Jumat, 25 Juni 2021

Lekra, Organ Kebudayaan PKI yang Suka Mengolok-olok Tuhan

Lekra, Organ Kebudayaan PKI yang Suka Mengolok-olok Tuhan

Foto : Istimewa

Swamedium.com-Tulisan Dr KH Amidhan Shaberah ini aslinya berjudul Benturan Lekra dengan Manikebu, Lesbumi, HSBI, dan ISBM. Tulisan tersebut dipersembahkan untuk Arief Budiman, aktivis Manifesto Kebudayaan, yang meninggal dunia 23 April 2020. Oleh beberapa media online tulisan tersebut kembali dimuat kembali.

Banner Iklan Swamedium

Oleh beberapa media online tulisan tersebut kembali dimuat kembali. Seperti semangatnews.com yang menerbitkan pada Senin (15/6/2020) dengan judul Gusti Allah Mantu.

Redaksi memuatnya untuk mengingatkan pembaca pada sejarah Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra), organ kebudayaan PKI, yang provokatif menyerang konsep ketuhanan Islam. Hangatnya polemik RUU Haluan Ideologi Pancasila—yang mengindikasikan kebangkitan kembali PKI—membuat tulisan ini sangat penting dibaca, terutama bagi generasi milenial. Selamat membaca!

Wudhu dengan Air Kencing

“Wis rasah macak ayu ayu, ora ayu yo payu. Nek ra ayu, yo, raup diniati wudhu. Nek ora ana banyu yo nganggo uyuhku. Banyu uyuhku padha sucine karo banyu wudhu.”

Artinya, “Tidak usah bersolek cantik-cantik.Tidak cantik juga akan laku. Kalau tidak laku ya cuci muka dengan niat wudhu. Kalau tidak ada air ya pakai air kencingku. Air kencingku sama sucinya dengan air wudhu”.

Itulah salah satu penggalan dalam dialog ludruk dengan lakon Gusti Allah Mantu yang dipentaskan di Kediri, Jawa Timur, menjelang meletusnya peristiwa G30S PKI.

Dalam pentas ludruk lakon Gusti Allah Mboten Sare, misalnya, ada dialog seperti ini: “La, piye, Gusti Allah yo mboten sare. Ora duwe bantal lan klasa. Piye turue. La, gimana, Gus Allah ya tidak tidur. Gak punya bantal dan tikar. Bagaimana tidurnya?”

Lakon ludruk (Jawa Timur), ketoprak (Jawa Tengah), dan sandiwara (Jawa Barat) saat itu, ketika PKI sedang berada di atas angin karena mendapat “dukungan” elit politik dan oknum-oknum militer, memang narasinya aneh-aneh.

Ada lakon dengan judul Patine Gusti Allah, Gusti Allah Dadi Manten, Malaikat Kawin, dan lain-lain, yang membuat orang Islam marah.

Ludruk dengan lakon Patine Gusti Allah, yang sedang pentas di Jombang, misalnya, pernah membuat seorang anggota Banser marah besar. Panggungnya diobrak-abrik dan dihancurkan. Ludruk pun batal manggung.

Orang-orang Islam jelas marah. Tapi tak bisa berbuat banyak. Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), salah satu organisasi sayap PKI, saat itu sangat kuat dan merajalela. Lekra mengkoordinasi grup-grup ludruk, ketoprak, drama, dan sandiwara untuk mementaskan kesenian yang bernuansa paham PKI.

Lembaga Kebudayaan atau Politik?

Lekra yang berdiri 17 Agustus 1950 di Jakarta. Ia menjelma jadi organ kesenian dan kebudayaan PKI yang sangat radikal, ekspansionis, dan ekstrim. Sulit membayangkan ada sebuah lembaga kebudayaan yang demikian berkuasa di dunia seperti Lekra.

Kenapa? Karena Lekra hakikatnya bukan sekadar lembaga kebudayaan. Tapi lembaga politik provokatif yang berselimut kebudayaan.

