Selasa, 29 September 2020

#IndonesiaTanpaJIL: Pancasila Tidak Cocok dengan Sekularisme

#IndonesiaTanpaJIL: Pancasila Tidak Cocok dengan Sekularisme

Pertemuan perdana Kelas Sejarah Islam dan Pancasila ITJ dihadiri oleh sekitar seratus orang peserta dari berbagai daerah.

Jakarta, Swamedium.com — Kelas Sejarah Islam dan Pancasila #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) menggelar kelas perdananya pada Jumat (7/8) malam. Narasumber yang diberi kepercayaan untuk membuka kelas daring ini adalah Dr. Tiar Anwar Bachtiar yang membawakan tema “Lahirnya Pancasila yang Kita Kenal Sekarang”.

Saat menjelaskan proses lahirnya Pancasila, Tiar menegaskan bahwa Pancasila adalah hasil dari gentle agreement bapak-bapak Bangsa, yang sudah barang tentu termasuk di antaranya adalah tokoh-tokoh Islam.

“Kesepakatan ini tentu saja harus dirawat dan dijaga baik-baik. Tidak ada kelompok yang boleh mengklaim Pancasila sebagai miliknya sendiri, apalagi membentur-benturkannya dengan kelompok lain demi kepentingan politiknya sendiri,” ungkap doktor sejarah jebolan Universitas Indonesia (UI) ini.

Di antara tokoh-tokoh yang merumuskan Pancasila dan membangun fondasi dasar republik ini adalah juga para tokoh Islam. “Persatuan di antara para ulama, Kyai, tokoh pesantren, serta kaum nasionalis lainnya itulah yang kemudian terwujud dalam bentuk dasar negara kita, yaitu Pancasila,” ungkap Tiar lagi.

Menurut Tiar, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasil menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memang tidak memiliki tabiat sekuler, sehingga Ketuhanan harus diletakkan pada posisi yang tertinggi. Hal ini dibenarkan oleh Akmal Sjafril, kandidat doktor Ilmu Sejarah yang juga merupakan salah seorang pegiat ITJ.

“Pancasila yang diusulkan oleh Soekarno pada Sidang BPUPKI 1 Juni 1945 lebih memperlihatkan konstruksi berpikir yang sekuler, yaitu dengan menempatkan aspek Ketuhanan pada sila terakhir. Kenyataannya, struktur yang demikian justru kemudian tidak disepakati dan direvisi, sehingga menghasilkan Pancasila seperti yang kita kenal sekarang,” ungkap Akmal.

Penempatan Ketuhanan Yang Maha Esa pada posisi teratas memiliki konsekuensi yang jelas. “Seperti kata Buya Hamka, sila tersebut adalah akar tunggangnya Pancasila. Artinya, kalau mau menafsirkan keempat ayat sesudahnya, harus berlandaskan ayat pertama itu. Kemanusiaan dan persatuan, misalnya, tidak bisa dimaknai tanpa Ketuhanan. jadi, kemanusiaan yang dibicarakan oleh bangsa Indonesia adalah kemanusiaan yang tidak bertentangan dengan Ketuhanan,” tandasnya lagi.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.