Selasa, 01 Desember 2020

Tertunduk Lesu di Minus Lima Koma Tiga Puluh Dua

Tertunduk Lesu di Minus Lima Koma Tiga Puluh Dua

Foto: M Rizal Fadillah. (ist)

Bandung, Swamedium.com — Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II ini diumumkan Presiden pada angka minus 5,32 persen. Nah tertunduk lesu pak Jokowi yang awalnya pernah hingar bingar mengkampanyekan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan segera “meroket”. Pengumuman saat rapat terbatas Kabinet Indonesia Maju tersebut dinilai sebagai kegagalan dan frustrasi Pemerintah.

Rilis BPS soal pertumbuhan ekonomi tentu memukul Presiden dan jajaran kabinet terutama penanggungjawab bidang ekonomi. Jika Presiden Jokowi marah-marah lagi maka itu tak lain adalah ia yang sedang memarahi dirinya sendiri. Rakyat juga sedang menanti waktu untuk memarahi Presiden yang tak becus ini.

Menkeu Sri Mulyani di depan anggota DPR memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal II ini adalah minus 3,5 hingga minus 5,1 persen dengan rentang tengah minus 4,3 persen. Nyatanya justru menjadi minus 5,32 %. Rupanya meroket ke bawah alias nyungsep itu meluncur tak tertahankan. Diprediksi kuartal III dan IV masih terus minus.

Negara mengalami resesi ekonomi bukan semata akibat covid 19, tetapi sebelumnya juga pergerakan ekonomi sudah mengarah pada resesi. Pelambatan ekonomi menyebabkan banyak perusahaan tutup, artinya PHK. Berakibat pada daya beli yang menurun. Investasi yang bermasalah termasuk pasar keuangan karena menurun nilai suatu portofolio atau aset seperti saham.

Kurs dollar tidak akan stabil dan tentu berpengaruh pada ekspor impor. Tingkat suku bunga tinggi yang dapat meningkatkan inflasi. Sebagaimana kekhawatiran para pengamat ekonomi, bahwa pertumbuhan yang terus menurun dapat berujung pada depresi ekonomi. Kepercayaan masyarakat terhadap masa depan menjadi hilang.

Tertunduk lesunya bapak Jokowi saat sidang terbatas akibat pertumbuhan ekonomi kuartal II yang minus lima koma tiga puluh dua persen ini jangan-jangan tanda-tanda depresi. Publik masih akan menunggu pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2020 besok. Siap-siap menilai “pertanggungjawaban” kenegaraan atas kondisi politik, ekonomi, hukum, dan lainnya. Resesi membuat depresi kah ?

Jika rakyat telah melihat negara ini masuk fase depresi, maka tak ada harapan untuk masa depan. Pilihanpun hanya tinggal dua bagi para penyelenggara negara yaitu mundur atau dimundurkan.
Rakyat dan bangsa Indonesia tidak boleh tertekan dan putus asa, tetapi harus terus hidup dan bergerak. Artinya absolut berganti dengan suasana baru.

*Penulis: M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.