Selasa, 29 September 2020

Amuk Orang Gila, Apakah By Design?

Amuk Orang Gila, Apakah By Design?

Ada pertanyaan lagi: Kenapa orang gila itu muncul saat ada kegaduhan politik? Adakah hubungannya dengan pressure MUI dan Umat kepada penguasa? Atau ini hanya peristiwa kebetulan saja? Namanya juga bertanya, sah-sah saja dong…

Pertanyaan macam ini hadir untuk memenuhi rasa penasaran publik. Tentu tak boleh menuduh sebelum ada bukti. Tapi, siapa tertuduh dan siapa yang bisa membuktikan?

Penyerangan Ali Jabir, jika tak dituntaskan penyelidikan dan penyidikannya, akan memperkuat asumsi publik bahwa ini semacam operasi. Sebuah operasi untuk menyampaikan pesan penting. Pesan apa dan kepada siapa?

Yang pasti, peristiwa penusukan “orang-orang gila” kepada muballigh, guru ngaji, imam masjid dan ustaz ini dirasakan oleh para aktifis keummatan sebagai sebuah teror yang serius. Terutama kepada mereka yang aktif melakukan gerakan moral-politik keummatan. Wajar jika kemudian ada yang curiga bahwa ini bagian dari operasi untuk menakut-nakuti para aktifis keummatan yang selama ini makin kritis kepada penguasa.

Sulit membayangkan bahwa peristiwa penusukan oleh “orang-orang gila” yang beruntun dan berulangkali terjadi ini hanya sesuatu yang bersifat kebetulan belaka. Kenapa? Pertama, sasarannya selalu muballigh, ustaz, guru ngaji dan imam shalat. Kedua, kejadiannya berulang-ulang. Ketiga, ada perencanaan. Keempat, alat yang dipakai selalu mirip. Dari pisau, celurit atau parang. Kelima, seringkali peristiwa terjadi di saat situasi politik lagi kurang kondusif. Semoga asumsi ini salah.

Kejadian penyerangan ini seperti punya pola. Publik bertanya: adakah yang mendesign? Meski kecurigaan publik terus tumbuh, toh belum ada yang bisa mengurai bukti-buktinya.

Di sisi lain, muncul juga pertanyaan: Kenapa orang-orang gila itu tidak menyasar kepada para aktifis politik-keummatan? Ngeri! Kalau para aktifis keummatan yang disasar, seperti Din Syamsuddin, Abdullah Hehamahua, Habib Rizieq, Bachtiar Nasir, Rizal Ramli, Sobri Lubis, Slamet Ma’arif atau Yusuf Martak misalnya, maka dampaknya bisa panjang dan akan memicu gerakan sosial yang lebih besar. Bisa tak terkendali. Karena kemarahan publik bisa segera terkonsolidasi.

Pages: 1 2 3

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.