kepada audiens, sehingga bisa memancing pertanyaan sebelum presentasi kelompok dimulai. Namun secara keseluruhan bagus sih”, tutup Miftahul. (Diva Oktaviani/jurnalis warga)

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.