Politisasi Lekra ini bentukan Nyoto dan Aidit, dua pimpinan puncak PKI. Bagi Nyoto dan Aidit—setiap organ dalam PKI harus menjadi corong revolusi dan penyebaran ateisme-komunisme. Itulah sebabnya, semangat gerakan kebudayaan Lekra sama dengan semangat gerakan komunisme Stalin dan nazisme Hitler.

Ideologi Lekra pun “dijejalkan” ke mana-mana—tak hanya ke gedung-gedung kesenian, tapi juga ke sekolah-sekolah, kampus-kampus, masjid-masjid, dan balai-balai desa.

Lagu mars PKI Genjer-Genjer misalnya, menjadi lagu wajib pada setiap upacara politik. Pentas ludruk juga penuh lakon dan adegan untuk menjejalkan paham ateisme.

Penyamaan kesucian air wudhu dengan air kencing pada lakon Gusti Allah Mantu tersebut di atas—juga pembangunan patung palu arit setinggi 20 meter di halaman Masjid Agung Bojonegoro—menunjukkan bagaimana massif dan ekstrimnya gerakan Lekra menghancurkan kesadaran relijius bangsa Indonesia.

Lekra meracuni anak-anak sekolah dengan pelajaran ateisme, mendiskreditkan ulama, menyerang sastrawan Muslim; dan membangun simbol-simbol PKI di masjid.

PKI, misalnya, dengan atraktif menginjak-injak al-Quran di Masjid Jami’ Kanigoro, Kediri. Ulama dan haji, misalnya, oleh Lekra disebut pengisap darah rakyat dan tuan tanah bengis yang harus disingkirkan.

Lekra Tuduh Hamka Plagiat

Sastrawan Hamka dituduh plagiat. Novel karya Hamka yang sangat popular Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (TKVW) dituduh sebagai karya plagiat oleh sastrawan Lekra, Abdullah Said Patmadji (ASP).

ASP menuduh novel TKVW mirip dengan Dumu el Hub (Air Mata Cinta), sebuah film adaptasi dari ovel karya Al-Manfaluthi. Di Koran Bintang Timur—medianya PKI—ASP menulis bahwa novel TKVW adakah karya plagiat Hamka.

Ini sangat memalukan sastrawan Indonesia. Tuduhan ASP tersebut kemudian disanggah oleh HB Jassin, kritikus sastra Indonesia. “Hamka tidak plagiat. Karya Hamka adalah ungkapan pribadi dan pengalamannya sendiri,” tulis Jassin, paus sastra Indonesia itu.

Penyair Taufiq Ismail juga membela Hamka. Tuduhan ASP motifnya bukan sastra. Tapi politik, kata Taufiq Ismail.

Tiga Isu Lekra

Ada tiga isu penting yang ditonjolkan Lekra-PKI dalam mementaskan kesenian rakyatnya. Pertama, mengajak masyarakat untuk tidak mempercayai Tuhan. Kedua, mengajak masyarakat untuk menyita tanah-tanah yang dimiliki tuan tanah, kiai haji, dan yayasan milik Islam. Dan ketiga menghancurkan kredibilitas para sastrawan dan seniman Islam.

Dalam mengajak masyarakat untuk tidak mempercayai Tuhan, misalnya, Lekra mengkoordinasi pementasan ketoprak di Jateng dan DIY, serta ludruk di Jatim dengan lakon bertema “ateisme” yang membuat orang-orang beragama meradang.

Lakon Patine Gusti Allah, misalnya, menjadi salah satu judul pementasan ludruk dan ketoprak paling favorit dan sering dipertontonkan di masyarakat—meski sangat dibenci umat Islam.

Tak hanya itu. Para seniman Lekra juga mendatangi sekolah sekolah untuk menyebarkan paham ateisme PKI. Orang-orang Lekra yang jadi guru, juga aktif menanamkan pikiran ateis kepada murid-muridnya.**

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita