Senin, 28 September 2020

Khilafah dalam Timbangan Historia dan Yustisia: Sebuah Kejujuran Intelektual

Khilafah dalam Timbangan Historia dan Yustisia: Sebuah Kejujuran Intelektual

Ikrar Wakaf Habib Abdurrahman ibn Alwi Al Habsyi atas tanah dan bangunan kepada Mahkamah Syari'ah Makkah Al Mukarramah Kekhilafahan Utsmaniyah pada 18 Rabiul Akhir 1224 H/1809 M.

Semarang, Swamedium.com — Nomenkaltur khilafah dewasa ini tiba-tiba menjadi perbincangan hangat di negeri yang 87,19% penduduknya memeluk agama Islam ini. Seolah khilafah merupakan istilah baru dan asing di telinga dan pikiran umat Islam. Padahal sejak 1500 tahun yang lalu khilafah itu merupakan ide Alloh yang melandasi dan menjamin sang khalifah Alloh menjalankan misinya yaitu memakmurkan bumi sebagaimana Alloh berfirman dalam Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 30. Jadi, khilafah adalah ide agungnya Alloh. Lalu, mengapa sebagian besar dari kita sekarang tidak setujukah dengan ide Sang Maha Agung ini?

Prinsip yang seharusnya dipegang oleh segenap intelektual muslim adalah bahwa seorang khalifah tidak mungkin dapat menjalankan syariat Alloh dalam rangka memakmurkan bumi jika tidak mengikuti hukum Alloh baik yang bersumber Al Quran, Hadits dan Itjihad para ulama. Apa kesalahan umat Islam sehingga banyak di antaranya merasa asing, terasing dan mengasingkan diri sehingga pemikirannya terhadap khilafah menjadi “kleru” yang berakhir pada sikap menolak bahkan memusuhi khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam. Untuk itulah, di artikel pendek ini, saya perlu sedikit membahas tentang khilafah dari perspektif historia dan yustisia khususnya dari hukum tata negara dan hukum pidana.

A. Aspek Historia: Memahami Sejarah Bangsa Secara Benar

Belajar untuk konsisten dengan prinsip negara demokrasi memang sulit. Kendatipun telah “makan bangku” sekolah puluhan tahun belum tentu juga mampu meningkatkan daya analisis dan “critical thinking” seseorang. Di samping itu pemahaman seseorang bagaimana sejarah bangsanya perlu diperbaiki. Kita harus banyak membaca bagaimana perkembangan “day to day”, “week per week”, hingga tahun ke tahun bangsa ini tumbuh dan berkembang. Indonesia ada bukan turun dari langit, tiba-tiba NKRI ada tanpa proses yang melatarbelakangi.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.