Jumat, 23 April 2021

Mereka Bilang Cinta itu Buta, tapi Justru Kebencian itu yang Buta

Mereka Bilang Cinta itu Buta, tapi Justru Kebencian itu yang Buta

Ilustrasi perbedaan Foto : Istimewa

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Banner Iklan Swamedium

Institut Literasi dan Peradaban

Swwamedium.com-Judul di atas adalah salah satu pendapat dari   Santosh dan Ayesha , salah satu pasangan yang mengalami ketakutan karena terbitnya sebuah peraturan yang menurut mereka kontroversial. Mereka telah menyembunyikan hubungan selama 13 tahun karena menikah beda agama. Pada November 2020, Uttar Pradesh menjadi negara bagian pertama yang meloloskan Peraturan (Ordonansi) atas Larangan Pindah Agama secara Tidak Sah – yang melarang pindah agama dengan paksaan, cara curang, atau pernikahan.

Regulasi ini adalah tanggapan dari kelompok sayap-kanan Hindu, yang disebut sebagai “jihad cinta”, sebuah terminologi Islamophobia yang berlandaskan teori konspirasi tanpa dasar. Mereka menuduh pria Muslim mencari perempuan Hindu agar jatuh cinta, dengan tujuan utama membuat mereka pindah agama menjadi Islam.

Jatuh cinta yang sejatinya fitrah kini menjadi sesuatu yang bisa berakibat dikriminalisasikan bagi para pelakunya. Yang semula pasangan beda agama di India hanya menghadapi tantangan dari keluarga kinipun pemerintah. Jika sudah menjadi sebuah hukum positip maka resiko yang bakal diterima akan lebih berat (BBC.com, 15/3/2021).

Akibatnya banyak pasangan yang terpaksa melarikan diri ke Delhi, salah satu kota yang dianggap aman dari penangkapan. Untuk menyelamatkan pernikahan mereka. Sebab sejak diterbitkan, aturan ini menjadi dasar atas banyaknya  kasus dan penangkapan di Uttar Pradesh, negara bagian yang dikuasai oleh Bharatiya Janata Party (BJP), partai nasionalis Hindu di India. Madhya Pradesh, negara bagian lainnya yang dikuasai BJP, juga meloloskan aturan sejenis. Di Gujarat, aturan ini masih dalam pertimbangan.

Ketika Islam menjadi agama minoritas di suatu wilayah, maka sudah bisa dipastikan akan mendapatkan banyak kesulitan. Banyak dari kaum Muslim itu mengalami pembantaian, penyiksaan, fitnah, cuci otak dan pemaksaan untuk keluar dari agamanya.  Seperti yang terjadi di Sri Lanka, Myanmar, Xin Jiang, Uiyghur, Perancis dan lainnya, berbeda sekali dengan perlakuan Islam kepada mereka kala kaum Muslim memiliki junnah. Yaitu Daulah Khilafah.

Dunia tak mungkin lupa bencana ‘Great Famine’ atau ‘Kelaparan Besar’,  Khalifah Abdul Majeed memberikan peranannya. Orang Irlandia mengenal zaman susah ini sebagai Irish Potato Famine (Kelaparan Kentang di Irlandia). Tepatnya peristiwa ini terjadi sekitar 160 tahun silam. Saat itu Irlandia berada di bawah kekuasaan kerajaan Inggris.

Penduduk Irlandia mayoritas beragama Kristen. Namun, kekaisaran Ottoman, Sultan Abdul Majeed, dengan lapang hari secara pribadi kala itu menawarkan bantuan senilai 10.000 pound kepada Irlandia.  Para diplomat Inggris di Turki menasihatinya bahwa tindakan Sultan akan menyinggung banyak orang, termasuk Ratu Victoria.

Diplomat Inggris yang ada di Istanbul Welesley menyarankan agar Sultan Abdul Majeed menyumbangkan setengah dari dari jumlah sumbangannya. Dan jangan melebihi sumbangan Ratu Inggirs yang hanya memberi sumbangan senilai dua ribu pound saja.

Dengan cerdik Sultan Abdul Majeed menemukan cara lain untuk membantu kelaparan akut di Irlandia itu. Secara diam-diam mengirimkan lima kapal penuh makanan ke Kota Drogheda pada Mei 1847. Maka di situlah penduduk  setempat yang beragama Kristen mulai akrab dengan simbol-simbol Islam, seperti bulan sabit dan bintang. Lambang ini mulai dikenal warga kota itu saat armada kapal bantuan dari Kesultanan Ottoman datang.

Bagaimana mungkin kini dunia menutup mata, betapa Islam ketika berkuasa tak sekalipun menzalimi mereka yang ditimpa kesulitan sekalipun beda agama. Setelah kejadian bantuan Kholifah Abdul Majeed, sebuah surat kabar Irlandia menerbitkan artikel berjudul”Seorang Sultan yang Baik Hati”. Dalam artikelnya, penulis menyebut, untuk pertama kalinya seorang penguasa Mohammedan mewakili populasi Islam yang beraneka ragam, secara spontan memanifestasikan simpati hangat dengan negara Kristen. Demikian  juga sepucuk surat di terima Khalifah dari Irlandi yang secara eksplisit berterima kasih. Surat penghargaan dari bangsawan Irlandia dan orang-orang kepada Sultan Ottoman ada di arsip Istana Topkapi hari ini(Republika.co.id,17/2/2020).

Maka sebuah Daulah bagi kaum Muslim bukan sekedar memori yang tak layak diperjuangkan. Selama 100 tahun tanpanya, kaum Muslim bak anak ayam kehilangan induknya. Dikaruniai Allah sumber daya alam yang berlimpah, namun hampir semua negri Muslim menderita kelaparan dan krisis pangan. Manusianya dibodohkan sekaligus diberi gambaran hanya peradaban baratlah yang terbaik. Upaya pembohongan ini tak main-main, ironinya banyak dari kaum Muslim yang lemah hatinya kemudian menjadi agen barat, kepanjangan tangan dari penjajah dengan rida meskipun harus berhadapan dengan saudara seakidah.

Sungguh sebuah kekejian yang sangat jika menyatakan Islam sebagai biang kerok kerusuhan, hingga dituduh sengaja melakukan pernikahan hanya untuk memperbanyak generasi kaum Muslim. Padahal data menunjukkan secara akurat bukan Islam yang menebar kebencian dan berbagai persekusi. Kedengkian yang tertanam dalam benak mereka sekali lagi karena adanya gambaran buruk dari penjajah terhadap Islam, menutupi cahaya kemenangan Islam yang memang sudah diprediksi oleh orang barat akan terbit, mereka hanya berusaha memperlambat, namun jika Allah berkendak, siapa yang bisa menghalangi? Wallahu a’ lam bish showab. **

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita