Jumat, 25 Juni 2021

KKB sudah ditetapkan sebagai teroris, Detasemen Khusus (Densus) 88 belum juga dikirim ke Papua

KKB sudah ditetapkan sebagai teroris, Detasemen Khusus (Densus) 88 belum juga dikirim ke Papua

Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri

Jakarta, Swamedium.com-Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD telah mengkategorikan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua serta seluruh organisasi dan orang-orang yang tergabung di dalamnya serta yang mendukung gerakan tersebut sebagai teroris.

Banner Iklan Swamedium

Label teroris ini mulanya diberikan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) setelah Kepala BIN daerah Papua, Brigjen I Putu Danny gugur dalam baku tembak dengan KKB di kabupaten Puncak, Papua.

Pemerintah menyebut alasan KKB Papua dicap sebagai organisasi teroris lantaran apa yang telah mereka lakukan, baik secara organisasi maupun anggotanya adalah sebuah bentuk tindakan teroris merujuk Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Tapi hingga saat ini Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror yang ditugaskan negara dalam melawan betuk terorisme belum diturunkan di Papua pasca pemerintah secara resmi melabeli kelompok yang kerap buat onar itu sebagai teroris.

“Belum ada (Densus turun ke Papua). (Satgas Operasi) Nemangkawi TNI dan Polri yang kerja,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (5/5).

Secara otomatis, sambung Argo, penegakan hukum terhadap KKB masih menggunakan UU konvensional bukan UU Terorisme.

Alasan lain Argo menerangkan bahwa aparat TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Operasi Nemangkawi menggunakan dua pendekatan untuk menangani Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.
“Kita tetap melakukan beberapa pendekatan, soft power dan hard power,” ujarnya.

Argo menjelaskan, soft power yang dimaksud ialah mengedepankan tindakan preventif yakni melalui Binmas Noken Polri yang memberdayakan dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat Papua.

“Kita memberdayakam anggota kepolisian dengan masyarakat disana untuk mempunyai yang memiliki suatu keterampilan,”tandas Argo. Seperti, memberikan pelatihan pertanian juga melakukan bimbingan wawasan kebangsaan.

“Ada beberapa kegiatan yang kita mengajar pada anak-anak di sana, entah itu melalui tingkat PAUD, kemdian tingkat SD ada disana. Ini menjadi bagian daripada soft power yang kita lakukan,” ujarnya.

Hal ini, lanjut Argo, semata-mata untuk memberikan rasa aman serta yang tidak kalah penting ialah menumbuhkan rasa nasionalisme masyarakat. Melalui pendekatan soft power ini aparat bisa mendengarkan keluhan dari masyarakat.**

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita