Selasa, 29 September 2020

Kasus Ike Muti, Pemimpin Sejati Itu Memaafkan

Kasus Ike Muti, Pemimpin Sejati Itu Memaafkan

Foto: Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan

Jakarta, Swamedium.com — Dalam keluarga, ayah adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Sekaligus menjadi suami yang baik bagi istri, atau istri-istrinya.

Jangan tanya soal kasih sayang. Seluruh usaha sang ayah didedikasikan untuk masa depan anak-anaknya. Semua kerja kerasnya dimotivasi oleh semangat agar anak-anak itu kelak jadi orang-orang yang sukses.

Dalam keluarga, anak punya dunia dan karakternya masing-masing. Ada yang nurut, bengal, bahkan tak sedikit yang menyusahkan. Apakah sang ayah marah? Tidak. Kasih sayang sang ayah tak pernah berkurang, apalagi luntur oleh kebengalan sang anak.

Sedang sujud dalam shalat, anak naik ke punggung. Ayah bersabar, dan tak pernah punya niat untuk membanting tubuh sang anak. Sedang baca buku atau menulis, sang anak masuk kamar dan bawa mobil-mobilan. Tarik-tarik baju dan ajak sang ayah untuk bermain. Sang ayah marah? Tidak. Sedang kecapean, anak-anak minta ditemani ke mall. Abaikan rasa capek, ambil kunci mobil, lalu antar anak-anaknya ke mall. Sekedar menemani makan atau beli baju.

Setidaknya, ini pengalaman saya pribadi. Saya yakin semua ayah mengalami hal yang sama. Dan mereka semua bersabar. Kenapa? Karena mereka punya cinta.

Inilah gambaran seorang pemimpin sejati. Sabar, memahami dan memaafkan. Jika anda gak sanggup mengerti dan memaafkan anak-anak anda, janganlah jadi ayah. Kasihan mereka. Akan menjadi korban atas egoisme anda.

Keluarga adalah kelompok sosial paling sederhana. Dan ayah merepresentasikan seorang pemimpin dalam kelompok sosial tersebut. Jujur, tampil bersahaja, sabar dan tetap merangkul anak-anak dengan rengkuhan penuh cinta dan kasih sayang.

Leadership seorang ayah mesti menjadi contoh bagi semua pemimpin. Terutama mereka yang diberi amanah memimpin rakyat. Cinta dan kasih sayang mesti menjadi semangat dalam memimpin. Tanpa cinta dan kasih sayang, seorang pemimpin sulit untuk bersabar, bisa memahami dan mampu memaafkan rakyatnya. Bagaimana seorang pemimpin bisa memahami dan memaafkan rakyatnya jika tak ada cinta dan kasih sayang di hatinya.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.