Kamis, 24 September 2020

Perketat PSBB, Anies Dituduh Mau Jatuhkan Jokowi, Anda Waras?

Perketat PSBB, Anies Dituduh Mau Jatuhkan Jokowi, Anda Waras?

Foto: Tony Rosyid. (dok. pribadi)

2022, kemungkinan di DKI ada pilkada. Semua partai di DPR menghendaki, kecuali PDIP. Jika 2022 Anies gubernur lagi, jadi presiden hanya butuh satu langkah. Sekali lagi, ini kalkulasi jika semuanya berjalan normal.

Jika Jokowi jatuh sebelum 2024, meski peluang Anies jadi presiden tetap ada, namun akan banyak tokoh yang berpotensi membajak situasi untuk berebut jadi presiden. Akan bermunculan para tokoh instan. Dan mereka akan saling menyalib di tikungan.

Dari analisis ini, kelihatan bahwa Anies hanya fokus melihat data penyebaran covid-19, lalu menghitung segala dampaknya bagi warga Jakarta, dan ambil keputusan. Simple urutan logika dan kerjanya. Soal “good Looking” atau “tidak good Looking”, untung rugi secara politik, nampaknya bukan prioritas bagi Anies saat ini.

Jika ada anak anda yang sakit, anak anda yang lain ditabrak kereta lalu mati, masihkah anda bisa berpikir politis? Ini yang seringkali tak terjangkau oleh otak para pengkritik Anies.

Kira-kira kalau dinarasikan begini: gak urus dengan 2024, yang penting warga Jakarta selamat. Selamat nyawanya, dan kebutuhan ekonominya bisa diatasi. Gak peduli orang setuju atau tidak, karena tanggung jawab warga DKI ada di pundak seorang gubernur sebagai kepala daerah.

Inilah yang membedakan Anies dengan para pengkritiknya. Anies mengambil kebijakan dengan data dan rasa. Umumnya, para pengkritik gak peduli data, dan gak ada rasa. Di ujung, kebenaran akan terbuka. Ini sudah berulangkali terbukti.

Para pengkritik sangat emosional. Kelebihan Anies, selalu bisa menjaga emosinya. Tenang dan tetap bersahaja. Kata dan sikapnya terukur. Itupun tetap dikritik, pinter mengolah kata, katanya.

Mestinya, para pengkritik belajar kepada Anies bagaimana mengolah kata yang baik. Agar telinga para pendengar juga bisa menerima dengan baik. Kalau Kata-katanya kotor, tentu hanya telinga kotor yang bisa menampungnya. Ini hukum psikologi.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.