Selasa, 26 Januari 2021

Randy Iqbal: Generasi Muda Kita Dalam Bahaya!

Randy Iqbal: Generasi Muda Kita Dalam Bahaya!

Randy Iqbal, Koordinator Pusat #IndonesiaTanpaJIL (Korpus ITJ) yang terpilih pada Silatnas IV di Yogyakarta, Februari 2020 silam.

Jakarta, Swamedium.com — Tantangan untuk generasi muda Indonesia dirasa semakin berat. Itulah yang dinyatakan oleh Randy Iqbal, Koordinator Pusat #IndonesiaTanpaJIL (Korpus ITJ) pada Selasa (4/8) ketika diwawancarai melalui aplikasi Whatsapp. Menurut Randy, dekadensi moral terjadi di mana-mana, sebagai akibat dari meluasnya paham liberalisme di tengah-tengah masyarakat.

Banner Iklan Swamedium

Munculnya kasus Gilang dengan ‘fetish kain jarik’ telah berhasil mengusik kenyamanan banyak pihak dan menyadarkan masyarakat akan besarnya kerusakan yang telah menimpa generasi harapan bangsa.

“Kasus bungkus-membungkus ala Gilang itu adalah contoh betapa dekadensi moral telah menjadi permasalahan besar bagi bangsa ini,” ungkap ayah dua anak ini.

Liberalisme telah menjadi prinsip yang dipegang oleh sebagian kalangan, sehingga ia dianggap lebih penting ketimbang agama itu sendiri.

“Propaganda kebebasan dapat ditemukan di mana-mana. Seorang muslimah yang melabeli dirinya sebagai ‘womanpreneur’ bahkan dengan sengaja menggelar sebuah acara live melalui akun Instagram-nya untuk mempropagandakan pentingnya pacaran sebelum menikah,” papar Randy yang telah lebih dulu dikenal sebagai anak band sebelum akhirnya hijrah dan aktif dalam komunitas ITJ ini.

Pandangan Randy didukung oleh Andri Oktavianas, Koordinator Chapter (Korchap) ITJ Bandung. Menurut Andri, keadaan saat ini sangat berbeda dengan di masa lampau, karena kebenaran kini seolah sudah terbolak-balik.

“Yang sakit dianggap normal, yang normal malah dikatakan sakit. Jika Anda menolak LGBT, maka Anda akan diberi predikat ‘homofobia’. Fobia itu sendiri adalah sebuah penyakit yang mesti didahului oleh diagnosa tersendiri, tapi malah dijadikan alat serangan karena tak sanggup berargumen. Memang sebenarnya tidak ada argumen yang bisa digunakan untuk mengatakan bahwa LGBT itu normal,” ujar Andri.

Para pembela kebebasan itu sendiri nampaknya tidak peduli ketika penyimpangan-penyimpangan yang mereka bela-bela itu berujung pada malapetaka.

“Ketika ketua komunitas gay Tulungagung ditangkap karena mencabuli banyak bocah, mereka diam seribu bahasa,” tandas Andri lagi.

Dalam waktu beberapa hari belakangan ini, dua kasus penyimpangan seksual menjadi buah bibir di Tanah Air, terutama di kalangan netizen. Setelah kasus fetish Gilang di Surabaya, muncul pula kasus ‘dosen swinger’ di Yogyakarta.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita