Sabtu, 28 November 2020

Ulama dan Kegemaran Membaca

Ulama dan Kegemaran Membaca

Foto Nuim Hidayat, Ketua Dewan Dakwah Depok tengah mengajarkan teknis menulis berita dan reportasi kepada remaja masjid di Masjid Nurul Huda Jl Sudirman No817 Bandung, Sabtu (23/9). (Ariesmen/swamedium)

Solo, Swamedium.com — Selasa malam lalu (11/8) saya kebetulan pergi ke Solo. Sudah lama saya ingin menjumpai kawan saya, Ustadz Naufal baru kesampaian malam itu. Ia adalah tangan kanan pemilik penerbit Arafah.

Penerbit Arafah saat ini sedang melesat. Selain menerbitkan buku, ia juga membuat toko buku, toko herbal, kafe dan lain-lain dalam satu gedung bertingkat. Gedung itu juga dilengkapi dengan masjid, tempat pertemuan, kamar penginapan dan lain-lain.

Toko Buku Arafah ini termasuk toko buku Islam terbesar di Solo. Cukup lengkap buku-buku yang ada di sana. Mulai dari buku aqidah, fiqh, sejarah, tasawuf, keluarga, anak dan lain-lain.

Ketika menengok toko buku itu, aku ketemu buku yang sudah lama aku cari. Yaitu tentang kebiasaan membaca para ulama. Setelah berputar-putar aku beli tiga buku : Gila Baca Ala Ulama, Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar dan Adab Guru dan Murid.

Dalam kesempatan ini saya akan menulis secara ringkas buku Gila Baca Ala Ulama karya ulama Timur Tengah, Ali bin Muhammad al Imran.

Buku ini sangat bagus untuk membangkirkan motivasi membaca bagi para pemuda. Penulis mengawalinya dengan uraian perintah kepada Nabi saw agar meminta tambahan ilmu, kisah Nabi Musa minta tambahan ilmu, potret sahabat dalam mencari ilmu dan lain-lain.

Ibnu Qayyim mengatakan,”Kerinduan para penuntut ilmu terhadap ilmu itu lebih besar daripada kerinduan seseorang terhadap kekasihnya. Kebanyakan mereka tidak terpesona dengan keelokan fisik manusia.” Ia juga menyatakan,”Seandaianya ilmu itu bisa digambarkan, tentu ia lebih indah daripada matahari dan bulan.”

Ibnu Mas’ud sangat tekun dalam mencari ilmu. Ia berkata,”Demi Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Tidak ada satupun surat Al Quran yang diturunkan melainkan aku mengetahui dimana aku diturunkan. Tidak ada satupun ayat al Quran diturunkan kecuali aku mengetahui kepada siapa diturunkan. Seandainya aku tahu ada orang yang lebih mengetahui al Quran selain diriku, sedangkan untaku mampu menjangkaunya, niscaya akan kukendarai kesana.”

Ada sosok Jabir bin Abdullah al Anshari. Ia menempuh perjalanan dari Madinah hingga Mesir selama sebulan dengan mengendarai unta untuk mendengarkan satu hadits. Dia khawati meninggal sebelum mendengar hadits tersebut.

Dalam bukunya Adabud Dunya wad Din, Al Mawardi menasihati muridnya,”Jangan pernah puas dengan ilmu yang telah engkau ketahui. Sebab perasaan puas seperti itu menunjukkan kurangnya perhatian terhadap ilmu. Kurangnya perhatian terhadap ilmu akan mendorong seseorang meninggalkan ilmu. Apabila seseorang meninggalkan ilmu, maka diapun menjadi bodoh.”

Ketika Imam Ahmad bin Hambal ditanya,”Sampai kapan mencari ilmu?” Ia menjawab,” Sejak bisa menulis sampai masuk ke liang kubur.”

Dalam biografi Abul Wafa’ bin Aqil al Hanbali (w.513H) ia berkata,”Saya dapati kesungguhanku terhadap ilmu pada usia 80 tahun lebih kuat disbanding pada usia 20 tahun.”

Ulama yang terkenal, Abul Faraj Ibnul Jauzi (w. 597H) di akhir usianya (80 tahun), ia belajar Qiraah Asyrah kepada Ibnul Baqilani bersama anaknya, Yusuf. Adz Dzahabi mengomentari Ibnul Jauzi,” Perhatikanlah semangat yang tinggi ini.”

Imam Syafii menyatakan,”Ilmu itu hanya akan didapat dengan enam hal: kecerdasan, ketamakan (terhadap ilmu), kesungguhan, harta, bimbingan guru dan dalam waktu yang panjang.”

Al Jahizh dalam al Hayawan, mengatakan,”Barangsiapa yang ketika membeli buku tidak merasa nikmat melebihi nikmatnya membelanjakan harta untuk orang yang dicintai, atau untuk mendirikan bangunan, berarti dia belum mencintai ilmu.”

Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm (w.456H) menyebutkan pilar-pilar penopang ilmu dalam Risalah Maratib al Ulum. Diantaranya adalah,”Memperbanyak buku. Sebab tidak ada buku yang tidak bermanfaat dan tidak menambah ilmu yang bisa diperoleh seseorang, apabila dia memang membutuhkannya. Orang tidak akan mampu menghafal semua ilmu yang pernah dipelajarinya. Apabila kenyataannya demikian, maka buku menjadi sarana penyimpan ilmu paling baik baginya. Seandainya tidak ada buku, tentu hilanglah banyak ilmu dan tidak akan terpelihara. Disinilah kesalahan orang yang mencela upaya memperbanyak buku. Kalau saja pendapatnya itu dituruti, niscaya lenyaplah banyak ilmu. Kemudian orang-orang bodoh memaksa umat manusia untuk melenyapkan ilmu dan mendakwakan hawa nafsu mereka. Kalau saja tidak ada bukti dan kesaksian dari buku, pastilah klaim orang alim dan orang jahil akan dipandang sama.”

Ibnu Duraid (w. 321H) menyatakan,” Semua ini adalah tempat rekreasi mata, lalu manakah jatah rekreasi hati kalian?” Kami pun menanyakan hal tersebut,”Wahai Abu Bakr, apa yang anda maksud dengan rekreasi hati?” Ibnu Duraid menjawab,”Yaitu membaca kitab Uyun al Akhbar karya al Qutbi, az Zahrah karya Ibnu Dawud dan Qalaq al Musytaq karya Ibnu Abi Thahir.”

Syaikh Muhammad Khalil al Harras berkata,”Ibnu Taimiyah adalah orang yang berpandangan tajam. Jiwanya selalu ingin mengetahui. Dia tidak pernah kenyang menelaah ilmu, tidak letih belajar dan tidak berhenti mengkaji. Meskipun mengetahui banyak hal, Ibnu Taimiyah tetap mencurahkan jiwa dan keinginannya untuk ilmu. Sampai-sampai dia tidak berhenti mengkaji dan menyusun kitab sepanjang hidupnya, baik ketika di Syam maupun Mesir dan ketika dipenjara maupun di rumah. Bahkan dia terjatuh sakit dan sedih ketika musuh-musuhnya menyingkirkan buku dan tulisan dari sisinya pada masa akhir hidupnya.”

Dalam kitabnya Shaid al Khatir, Ibnul Jauzi menceritakan dirinya,”Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang belum pernah aku lihat, aku seolah-olah mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat katalog buku-buku wakaf di Madrasah an Nidhamiyah yang terdiri dari 6000 jilid buku. Aku juga melihat katalog buku Abu Hanifah, al Humaidi, Abdul Wahab bin Mashir dan yang terakhir Abu Muhammad bin Khasyab. Aku pernah membaca semua buku tersebut serta buku lainnya. Aku pernah membaca 200.000 jilid buku lebih. Sampai sekarang aku masih mencari ilmu.”Ibnul Jauzi menasihati pencari ilmu,”Sebaiknya kamu mempunyai tempat khusus di rumahmu untuk menyendiri. Di sana kamu bisa membaca lembaran-lembaran bukumu dan menikmati indahnya petualangan fikiranmu.”

Ibnu Rajab al Hanbali menukil pernyataan Ibnu Aqil (w. 513H) berkenaan dengan dirinya,”Aku berusaha membatasi seminimal mungkin waktu makanku. Sampai-sampai aku lebih menyukai makan roti kering yang dicelupkan ke dalam air agar mudah dicerna dan dikunyah, daripada memakan roti biasa. Hal itu kulakukan agar waktu membacaku lebih banyak sehingga bisa menulis ilmu yang belum kuketahui.”

As Sakhawi dalam bukunya adh Dhau’ al Lami menegaskan profil singkat ahli bahasa, Imam Muhammad bin Ya’qub Fairuz Abadi (w.817H) bahwa ia menyeleksi buku-bukunya yang berharga. Sebagaimana sebagian orang pernah mendengarnya berkata,”Aku telah membeli berbagai buku seharga 50.000 mitsqal emas. Meski buku-buku itu harus diangkutnya, ia tetap membawanya ketika bepergian. Setiap ia singgah di suatu tempat, tak lupa ia keluarkan buku-buku itu untuk dibaca. Dan apabila hendak melanjutkan perjalanannya, ia pun menaruh buku-buku tersebut ke tempatnya semula.” (*)

*Penulis: Nuim Hidayat (Ketua DDII Depok)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.