Sabtu, 06 Maret 2021

Belasan Tokoh Nasional Sampaikan 3 Tuntutan ke Mabes Polri

Belasan Tokoh Nasional Sampaikan 3 Tuntutan ke Mabes Polri

Jakarta, Swamedium.com – Sebelas Tokoh Nasional dari beragam profesi mendatangai Mabes Polri si Jalan Trunojoyo Jakarta Selatan. Kedatanfan mereka sebagai wujud kepeduliannya akan nasib Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab.

Banner Iklan Swamedium

11 tokoh yang hadir tersebut Amien Rais, Muhyiddin Junaidi, Abdullah Hehamahua, Zulkarnain, Abdul Chair, Bukhori Muslim, Neno Warisman, Ansyufri Sambo, Syamsul Balda, Marwan Batubara dan Nurdiati Akma menyampaikan pesan kepada Kapolri Republik Indonesia, atas keprihatinan terhadap situasi Negeri saat ini.

“Kami sebagai anak bangsa sangat prihatin atas kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, khususnya pasca kepulangan Habib Muhammad Rizieq Shihab (HRS). HRS semestinya dilibatkan pemerintah membangun stabilitas nasional guna mewujudkan cita-cita bangsa dan negara. Sangat disayangkan yang terjadi adalah sebaliknya, timbul kegaduhan secara meluas dan berkepanjangan. Tampaknya hal ini disebabkan oleh keterkejutan pemerintah melihat langsung jutaan orang simpatisan pencinta HRS datang dari berbagai wilayah NKRI menyambut kepulangannya ke tanah air” kata Amien Rais dalam rilisnya Kamis (17/12).

Amien menjelaskan, sebelas para tokoh tersebut, mengungkapkan jika pemerintah beritikad baik mampu membuka diri dan membangun dialog dan konsolidasi Nasional, diyakini akan tidak melemahkan persatuan dan kohesi nasional.

“Sesungguhnya jika pemerintah beritikad baik mampu membuka diri dan membangun dialog secara tulus ikhlas, maka diyakini situasi dan kondisi kehidupan sosial politik akan menjadi lebih baik. Kegaduhan yang terjadi dan terhambatnya saluran dialog semakin memperlebar jarak antara pemerintah dengan pendukung HRS. Kondisi demikian tidak bisa dianggap remeh, sebab berpotensi melemahkan persatuan dan kohesi nasional” jelasnya.

Selain itu, para tokoh menyampaikan tragedi kemanusiaan yang diluar prosedur hukum dengan menghilangkan nyawa anak bangsa laskar FPI yang sedang melakukan tugas pengawalan Habib Muhammad Rizieq Shihab, diluar dari nilai nilai kebangsaan dan hukum yang dianut di Indonesia.

“Terlebih lagi dengan terjadinya penembakan diluar hukum terhadap keenam laskar FPI semakin memperparah stabilitas nasional. Patut diduga telah terjadi kejahatan HAM berat dan tindak pidana teorisme. Terdapat petunjuk adanya penculikan dan penganiayaan. Keenam laskar FPI tersebut bertugas mengawal imam yang mereka cintai beserta keluarga untuk kepentingan beribadah dan sejatinya turut serta dalam pengajian subuh keluarga. Dengan demikian, kami yakin mereka gugur sebagai syuhada. Dalam hal ini kami menilai, seluruh sila Pancasila telah diabaikan oleh oknum-oknum Kepolisian. Tindakan tidak berperikemanusiaan yang melenyapkan nyawa anak-anak muda secara brutal tidak dapat dibenarkan dan tidak ada alasan penghapus pidana” ungkap para tokoh tersebut.

Berbagai perisitiwa yang telah terjadi, malah akan menimbulkan konflik berkepanjangan, sebab terbelahnya kesatuan anak bangsa yang saling berhadapan antar dua kubu.

“Kami sangat khawatir akan terpecahnya bangsa Indonesia menjadi dua kubu yang saling berhadap-hadapan sebagai resultan terbunuhnya enam orang laskar FPI dan perkara kerumunan yang berujung ditahannya HRS. Tidak dapat dipungkiri, pihak Kepolisian terus menerus mengklaim kebenaran. Disisi lain pihak FPI serta pendukungnya selalu dipojokkan dan diposisikan sebagai pihak yang salah” katanya.

Kemudian, menurutnya, siaran yang ditujukan ini guna menjadi perhatian bagi semua pihak khususnya Kapolri Republik Indonesia, untuk meredakan situasi yang bergejolak demi tegaknya keadilan yang berlandaskan hukum, Pancasila dan UUD 1945.

“Untuk meredakan situasi yang semakin panas dan tidak kondusif, serta demi tegaknya hukum dan keadilan, maka dengan ini kami menuntut” sambunya.

Berikut tuntutan agar menjadi perhatian bagi semua anak bangsa, yakni ;

  1. Kepolisian segera melepaskan HRS dari tahanan, dan sebagai gantinya kami yang tercantum di bawah ini siap menjadi penjamin.
  2. Segera dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen, bebas dari pengaruh dan tekanan pihak mana pun guna mengusut tuntas kejahatan HAM berat dan tindak pidana terorisme atas terbunuhnya enam orang laskar FPI.
  3. Mengajak seluruh anak bangsa untuk terus mengawasi, mengawal dan ikut mengadvokasi secara intens seluruh proses penuntasan tragedi kemanusiaan tersebut.

Sebagai penutup, sebelas tokoh tersebut mengingatkan bahwa tindakan pembiaran, rekayasa dan penggelapan atas proses penuntasan tragedi kemanusiaan sangat berpotensi menimbulkan amarah rakyat, memancing reaksi huru hara dan perlawanan sosial yang meluas.

“Sebagai penutup, perlu kami ingatkan bahwa tindakan pembiaran, rekayasa dan penggelapan atas proses penuntasan tragedi kemanusiaan ini sangat berpotensi memicu kemarahan rakyat, sehingga dapat menimbulkan huru-hara dan perlawanan sosial yang meluas”tutupnya.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita