Minggu, 07 Maret 2021

Menikah Dini Haram, Zina diHalalkan?

Menikah Dini Haram, Zina diHalalkan?

Ilustrasi Pernikahan Dini Foto : Ist

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Banner Iklan Swamedium

Institut Literasi dan Peradaban

Aisha Weddings menuai kegaduhan. Wedding organizer itu dianggap tak hanya menyediakan jasa pernikahan namun juga mempromosikan nikah siri, poligami dan pernikahan anak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengatakan Wedding Organizer (WO) itu  telah membuat pemerintah dan masyarakat resah, serta melanggar Undang-Undang 16 tahun 2019 tentang Perkawinan yang menyatakan bahwa syarat usia menikah minimal 19 tahun dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Menteri kader PDI Perjuangan ini sekaligus menegaskan bisnis WO itu telah mengurangi upaya pemerintah dalam usaha menurunkan angka perkawinan anak yang dampaknya sangat merugikan anak, keluarga dan negara (suara.com, 10/2/2021). Maka ia mengajak seluruh masyarakat untuk mencegah pernikahan dini, Bintang yakin, dengan adanya dukungan yang penuh dari masyarakat dan kementerian lainnya, maka permasalahan perempuan dan anak, termasuk pernikahan dini bisa ditekan jumlahnya.

Maka dengan cepat website Aisha Wedding sudah diblokir Kemenkominfo. Bintang pun berharap, tidak ada lagi kasus serupa.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI, Muhammad Ziyad menyatakan, hukum nikah bagi perempuan di bawah usia 19 tahun adalah sah. Namun, dia menyebut pernikahan itu menjadi haram bila muncul mudarat. Ia juga mengatakan dalam Islam tak ada batasan seseorang menikah. Namun karena pemerintah kita sudah mengaturnya dalam UU Nomor 16/2019, yang membatasi usia pernikahan bagi perempuan dan laki-laki adalah 19 tahun, maka jika tidak sesuai dengan aturan tersebut bisa dikatakan melanggar hukum (CNNIndonesia.com, 11/2/2021).

Masih menurut Ziyad, batas minimal usia itu berlaku  untuk mencegah potensi konflik dalam rumah tangga, termasuk tak tercapainya tujuan pernikahan menurut Islam. “Pernikahan adanya menyiapkan calon mempelai laki-laki dan perempuan supaya memiliki kematangan psikis dan umur karena ada kaitan dengan kelangsungan dalam rumah tangga,” katanya.

Atas nama UU positip yang berlaku di negeri ini, kembali terjadi praktik hukum buatan manusia lebih unggul dari syariat Allah SWT. Padahal sangatlah jelas firman Allah dalam Quran surat Al-A’raf 7:54, yang artinya:

Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam“.

Berikutnya dirinci pula oleh Rasulullah saw: “Yang halal adalah apa yang Allah halalkan dalam kitabNya, yang haram adalah yang Allah haramkan dalam kitabNya, dan apa saja yang di diamkanNya, maka itu termasuk yang dimaafkan.(HR. At Tirmidzi No. 1726, katanya: hadits gharib. Ibnu Majah No. 3367, HASAN).

Sikap pemerintah yang justru provokatif di media sosial  seolah  memfasilitasi pernikahan sesuai  syariat namun malah menjadi sarana kalangan sekuler untuk menyerang syariat pernikahan dan mengkampanyekan larangan pernikahan dini dan hak anak.

Semua ini lantaran pemahaman kaum Muslim terhadap agamanya juga minim. Berbagai tayangan dan media yang ada bukannya mencerdaskan malah justru mempertontonkan cara hidup tidak Islami alias sekular. Sudah semestinya negara tidak sekedar memblokir web-web yang dianggap melanggar aturan, melainkan memberikan edukasi yang berimbang, bagaimana Islam mengatur perkawinan. Sebab pernikahan adalah salah satu syariat dan kita diwajibkan menerapkan syariat secara Kaffah. Jika belum terlaksana maka penguasalah yang menanggung dosa, terlebih kita mayoritas beragama Islam.

Pernikahan dini tak akan membawa mudharat jika saja dibarengi dengan persiapan yang matang dari struktur negara yang lain seperti seperti Depag dan Depdikbud. Bukan hanya cepat dalam menandatangani SKB tiga menteri saja, yang sebenarnya lagi-lagi keputusan yang bertentangan dengan syariat.

Generasi muda perlu dipersiapkan dengan edukasi yang berkelanjutan, sebab pernikahan adalah jalan satu-satunya yang dibolehkan syariat untuk menyalurkan gharizah mau (naluri berkasih sayang). Krisis moral dan rusaknya berbagai aspek sosial hari ini tak pelak juga karena usia pernikahan yang dibatasi dan ketiadaan edukasi yang komprehensif. Padahal usia remaja, adalah usia puncak segala aktualisasi diri, jika tanpa tuntunan syariah Kaffah maka muncullah kerusakan remaja, aborsi dan lain sebagainya. Puncaknya rusak peradaban. Karena institusi terkecil dari negara yaitu keluarga diperlemah sejak awal yaitu dari pintu pernikahan. Maka, tak ada solusi lain selain kembali kepada syari’at Islam. Bukan fobhia Islam yang harusnya dipersekusi, melainkan sistem sekular yang melahirkan kerusakan dan ketidak seimbangan. Wallahu a’ lam bish showab.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita