Rabu, 20 Oktober 2021

Ajak masyarakat makan “Babi Panggang”. ICMI : Jokowi krisis empati dan serampangan

Ajak masyarakat makan “Babi Panggang”. ICMI : Jokowi krisis empati  dan serampangan

Aajakan Presiden secara online untuk menyantap kulliner lokal, Bipang Ambawang

Jakarta, Swamedium.com-Jelang Lebaran, Presiden Jokowi ajak masyarakat beli makanan lokal secara online. Jokowi menyebut beberapa makanan daerah seperti gudeg, siomai, pempek, dan yang mengejutkan warganet adalah ajakan makan bipang Ambawang.

Banner Iklan Swamedium

Pernyaataan Presiden Jokowi, menjadi bahan pembicaraan setelah ajakannya kepada masyarakat untuk membeli makanan lokal pada musim mudik Lebaran 2021, salah satunya adalah bipang (babi panggang) Ambawang khas Kalimantan Barat.

 “Bipang” sendiri merupakan akronim dari babi panggang.  Sedangkan “Ambawang” merupakan asal makanan ini, yaitu Kecamatan Ambawang di Provinsi Kalimantan Barat. Ajakan Jokowi ini lantaran Lebaran yang masih dalam suasana pandemi dan pemerintah melarang mudik untuk keselamatan bersama.

“Untuk Bapak/Ibu dan Saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasannya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online. Yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, pempek-pempek Palembang, bipang Ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya, tinggal pesan. Dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah,” ujar Jokowi.

Anggota dewan pakar ICMI, Anton Tabah, tak habis pikir, bahkan bertanya-tanya apakah memang ajakan tersebut disengaja oleh Presiden Jokowi atau tidak.

“Padahal ia ngaku Muslim. Bicara Idul Fitri kenapa bicara bipang (babi panggang)?” Tanya Anton kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (8/5).

Anton melihat Jokowi sangat krisis empati, tidak peka dengan perasaan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim dan sedang melaksanakan ibadah puasa.

“Pemimpin bijak, pandai, bisa jaga rasa jaga hati rakyat yang 90 persennya adalah umat Islam ada di bumi ini,” keluh Anton.

Namun di sisi lain, dia seakan telah memaklumi bahwa Indonesia saat ini tengah diuji dengan diberikannya jabatan Presiden kepada Joko Widodo yang selama ini dikenal memiliki cara kerja serampangan.

“Sering salah ketik, salah tanda tangan dan lain-lain. Kali ini salah kata yang tidak tepat baik secara sosial, budaya, timing waktu, apalagi agama,” demikian terang Anton Tabah. **

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita