Kamis, 24 September 2020

Tak Perlu Diluruskan, Memang Begitulah Puan Melihat Orang Minang

Tak Perlu Diluruskan, Memang Begitulah Puan Melihat Orang Minang

Foto: Asyari Usman. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Nasi sudah menjadi bubur. Tak perlulah diolah-olah lagi supaya kembali menjadi nasi. Percuma. Di mata Puan, orang Minang tidak menerapkan Pancasila.

Itulah thesis asli Puan Maharani tentang orang Minang yang selama ini kosisten menolak PDIP. Itulah pandangan Puan. Begitulah yang ada di pikiran dia. Jadi, tidak perlu diusahakan untuk memoles-moles ucapan asli itu.

Puan mengatakan, “…Semoga Sumbar mendukung negara Pancasila.” Mau ditafsirkan oleh ahli bahasa mana pun, kalimat ini mengandung arti tunggal bahwa orang Minang tidak berpancasila.

Untuk apalagi dilurus-luruskan. Ditafsir-tafsirkan. Memang itulah yang dimaksudkan Puan.

Dan harap diingat. Puan mengucapkan itu dalam konteks yang khusus. Yaitu, ketika dia memberikan sambutan melepas para calon kepala daerah dari PDIP untuk pilkada 2020 di Sumatera Barat (Sumbar). Dari sini, sangat ‘valid’ disimpulkan bahwa, bagi Puan, hanya orang PDIP-lah yang memahami dan menerapkan Pancasila. Orang lain tidak.

Padahal, kalau dicermati langkah-langkah PDIP untuk mengubah Pancasila menjadi Trisila dan kemudian Ekasila, jelas sekali bahwa Partai Banteng sudah lama ingin melenyapkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Yaitu, sila yang paling kental mewarnai sikap dan tindak-tanduk orang Minang.

Sekarang, orang-orang PDIP sibuk menukangi ucapan Puan yang sangat berbisa itu. Mereka mencari-carikan alasan, mengklarifikasi, dsb. Sia-sia. Damage has been done. Sudah terlanjur perasaan orang Minang luka parah. Semakin dilurus-luruskan, bertambah meruyak nanti luka perasaan itu.

Lebih baik Puan tampil ke depan. Minta maaf secara terbuka. Akui kesilapan. Selesai. Perkara nanti orang Minang melestarikan thesis Puan itu, apa boleh buat. Itulah risiko PDIP mencurigai orang lain. Itulah akibat keinginan pimpinan PDIP agar partai mereka itu unggul di mana-mana. Termasuk di Sumatera Barat (Sumbar).

Keinginan itu menyebabkan pimpinan Banteng menganggap orang Minang yang tidak menerima PDIP sebagai musuh. Tidak hanya musuh partai tapi sekaligus mereka anggap sebagai musuh negara. Musuh negara itu antara lain adalah orang yang tidak berpancasila. Cocok dengan ucapan Puan.

Tidak ada salahnya orang PDIP ramai-ramai turun tangan untuk menyelamatkan Puan. Boleh-boleh saja barisan politisi senior PDIP mencoba meluruskan ucapan Puan itu. Silakan saja.

Cuma, semakin Anda belok-belokkan peristiwa naas ini ke mana-mana, akan semakin parah. Anda terlihat arogan. Angkuh. Tidak mau meminta maaf. Merasa diri sempurna.

Bisa juga nanti publik melihat PDIP sok kuasa. Mentang-mentang punya kekuasaan besar. Seenaknya saja terhadap orang lain yang tidak mendukung.

Kalu Anda tetap merasa tak bersalah, merasa Puan tidak melukai orang Minang, terserah saja. Tidak ada masalah. Sebab, catatan sejarah tentang peranan orang Minang cukup lengkap. Tak bisa dihapus. Mereka ikut merumuskan Pancasila, mereka mengamalkan dan merawatnya. (*)

*Penulis: Asyari Usman (wartawan senior)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.