Jumat, 27 November 2020

Secercah Iman untuk Anakku

Secercah Iman untuk Anakku

Bogor, Swamedium.com — Tak jarang kita mendengar orang tua mengeluh,”Aduh gimana sih menanamkan nilai-nilai baik pada anak zaman now? Susah banget sih ngebilanginnya. Udah dibilangin berkali-kali, tapi nggak berubah-ubah!”

Salahkah anak-anak kita??! Yahh…jangan dulu buru-buru menyalahkan mereka. Mungkin ada hal-hal yang terlupakan oleh kita sebagai orang tua.

Sering kita bisa total di pekerjaan, tapi ketika pulang ke rumah, bertemu suami dan anak-anak, sudah habis energi kita…sudah nggak bisa beramah tamah lagi sebagaimana yang kita lakukan di kantor ketika bertemu teman kerja atau bertemu kolega, bertemu atasan, dan lain-lain. Parahnya lagi, kelelahan malah mengakibatkan kita jadi suka marah-marah…ngomel-ngomel…akhirnya kedekatan hatipun hilang. Giliran anak kita nggak bisa diatur, nggak nurut, kita jadi panik.

Dari parenting-parenting nabawiyah, dari nasihat-nasihat ulama, kita tahu penyebab pertama kepanikan itu adalah minimnya figur dalam mendidik anak. Dengan kata lain, kita sebagai manusia sekarang ini sudah kehilangan sosok, role model yang mestinya kita agungkan yaitu nabi kita sendiri.

Kita mengaku cinta padanya (Rasululloh), sampai mana cinta itu, sedalam apa cinta itu, kita tak tahu lagi. Meski sebenarnya bisa diukur dengan pertanyaan sederhana… yaitu, seberapa besar kita mengenal nasabnya(misalnya)?

Padahal kalau yang namanya cinta, harusnya kita tahu tentang semua yang kita cintai itu. Bahkan sampai ukuran sandalnya juga tahu.(

Di Al Qur’an sebenarnya sudah tertera teladan kita yaitu uswah hasanah. Uswah hasanah di dalam Qur’an itu disebutkan 3 kali. Yang pertama, di Quran Surat Al Ahzab ayat 21. Di situ disebutkan adalah Muhammad saw. Kemudian diulang uswah hasanah lagi di surat al Mumtahanah, di situ disebut dua kali. Di ayat 4 dan ayat 6. Kedua ayat itu tentang Nabi Ibrahim.

Harusnya sebagai ummat muslim kita nggak kekurangan role model atau figur. Bayangkan jumlah nabi kita saja ada berapa? Jika kita mempelajari khusus tentang hal ini, ada124.000 itu jumlah nabi. Kemudian 313 diantaranya itu rasul. Itu kan lebih dari cukup walaupun yang wajib kita ketahui hanya 25. Masih disaring lagi, ada 2 yang menjadi uswah hasanah kita yaitu Nabi Muhammad dan nabi Ibrahim. Mereka teladan yang harus kita ikuti.

Keduanya dalam shalawatpun kita sebut. Jadi memang wajar kalau nama mereka berdua dinobatkan atau disematkan dalam shalawat kita yang kita sebut juga dalam setiap sholat kita.

Mereka berdua ini spesial diantara nabi-nabi yang lain. Nabi Ibrahim itu telah melahirkan sosok nabi Ismail yang begitu taat, padahal bertemunya nabi Ibrahim dengan nabi Ismail itu cuma 4 kali, itu yang ada dalam Al Qur’an. Dikisahkan pertemuan pertama saat nabi Ismail masih belia. Sekalinya bertemu nabi Ibrahim mengabarkan mau menyembelihnya. Kalau beliau orang biasa tentunya meraasa takut. Bapak nggak pernah bertemu, ditinggal sejak lahir, nggak pernah kenal, datang pertama kali, mau menyembelih.

Kedatangan kedua memang disengaja. Tugas seorang ayah untuk menguji menantunya. Kenapa? Ya kalau kita amati lagi jarak antara Palestine (waktu itu nabi Ibrahim tinggal di Palestina bersama istrinya Sarah) sengaja datang ke Mekkah bertemu Ismail. Apa iya? Kan jaraknya jauh sekali. Ternyata tujuannya memang bukan menemui Ismail. Kalau memang ingin bertemu Ismail, pasti ditunggu sampai Ismail datang, ternyata tidak. Nabi Ibrahim langsung pulang. Hanya menguji menantunya. Pertemuan yang kedua ini ia berpesan pada nabi Ismail untuk menceraikan istrinya.

Pertemuan yang ketiga, kembali menguji menantunya (saat itu nabi Ismail sudah menikah lagi), dan nabi Ibrahim menyuruh nabi Ismail untuk mempertahankan istrinya.

Dan pertemuan yang keempat, nabi Ibrahim mengajak nabi Ismail membangun Ka’bah. Empat pertemuan, tapi semua perintah yang disampaikan ayahnya ditaati. Bahkan di pertemuan yang kedua dan ketiga tadi, diminta untuk menceraikan dan tidak menceraikan istrinya, itu dituruti. Artinya, anak sampai hafal gaya bahasa ayahnya walau hanya 4 kali bertemu. Sementara anak zaman now, meski setiap hari bertemu, tapi anak nggak paham-paham juga. Bahkan kita sampai dengan nada tinggipun anak malah menjauh.

Pasti ada yang spesial hingga Nabi Ibrahim yang hanya empat kali bertemu, terbentuklah Ismail yang taat. Belum lagi tentang nabi Muhammad dengan level yang berbeda kenapa Allah sebutkan inilah teladan kita yang mestinya kita telisik yang kalau kita baca sejarahnya sudah hampir 15 abad kan Islam ini nggak habis temanya bahkan bertambah.

Dan tema-temanya nggak akan pernah habis untuk dibahas. Karena memang beliau adalah nabi terakhir nabi yang sampai hari kiamat akan terus menjadi inspirasi dan menjadi teladan bagi kita.

Jadi kalau kita ingin tahu seperti apa menanamkan iman kepada anak, sebenarnya dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad visi-nya kan sama, yaitu iman. Kita mesti sama dengan manhaj mereka, bagaimana para nabi dan rasul mencontohkan konsepnya. Nggak bisa kita bikin konsep baru.

Salah satu contohnya yaitu tentang Huzaifah yang bercerita saat itu ia dibonceng Rasulullah pada usia antara 10 – 11 tahun tapi yang disampaikan Rasul padanya, tentang keimanan. (Hadits-nya, silahkan search). Anak umur 10 tahun diajak bicara tentang keimanan. Sementara anak zaman now usia 16 tahun saja belum tentu paham.

Sangatlah wajar jika ketika itu bunda Aisyah istri Rasulullah di usia 9 tahun sudah luar biasa. Jadi tidak bisa kita asal membandingkan beliau dengan anak sekarang hanya dengan faktor usia saja tanpa kita membaca bagaimana sejarah mencatat kualitas keimanan beliau. Harusnya orang tua zaman now yang mengingingkan anaknya nikah muda, perhatikan dahulu keimanan anak kita. Bisa saja sihh…kalau level iman bapaknya seperti Abu Bakar. Atau seperti Fatimah putri Rasulullah yang menikah di usia antara 10 – 12 tahunan. Sehingga mereka tidak mubazir umurnya. Tapi kebanyakan kita saat ini menginginkan anak menikah muda tanpa membekali ruhiyahnya dengan keimanan. Hanya untuk status sosial belaka. Atau yang tak ingin anaknya cepat menikah, malah menghina wanita-wanita mulia di masa Rasulullah yang menikah muda, padahal level keimanannya saja berbeda. Kebanyakan yaa….tidak generalisasi. Mungin ada yang tidak seperti itu.

Itulah tadi teladan kita Nabi Muhammad dan nabi Ibrahim. Kalau kita salah mengambil teladan, itu berbahaya. Sifat manusia, kalau sudah kagum pada seseorang, pasti apapun akan diikuti. Nggak sadar terjajah malah mengikuti yang menjajah. Cara berpakaian, gaya bicara, gaya berjalan, pola pikir itu pasti mengikuti yang dikagumi. Kalau kita salah mengagumi orang ya udah kelar hidup ini. Mau diarahkan kemana juga, jelas ngikut saja. Maka, panutan kita harus benar.

