Jumat, 25 Juni 2021

Tak Akan Berhenti, Hingga Muslim Mengikuti Milaf Yahudi

Tak Akan Berhenti, Hingga Muslim Mengikuti Milaf Yahudi

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Banner Iklan Swamedium

Institut Literasi dan Peradaban

Swamedium.com-Dilansir dari kompas.com, 8 Mei 2021, Jumlah korban luka dalam bentrokan antara polisi Israel dan warga Palestina di Masjid Al-Aqsa dilaporkan bertambah menjadi 200 orang. Bentrokan antara Israel-Palestina ini diklaim memang yang terparah sejak 2017. Di tahun ini dengan diawali penyerangan tentara Israel malam ke-17 Ramadan, saat rakyat Palestina menunaikan shalat Tarawih di komplek Masjidil Aqsa.

Sebuah perbuatan yang tak lagi bisa ditoriler, menyerang sekelompok masyarakat yang sedang menunaikan ibadah. Hal ini mengingatkan peristiwa penembakan brutal di sebuah masjid, oleh seorang psikopat di Selandia baru,Brenton Harrison Tarrant,  15 Maret 2019.

Kebencian Yahudi kepada kaum Muslim sedemikian mendarah daging hingga makna kemanusiaan hanya berakhir menjadi slogan. Organisasi internasional sekelas PBB tak punya gigi, terbukti mereka tak bisa mengerahkan pasukan perdamaiannya dan menghentikan perang.

Bahkan beramai-ramai bersama Amerika dan negara Muslim munafik lainnya memfitnah Hamas, pasukan pembela Palestina sebagai teroris. Jika merunut pada sejarah, Allah SWT telah menjelaskan hal ihwal rasa benci Yahudi kepada Muslim bermula, mereka memang berkeinginan menjadikan Rasulullah mengikuti agama mereka, benar-benar hingga mengikuti Millah mereka, padahal sejak Rasulullah diangkat sebagai utusan, maka syariat sebelumnya yang dibawa para Nabi sebelumnya tidak berlaku.

Allah SWT berfirman, yang artinya:

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (QS Al Baqarah: 120).

Maka bisa dipahami, mengapa Israel begitu getol memperjuangkan apa yang menjadi keyakinannya. Dibantu kampiun demokrasi yaitu Amerika, sekalipun yang dilanggar Israel adalah HAM namun tetap saja meluncur pembelaan. Bukan semata pembelaan, namun ada sisi manfaat di dalamnya yaitu penjualan senjata yang menjadi salah satu pendapatan terbesar Amerika selain pajak.

Dan ketika kejahatan terorganisir, bak kiamat dunia. Tak ada hari tanpa desingan peluru dan granat, beradu dengan lemparan batu rakyat Palestina. Jika bukan karena kekuatan akidah mana mungkin Palestina bertahan hingga hari ini. Hidup begitu singkat, siang di dunia sore sudah syahid. Sesuatu yang menjadi cita-cita terbesar anak-anak Palestina, mereka yakin tak sia-sia hidupnya. Sebab hati dan pikirannya hanya untuk Palestina, negeri para nabi.

Solusi Palestina sejatinya tak cukup hanya mengutuk dan mengirimkan donasi makanan, obat-obatan. Namun lebih kepada ajakan kepada seluruh pemimpin Muslim bersatu, menegakkan persatuan dalam kepemimpinan umum seorang Khalifah . Yang akan menyerukan jihad menumpas Israel laknatullah di muka bumi ini.

Sebab, masalah Israel Palestina ini tidak sekadar permusuhan antara Muslim dan Yahudi, namun lebih kepada perang ideologi. Al Aqsa bukan sekadar menyangkut keyakinan kaum Muslim terhadap Islam, hingga panglima-panglima terbaik Islam tercatat merebutnya dari kafir, seperti Umar bin Khattab, Ziyad Bin Thariq dan lain-lainnya.

Junnah kaum Muslimin kini tiada lagi, teringat bagaimana Khalifah Turki Ustmani,  Abdul Hamid II ketika tokoh pendiri negara Zionis Israel, Theodore Herzl,  meminta tanah Palestina untuk Yahudi. Jawaban yang lantang dan tegas yang diserukan,”Sesungguhnya, Daulah Ustmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan tersebut. Sebab itu, simpanlah kekayaan kalian dalam kantong kalian sendiri, “tegas Sultan.

Maka, tak ada jalan lain kecuali dengan kembali menegakkan junnah umat itu, agar kezaliman tak lagi menimpa kaum Muslim Palestina maupun kaum Muslim di wilayah yang dunia yang lain yang hingga kinipun belum terbebas sepenuhnya dari penjajahan kafir barat. Kaum Muslim yang sadarlah yang menjadi motor perubahan tersebut, sebagaimana firman Allah berikut, yang artinya:“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia“. (QS Ar Ra’du:11). Wallahu a’lam bish showab. **

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita