Minggu, 25 Oktober 2020

Islam dan Pancasila

Islam dan Pancasila

Foto Nuim Hidayat, Ketua Dewan Dakwah Depok tengah mengajarkan teknis menulis berita dan reportasi kepada remaja masjid di Masjid Nurul Huda Jl Sudirman No817 Bandung, Sabtu (23/9). (Ariesmen/swamedium)

Depok, Swamedium.com — Cendekiawan Islam, Dr Adian Husaini menerbitkan buku terbarunya berjudul Islam dan Pancasila. Buku aktual yang merupakan kumpulan artikel pilihannya ini menarik untuk dicermati. Apalagi di tengah-tengah perdebatan radikalisme, pancasilaisasi, RUU HIP dan lain-lain.

Seorang tokoh komunis Indonesia, Ir Sakirman, pernah berpidato dalam Majlis Konstituante dan mengakui bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) memang menginginkan agar sila Ketuhanan Yang Maha Esa diganti dengan sila “Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan Hidup.” Dalam Sidang Majlis Konstituante tanggal 28 November 1957 tokoh PKI, Nyoto menyatakan,”Pancasila itu bersegi banyak, dan berpihak kemana-mana.”

Ucapan Nyoto itu diprotes oleh tokoh Islam Kasman Singodimedjo dalam pidatonya di majlis yang sama, pada tanggal 2 Desember 1957. Kasman berkomentar,”Itu artinya dan menurut kehendak dan tafsiran PKI, bahwa Pancasila itu dapat dan boleh saja bersegi ateis dan politeis pun dapat/boleh saja berpihak ke syaitan dan neraka.”

Mantan Wakil Kepala BIN, As’ad Said Ali menulis dalam bukunya, Negara Pancasila (hlm. 170-171), bahwa munculnya semangat para tokoh Islam untuk memperjuangkan Islam sebagai dasar negara dalam Majlis Konstituante antara lain juga didorong oleh masuknya kekuatan komunis (melalui PKI) ke dalam pendukung Pancasila.

“Kalangan Islam langsung curiga. Muncul kekhawatiran Pancasila akan dipolitisasi oleh kelompok-kelompok komunis untuk selanjutnya diminimalisasi dimensi religiusitasnya. Kekhawatiran tersebut semakin mengkristal karena adanya peluang perubahan konstitusi sehubungan UUDS mengamanatkan perlunya dibentuk Majelis Konstituante yang bertugas merumuskan UUD yang definitif,”
tulis As’ad dalam bukunya tersebut.

Dalam bukunya ini, Dr Adian banyak mengutip tokoh-tokoh Masyumi dan NU dalam menafsirkan dan menelusuri sejarah Pancasila. Mohammad Natsir misalnya menyatakan,”Dalam pangkuan Al Quran, Pancasila akan hidup subur. Satu dengan yang lain tidak apriori bertentangan, tapi tidak pula identik (sama)…Tapi ini tidak berarti bahwa Pancasila itu sudah identic atau meliputi semua ajaran-ajaran Islam. Pancasila memang mengandung tujuan-tujuan Islam, tetapi Pancasila itu bukanlah berarti Islam. Kita berkeyakinan yang tak akan kunjung kering, bahwa di atas tanah dan iklim Islam lah Pancasila akan hidup subur.”
Tentang Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang ditafsirkan berbagai macam oleh kalangan komunis dan non Islam, Dr Adian menyatakan bahwa para ulama telah sepakat bahwa sila pertama ini bermakna tauhid. Tokoh NU, KH Achmad Siddiq dalam satu makalahnya yang berjudul Hubungan Agama dan Pancasila menulis,”Kata “Yang Maha Esa” pada sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) merupakan imbangan tujuh kata yang dihapus dari sila pertama menurut rumusan semula. Pergantian ini dapat diterima dengan pengertian bahwa kata Yang Maha Esa merupakan penegasan dari sila Ketuhanan, sehingga rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan pengertian tauhid (monoteisme murni) menurut akidah Islamiyah (surat al Ikhlash). Kalau pa pemeluk agama lain dapat menerimanya, maka kita bersyukur dan berdoa.”

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.