Penyebab kedua kepanikan itu adalah kurangnya ilmu. Nah ini penting. Sekarang kan trendnya itu hafal Al Qur’an. Ini hal yang bagus tentunya, namun perlu kita telusuri sejarah. Jangan sampai kita mengulangi sejarah yang salah. Hal seperti ini telah terjadi sebelumnya. Suatu hari Jundub bin Abdillah, ia berkata,”Kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al Qur’an.” (HR Ibnu Majah, no. 61. Al Hafidz Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Artinya, para sahabat kecil pada saat itu mempelajari iman dulu baru Al Qur’an, lalu sahabat kecil itupun mempelajari dan menghafal Al Qur’an sehingga keimanan mereka bertambah. Mempelajari Al Qur’an jadi lebih bermanfaat jika dibekali iman yang shahih.

Kalau mau menanamkan iman, untuk langsung aplikasinya bisa dimulai dari ayat-ayat Makkiyah. Ayat-ayat Makkiyah itu yang turun sebelum hijrah. Modelnya berbeda dengan ayat-ayat yang setelah hijrah. Di situlah penanaman iman sehingga kader-kader ring satunya Rasululloh itu adalah 10 sahabat yang masuk surga itu. Mereka itu bukan orang biasa. Mereka adalah rata-rata dari muhajirin (yang sebelum hijrah tentunya). Sebelum itu mereka dikader sedemikian rupa oleh Rasulullah, sehingga jadilah mereka. Dan penanaman keimanan itu terus diwariskan sampai ke anak-anaknya. Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, itu kan mercu suar ilmu.

Sangat wajar jika terulang sejarah yang sama dimana orang belajar Al Qur’an tapi nggak ngerti konteksnya apa, terus arahnya kemana. Padahal Al Qur’an itu kan mukjizat. Hurufnya saja mukjizat. Perkata, perhuruf, semua mukjizat. Kita akan sangat terkagum-kagum kalau kita tahu bahwa Al Qur’an itu sangat mukjiat. Al Qur’an bukan kitab biasa.

Contoh dalam surat Yusuf ayat 4. Ketika Yusuf berkata pada ayahnya…tentang mimpinya….dalam ayat tersebut kata Asy Syam untuk menyatakan ayahnya wal Qomar untuk menyatakan ibunya… Kenapa Allah tidak langsung saja menyatakan abi wa umi. Ternyata kemukjizatannya di situ. Kenapa ayah dimajaskan Asy Syam, apakah Asy Syam itu? Salah satu konsep kita tadaburi adalah fungsi matahari berbeda dengan fungsi bulan.

Kalau matahari nggak bisa terus selalu menerangi bumi. Tapi bulan kan ada. Tugasnya berbeda. Matahari sebagai ayah ya tugasnya sebagai ke ayahannya. Itulah contoh kemukjizatan ayat.

Tugas ayah dan ibu kan pasti beda. Kalau dibalik atau disamakan ya nggak bisa. Nanti hasilnya akan beda. Kalau kita pakai sandal yag kiri ke kanan yang kanan ke kiri itu hasilnya akan beda. Yang kanan pakailah di kanan yang kiri pakailah di kiri supaya nggak jadi aneh.

Saat ini kita sudah jauh dari Al Qur’an kita. Kita sudah nggak kagum lagi. Kalau dulu al hafidz itu hafal Quran sudah beserta sanadnya, mungkit qiro’at setelah itu hafal 100.000 hadits beserta sanadnya. Sekarang al hafidz sudah turun derajadnya hanya untuk orang yang hafal Qur’an. Ini berarti kemunduran peradaban. Bukti kita sudah jauh. Standar itu dulu ditetapkan oleh kesepakatan ulama.

Kalau dikatakan kita akrab dengan Al Qur’an, seperti apa keakraban itu? Yang menjadi safaat itu kan membersamai bukan membacanya saja. Sahabat itu kan membersamai al Qur’an terus. Membersamai bukan dibawa doank. Kemana-mana bawa Qur’an dikalungi…nggak gitu. Perintah tadabur juga ada jelas di situ. Dan kita sebagai muslim kan nggak boleh bodoh-bodoh amat. Kita sepakat tidak ada orang yang terlahir bodoh cuma nggak sadar saja. Yang menghilangkan kesadaran itu jelaslah syetan. Tapi meskipun kita mengalahkan syetan ya kita jangan dekat-dekat syetan.

Syetan memberi nasehat sangat halus nggak pernah terasa oleh kita bahwa dia musuh. Tapi jangan sampai kita menganggap sahabat yang suka menasihati secara halus itu syetan. Ini cuma pendekatan saja supaya paham. Itu poin yang kedua. Intinya kita sudah terlalu jauh meninggalkan panduan kita yaitu Al Qur’an. Padahal Al Qur’an adalah hujjah, petunjuk. Bagi yang mengerti petunjuk, pasti akan terus mencarinya.

Sekarang, kita malah nggak buka hp, gelisah. Tapi kalau nggak buka Al Qur’an, biasa saja. Faktanya begitu. Harusnya literatur pertama dari sekian banyak tulisan ilmiah itu ya Al Qur’an. Karena ilmu cabang apapun nggak ada yang seperti Al Qur’an. Yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Al Qur’an dan hadits diwariskan oleh ulama, dengan cara ini ilmu bisa dipertanggungjawabkan, yaitu dengan cara sanad. Islam sangan intens di ilmu persanadan sehingga sangat bisa dipertanggungjawabkan. Kalau kita jauhn dari literatur ini (Al Qur’an). semakin butalah kita. Bagaimana kita bisa melihat sentuhan Rasul kepada sahabat-sahabat, itu kan dipersiapkan Allah nggak main-main. Kita milih kades saja nggak main-main, apa lagi untuk memilih teladan kita dalam visi yang rahmatan lil alamain. Pilihannya harus tepat. Rasulullah sudah meninggalkan bahan baku untuk dikelola sehingga ummatnya nggak jauh dari ajarannya makanya kalau kita salah anut ya habislah sudah.

Dua nabi ini diangkat oleh Allah untuk menjadi teladan kita. Kalau teladan kita ini kita lewati hingga yang kita teladani pakar-pakar tanpa sanad, kita ambil semua ilmu pendidikan anak dari yang tidak disyari’atkan, itu akan menjadi bahaya.

Bukan kita anti ilmu barat. Nanti dulu…yang seperti apa? Ini masalah menanamkan keimanan. Karena Rasulullah sudah berpesan,”Ketika datang orang fasik membawa suatu kabar harus diklarifikasi.” Untuk keimanan, kita kan nggak kekurangan figur kenapa kog harus cari figur-figur yang di luar konteks? Rasul berkata,”Sebaik-baik masa adalah masaku.” Artinya, semua masa ada di sini. Solusi apapun ada di sini. Tinggal kita mau berkaca pada sejarah atau nggak. Jadi nggak menolak ilmu karena semua ilmu itu dari Allah. yang ditolak yang bertentangan dengan syariat saja.

Artinya sebagai muslimin kita disuruh iqro’. Kita krisis iqro’. Padahal sejak awal turun firman itu kan disuruh baca. Tapi bagaimana kualitas bacaan kita? boro-boro menginginkan anak suka membaca, kebanyakan dari kita saja sudah malas membaca. Wong yang dipelototi itu adalah layar tapi isinya bukan bacaan, malah mainan. Ini mungkin kritikan lagi untuk kita yang ingin menanamkan keimanan pada anak kita. Akhirnya kita mentok kemana-mana.

Iman nggak akan tertanam kalau banyak mengikuti godaan. Itu PR kita sebagai orang tua. Peran orang tua dalam menanamkan keimanan ini nggak akan bisa digantikan oleh siapapun.

Gurupun seperti itu. Guru nggak akan bisa menggantikan peran orang tua. Tetap akhirnya orang tua yang harus merubah, kalau mau anaknya berubah. Terutama sekali, ibu.

Kalau kita lihat ya…Imam Syafii yatim, Rasulul kitapun yatim dan banyak lagi yang kehilangan ayah tapi nggak kehilangan ibu. Dan mereka pada jadi tuh keimanannya.

Menurut fakta ulama, rata-rata ulama, Imam Bukhori, Iimam Syafii, semua ulama besar itu nggak punya ayah alias yatim diwaktu kecil. Jadi sosok ibu itu luar biasa dalam menanamkan keimanan pada anak. (*)

*Penulis: Diana (Praktisi Pendidikan dan Talents Mapping)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.