Jumat, 23 April 2021

Perubahan Hakiki Hari

Perubahan Hakiki Hari

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Banner Iklan Swamedium

Institut Literasi dan Peradaban

Swamedium-Gema perubahan mulai terdengar di seluruh penjuru bumi, segala penderitaan yang dihadapi oleh rakyat terasa kian menekan hingga ibarat semut, kecil sekalipun bisa menggigit. Akar persoalan hari ini adalah tidak terterapkannya syariat secara sempurna, sehingga nampak ketidakadilan dimana-mana, halal di haramkan sebaliknya yang haram dihalalkan. Mungkin banyak yang belum percaya dan masih berharap kepada sistem demokrasi, padahal secara akidah kaum Muslim dilarang menerapkannya, sebab sistem ini bukan sekadar berbicara pemilihan pemimpin.

Namun mereka menjadikan hukum manusia di atas hukum Allah, akibatnya bukan malah kebaikan yang didapat namun pertentangan sebab masing-masing mempunyai kepentingan, akhirnya yang punya kekuasaan lah yang mampu mengatur urusan orang banyak. Dan sungguh sangat jelas  firman-Nya:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (TQS An-Nisā’ [4] : 65).

Artinya jika hari ini kita tidak mengadakan perubahan maka selamanya kita tak akan mendapatkan Rahmat yang dijanjikan bahkan bisa jadi azab Allah SWTlah yang kita terima. Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja yang melihat kemunkaran, maka ubahlah kemunkaran itu dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, meski yang terakhir itu menandakan selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).

Jika akidah yang kita yakini adalah tiada Tuhan selain Allah, maka kita berkewajiban mengadakan perubahan itu sekaligus menjadikan hanya hukum Allah yang mengatur seluruh urusan kita. Dengan sekuat tenaga dan seluruh apa yang kita miliki, jiwa, raga, waktu dan materi. Wajibnya beraktifitas perubahan menegakkan khilafah, adalah karena hanya khilafah institusi negara yang menerapkan Islam secara total, sebagaimana yang diperintahkan Allah, bukan yang lain.

Sungguh! Hukum mewujudkan imam/khalifah adalah fardhu kifayah, artinya apabila tidak/belum terealisasi maka dosanya ditanggung oleh umat Islam secara keseluruhan. Apabila tidak ada yang layak (untuk menjadi imam/khalifah) kecuali hanya satu orang saja, maka hukumnya menjadi fardhu ‘ayn bagi orang tersebut. Sedangkan bagi umat Islam yang lain tetap sebagai fardhu kifayah.

Apabila sudah terwujud seorang imam/khalifah yang layak, berikut wilayah kekuasaan yang menerapkan Islam dan jaminan keamanannya di tangan umat Islam, maka gugur kewajiban tersebut dari umat Islam. Ditambahkan dua hal tersebut sebab institusi khilafah yang menjadi wadah kepemimpinan khalifah sudah tidak ada sejak 1342H.

Oleh karenanya wajib bagi umat Islam mencari jalan agar dapat merealisasikan keduanya, yaitu adanya khalifah sekaligus institusinya, khilafah. Dan dengan jalan yang syar’i. Mustahil memang kita menegakkan institusi negara, apalagi kita berhadapan dengan sistem raksasa yang selama ini menjajah kaum Muslim di seluruh dunia.

Namun apakah itu menjadikan kita sah beralasan bahwa kita tak sanggup dan melepas kewajiban menegakkannya? Sudah semestinya akal kita melihat fakta bahwa kewajiban ini tidak dituntut dari saru orang saja, satu partai saja, satu kelompok saja, atau satu negeri saja, melainkan kewajiban ini dituntut oleh syara’ dari dari semua umat Islam, baik Arab dan non-Arab, dan sekarang kewajiban ini telah menjadi fardhu ‘ain bagi setiap Muslim.

Apakah umat Islam benar-benar tidak berdaya dan tidak mampu, atau apakah itu buah dari kehinaan, kelengahan dan kemaksiatan akibat dari pengaruh budaya Barat, serta efek dari fatwa para ulama salāthin dari kalangan orang-orang munafik?

Maka marilah kita menyatukan langkah, mengharap keridaan Allah agar memberikan kemudahan langkah kita mewujudkannya. Sehingga kita bisa menjadi saksi atas diri kita sendiri bahwa kita adalah bagian dari pejuang syariat yang dirindukan Rasulullah Saw.

Syaikh Ahmad menukil satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah berkata: “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku (saudara-saudaraku).” Kemudian para sahabat bertanya: “Apakah maksud engkau berkata demikian, wahai Rasulullah ? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?

Rasulullah Saw menggelengkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum, kemudian bersabda: “Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku, tetapi bukan saudara-saudaraku.” Suara Baginda Rasulullah bernada rendah. “Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain.

Rasulullah saw melanjutkan sabdanya: “Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku, tetapi mereka beriman padaku dan mereka mencintaiku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” (Ibnu Asakir 30/137, Kanzul Ummal, 14/48). Semoga mereka yang dirindukan Rasulullah Saw adalah kita, aamiin. Wallahu a’ lam bish showab. **

Banner Iklan Swamedium

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita