Selasa, 29 September 2020

Bersepeda di Tol, Anies Tetap Merawat Akal Sehat

Bersepeda di Tol, Anies Tetap Merawat Akal Sehat

Eep Saefullah Fatah

Jakarta, Swamedium com — Respon terbaik yang bisa saya berikan untuk tulisan Eko Kuntadhi (“Pembunuhan Berencana Para Goweser”) adalah mengkonfirmasikan langsung ke Gubernur: Bernarkah Gubernur menulis surat ke Menteri PUPR meminta izin sebagian ruas jalan tol digunakan pesepeda seperti yang Eko tulis? Benarkah Gubenur begitu mudah kehilangan akal sehatnya dengan membiarkan para pesepeda menjadi korban kendaraan-kendaraan roda empat berkecepatan tinggi di dalam jalan tol, di dekat mereka?

Inilah jawaban yang saya terima, saya rumuskan ulang:

– Benar Gubernur Jakarta berkirim surat tapi dengan isi yang sama sekali berbeda dengan yang diimajinasikan Eko.

– Jalan toll yang diminta dijadikan tempat berkegiatan bersepeda adalah jalan layang toll di atas Jalan DI Panjaitan – Ahmad Yani (dulu disebut sebagai by-pass).

– Waktunya adalah setiap hari Minggu pukul 06-09 pagi. Dan selama tiga jam itu, jalan layang toll itu ditutup total untuk kendaraan roda empat. Jadi, tak terjadi percampuran antara kendaaraan berkecepatan tinggi dengan para pesepeda.

– Jalan layang toll itu dibuat untuk mengatasi kemacetan jalan DI Panjaitan – Ahmad Yani. Berbasis riset, hari Minggu pagi (jam 06-09) tak ada kemacetan di ruas jalan di bawah jalan layang toll itu.

– Gubernur ingin memberikan kesempatan kepada anak Jakarta, warga Jakarta bersepeda di atas, menyaksikan kotanya dari ketinggian di bawah terang sinar matahari yang baru terbit dari arah timur.

– Semua proses ke arah itu dijalani dengan proses governance yang terjaga, yang benar. Sejumlah pihak yang terkait pun sudah menyatakan persetujuan bahkan dukungan mereka.

Alhamdulillah, kawan saya Anies Baswedan ternyata tetap merawat akal sehatnya.

Sebagai kawan, kewajiban moral saya bukan mendukung apapun langkahnya sebagai pejabat publik. Kewajiban terpokok saya justru menentang dan mencoba meluruskannya. Alhamdulillah ternyata tak ada yang harus saya tentang dan luruskan dalam kasus “bersepeda di jalan toll” ini.

Pages: 1 2

Related posts

5 Comments

  1. Anonim

    Kenapa harus di toll dan hari minggu pak??? ga cukup jalan protokol dibuat car free day?? harus sampai ke jalan tol segala dibuat car free day?? ga sekalian aja pak setiap hari minggu, semua ruas jalan ntah protokol, toll, jorr, ring road semua dibuat aja car free day, biar puas.. seharian klo perlu, org sejakarta klo mau jalan keluar rumah hari minggu pakai sepeda aja.. diskriminatif amat sesama pengguna kendaraan lain.. motor aja ga segitunya minta prioritas.. harus sampe masuk jalan toll, krn peruntukannya memang jalan tol bukan untuk kendaraan roda 2 koq

    Reply
  2. Anonim

    Miris lihat paparannya eep ini. Kalau hanya sekedar mau cari sensasi sunset or sunrise gak penting juga nangkring di tol itu pesepeda. Setiap fasilitas publik dibuat sesuai dgn kegunaannya masing2. Bisa gak cari alternatif yg tdk melanggar aturan kalo niat akomodir. Monumen Nasional jadi sirkuit sementara,
    trotoar jadi tempat berdagang, Percuma sekolah anda tinggi kalo cari solusi seperti seorang pandir. Ini apa kalo bukan pandir membela pandir?

    Reply

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.