Jumat, 17 September 2021

Berkawan dengan Lawan, Manfaat atau Khianat?

Berkawan dengan Lawan, Manfaat atau Khianat?

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Banner Iklan Swamedium

Institut Literasi dan Peradaban

Swamedium.com-Cukup mengejutkan apa yang disampaikan Gubernur Jawa Timur,  Khofifah Indar Parwansa,   menurut beliau,  data Global Islamic Economy Rating Indicator Tahun 2020/2021 menunjukkan bahwa Industri Fashion dan Mode Halal Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia.  “Saat ini industri halal sudah menjadi gaya hidup masyarakat dunia. Maka, dengan mengangkat industri halal khususnya di bidang fesyen dan mode akan mampu meningkatkan sektor ekonomi kedua negara. Terlebih, mode juga berkaitan dengan kultur, budaya dan ekonomi.”

Oleh karena Khofifah menawarkan kerja sama bidang museum, fesyen dan mode halal kepada Pemerintah Perancis karena Indonesia dinilai memiliki potensi yang besar. Khofifah sangat yakin dengan kerjasama ini karena pertama, penduduk Muslim terbesar, kedua Jawa Timur sebagai provinsi yang memiliki pesantren 6000 lebih dengan program One Pesantren One Produk (OPOP), ketiga dukungan  UKM dan IKM yang banyak di bidang fesyen. 

Dipilihnya Perancis sebagai mitra bisnis karena Kota Paris di Negara Perancis merupakan kiblat mode dan fesyen dunia. “Kami optimis akan terjalin kerja sama yang baik antara Jatim dan Perancis di bidang industri halal fesyen dan mode. Apalagi, kita tahu Kota Paris di Perancis adalah pusat fesyen dan mode, jadi kerja sama ini sangat potensial,” imbuhnya.

Kerjasama ini terjalin setelah Khofifah yang mendapat kunjungan Duta Besar Perancis untuk Indonesia Y.M. Olivier Chambard pada 24 Maret 2021. Tak hanya di bidang fesyen, gubernur Jawa Timur ini  juga menambahkan tawaran kerja sama di bidang kebudayaan dan pariwisata melalui revitalisasi museum yang berkaitan dengan kebesaran Kerajaan Majapahit. “Harapannya museum ini bisa menjadi sarana wisata yang mampu mengedukasi masyarakat luas dan dunia.”

Duta Besar Perancis Mr. Olivier Chambard mengatakan pihaknya menyambut baik kerja sama yang ditawarkan Gubernur Khofifah baik di bidang industri halal, maupun teknologi kapal selam serta penelitian, pendidikan, kebudayaan dan pariwisata (Bisnis.com, 24/3/2021).

Mungkinkah Khofifah lupa apa yang Perancis lakukan kepada kaum Muslim? Ibarat luka belum kering dan masih mengeluarkan darah segar, ketika majalah Charlie Hebdo menyatakan tidak menyesal sudah menghina Nabi Muhammad Saw melalui karikatur mereka buat (republika.co.id, 10/9/2020).

Atau ketika terbunuhnya Samuel Paty, seorang guru sejarah yang menunjukkan kartun murid-muridnya yang mengejek Nabi Mohamad, oleh seorang “teroris” dan Presiden Perancis Macron membela ini sebagai kebebasan berekspresi, dengan mengatakan: “Kami tidak akan menyerah karikatur dan gambar, bahkan jika orang lain mundur” (republika.com.id, 4/11/2020).

Dan bagaimana tentang larangan burkini di beberapa kota di Perancis? Bahkan kini wanita berhijab kembali digoncangkan dengan permohonan dari partai kanan Partai Republik agar semua simbol keagamaan tidak diperkenankan meskipun hanya untuk menemani murid-murid sekolah saat kegitaan di luar sekolah.

Faktanya negara yang selalu meneriakan  dasar kenegaraannya yaitu Laïcité (negara terpisah oleh agama dan tidak berdasarkan kepada agama, Sekular), telah secara terang-terangan menyatakan berhadap-hadapan dengan Islam dan segala ajarannya. Warga Muslim di Perancis yang jumlahnya minoritas tak pernah tenang sebab memang merekalah sasaran dari pengawasan pemerintah.

Lantas bagaimana ramahnya kita dengan mengajak Perancis  bekerja sama, bodoh atau memang kita sudah masuk dalam sekutunya? Jelas-jelas Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman” dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS.Ali Imran 118-120).

Maka, sebenarnya sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar kita paham makna ayat yang panjang di atas. Jangankan bekerjasama, menjadikan mereka teman setia saja tidak diperbolehkan. Disebabkan apa yang mereka lakukan pada kaum Muslim, meskipun di Perancis dan bukan di negara kita, namun bukankah sesama Muslim bersaudara sebagaimana yang disebutkan Allah dalam QS Al Hujurat :110.

Sebenarnya pembelaan kita bukan sekadar simpati, tapi benar-benar menghilangkan kesulitan yang saudara kita hadapi. Namun inilah fakta lain lagi yang sedang dihadapi kaum Muslim, yaitu ekonomi kapitalisme dan sistem politiknya Demokrasi. Dimana kedua sistem itu sukses menghilangkan Ukhuwah Islamiyah, sekalipun akidahnya Islam namun ketika memenuhi kebutuhan hidup mereka malah samasekali tak mengambil dari Islam.

Kalaulah fesyen yang digadang sebagai industri halal hanyalah sekadar lipservis, sejatinya hanya manfaat materi lah yang hendak diraih. Ibarat air dan minyak, halal yang dimaksud bukanlah halal yang sesungguhnya. Haq dan batil selamanya tak akan bisa disatukan, apapun caranya. Maka, kerjasama ini hanyalah keluar dari syahwat kapitalisasi ajaran agama Islam yaitu halal.

Beginilah pemimpin yang tak faham syariat secara menyeluruh, ia hanya memandang keuntungan materi bukan maslahat bagi seluruh rakyat. Pelanggaran hukum syara yang dilakukan penguasa jelas dampaknya lebih meluas. Seberapa kuat potensi industri halal mampu mengangkat ekonomi? Sementara Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah diberikan begitu saja kepada investor asing dan Aseng. Kita fokus pada peningkatan bisnis remah-remah yang hanya mampu mensejahterakan sekelompok masyarakat, sedangkan kesempatan sejahtera dunia akhirat kita abaikan begitu saja. Wallah a’ lam bish showab.**

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita