Rabu, 04 Agustus 2021

Anggaran Pengadaan Alutsista , Fantastis!

Anggaran Pengadaan Alutsista , Fantastis!

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Banner Iklan Swamedium

Institut Literasi dan Peradaban

Swamedium.com-Dilansir dari CV Indonesia, 29 Mei 2021, Kementerian Pertahanan disebut akan melakukan pembelian sejumlah alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) untuk memenuhi kebutuhan tiga matra Tentara Nasional Indonesia (TNI). Rencana ini tertuang dalam dokumen rancangan Peraturan Presiden (Perpres) Tentang Pemenuhan Kebutuhan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) Kementerian Pertahanan dan TNI tahun 2020-2024. Pemenuhan alpalhankam itu ditaksir memerlukan pendanaan sekitar US$ 124.995.000.000 atau setara Rp1,7 kuadriliun.

Angka yang fantastis! Lebih fantastis lagi, dalam dokumen itu disebutkan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan sebesar Rp1,7 kuadriliun, pemerintah melalui Kementerian Pertahanan akan mengajukan pinjaman ke luar negeri. Utang lagi ke luar negeri? Padahal Kementerian Keuangan mencatat posisi utang Indonesia mencapai Rp 6.361 triliun per akhir Februari 2021, naik 2,05 persen atau Rp128 triliun dari periode Januari 2021.

Ekonom Intitute of Development for Economics and Finance (Indef),  Didik J Rachbini , mengatakan utang pemerintah tersebut jika ditambah dengan utang BUMN totalnya menjadi sekitar Rp 8.500 triliun. Dia memperkirakan total utang pemerintah dan BUMN ini bisa mencapai Rp10.000 triliun pada akhir kepemimpinan Jokowi (bisnis.com, 25/3/2021). 

Connie Rahakundini, pengamat bidang militer dan pertahanan keamanan berkebangsaan Indonesia mengatakan cukup terkejut dengan besarnya anggaran yang diajukan Kemenhan. “Mau beli apa dengan anggaran sebesar itu? Mau perang kemana? Alutsista apa yang mau dibeli?” Demikian tanyanya (CNNIndonesia, 29/5/2021).

Rancangan Perpres Tahun 2020-2024 ini pada pasal 2 ayat 2 berisi rincian mengenai pengeluaran Alpahankam di antaranya tentang akuisisi Alpahankam senilai US $79.099.625.314, pembayaran bunga tetap selama 5 Renstra senilai US $ 13. 390.000.000 dan dana kontijensi serta pemeliharaan dan perawatan Alpahankam senilai US $ 32. 505. 274.686.

Sedangkan pada pasal 3 ayat 3 tentang perencanaan kebutuhan teralokasi US $ 20. 747.882.720 pada daftar rencana pinjaman luar negeri jangka menengah khusus 2020-2024. Dan pada ayat 4, selisih Rembut (Rencana Kebutuhan) US $ 104.247.280 akan dipenuhi Renstra tahun 2020-2024.

Besarnya angka dalam pengajuan anggaran ini memang memunculkan polemik, meski banyak yang menyetujui bahkan mengatakan untuk 5 Renstra anggaran ini masih terbilang kecil. Demikian pula Dahnil Anzar Simanjuntak , juru bicara Kemenhan, mengatakan bahwa anggaran Kementerian Pertahanan (Kemenhan) masih relatif kecil jika dibandingkan negara-negara lainnya.

Melalui akun Twitternya, Dahnil menjelaskan bahwa belanja pertahanan sejatinya dibagi kepada lima institusi yaitu Markas Besar TNI, TNI Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Kementerian Pertahanan. “Di mana Menhan sebagai PA [pengguna anggaran]-nya. Jadi dengan jumlah sebesar itu relatif masih kecil dibandingkan dengan yang lain. Apalagi dibandingkan dengan negara lain belanja pertahanan kita masih sangat kecil,” (bisnis.com, 4/1/2021).

Menurut Beni Sukadis, Koordinator Program Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), dikutip dari dokumen nota keuangan dan APBN 5 tahun terakhir, anggaran Kemenhan berkisar 100 Trirliun, namun untuk alutsista hanya 43 Trilliun. Paling banyak, yaitu sekitar 72,3 Trilliun digunakan untuk anggaran dukungan managemen. Dan intinya anggaran alutsista hanya sekitar 7% dari APBN, padahal seharusnya antara 5-10%, artinya ini tak banyak alutsista yang datang kecuali Apache helikopter TNI AD ( CNNIndonesia.com, 28/4/2021).

Sedang menurut Manajer Riset Seknas Forum Indonesia untuk Transparasi Anggaran ( FITRA), Badiul Hadi, anggaran fantastis Kemenhan tak tercermin dalam belanja Alutsista tapi lebih kepada belanja pegawai. Sejak Prabowo dilantik menjadi Menhan, tak ada kebijakan strategis yang dikeluarkan. Padahal banyak pihak yang berharap pada beliau, terlebih jika melihat latar belakangnya sebagai mantan tentara dan kritik kerasnya terhadap pertahanan negara saat debat Capres dirinya (CNNIndonesia.com, 27/4/2021).

Memang perlu ada yang dicermati, dengan posisi Indonesia dengan kekuatan militer peringkat 16 dunia, 1 di ASEAN dan 9 di Asia, benarkah penilaian itu berdasarkan subyektifitas penilaian dunia kepada kekuatan militer kita? Sebab, bagi negara berideologi, kekuatan militer memang menjadi fokus utama, segala kecanggihan teknologi dan strategi perang terbaru akan dipelajari agar posisinya tak bergeser, dan ketika melihat Indonesia hal itu tak ada. Kita punya Pindad, PT. dirgantara dan industri-industri berat lainnya namun fokus penguasa bukan di situ. Kita bukannya negara kering kerontang, namun kaya SDA yang jika dikelola dengan benar akan menjadi kekuatan pembiayaan yang fantastis.

Pengajuan anggaran inipun mencuat pasca kita kehilangan kapal selam Nanggala yang sungguh memperihatinkan, memiliki hanya 5 kapal selam namun masih berani menganggap sebagai negara Maritim? Sungguh upaya bunuh diri politik yang apik, apalagi ditambah dengan sistem utang luar negeri sebagai skema pembiayaannya. Dengan mudahnya negara musuh mendikte apa yang semestinya menjadi urusan rahasia negara yaitu ketahanan dan keamanan negara.

Maka, ada tiga kelemahan yang sebenarnya sedang terjadi hari ini pertama adalah politik luar negeri Indonesia bebas aktif yang terbukti ambigu, tak pernah bisa mengantar negara ini menjadi negara ula, selamanya akan tetap menjadi negara pembebek. Kedua ada ketidakjelasan skema pembiayaan departemen pertahanan dan keamanan negara, yang berarti juga mencerminkan kelemahan skema pendapatan negara dalam mengampu kebutuhan pokok negara, yaitu pertahanan dan keamanan.

Yang ketiga adanya kelemahan visi dan misi pemimpin negara. Nyata pemimpin hari ini tidak punya konsep yang jelas memimpin sebuah bangsa yang berdaulat dan cinta kemerdekaan dan perdamaian.

Solusinya adalah menghapus sistem yang berkuasa hari ini yaitu kapitalisme dan menggantinya dengan sistem Islam, satu-satunya sistem yang secara historis terbukti mampu menjadi satu-satunya negara adidaya, dengan kekuatan jihad dan dakwahnya sebagai politik luar negerinya mampu menguasai 2/3 dunia.

Adalah wajar bagi negara berideologi, apapun ideologinya untuk membangun pertahanan negara yang kuat, yaitu militer. Sebagaimana Amerika hari ini adalah negara pengusung ideologi kapitalisme. Sehingga 60% pendapatannya dari penjualan senjatanya digunakan kembali untuk makin memperkuat pertahanannya, baik dengan pengembangan IPTEK persenjataannya maupun SDMnya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal : 60 yang artinya,” Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya“.

Beranjak dari ayat ini, maka pemimpin dalam Islam tak akan menganggap enteng pertahanan negara. Ia akan fokus menjadikan negaranya tak mudah disusupi musuh, baik secara pemikiran maupun wilayah kekuasaan. Maka mempersiapkan tentara adalah jawabannya, termasuk di dalamnya adalah persiapan SDMnya , logistiknya, pelatihannya, pendidikannya dan sebagainya yang berhubungan dengan terwujudnya pertahanan yang kuat.

Demikian pula dengan skema pembiayaan, upaya mandiri akan lebih ditekankan sebab, ketika kita bergantung kepada utang luar negeri saat itu pulalah kita sedang mempersilahkan negara lain mencampuri urusan kita. Dan itu yang terjadi pada negara kita, tak berdaya, tak punya bargaining dan kedaulatan di hadapan negara lain. Bandingkan dengan perkataan Sultan Hamid II, sebagai Khalifah kaum Muslim yang menolak permintaan Yahudi tentang tanah Palestina, negara disegani sebab militer kaum Muslim terkenal dengan kekuatan tempurnya. Bagaimana tentara Muhammad Al Fatih yang mampu menembus pertahanan Konstantinopel, tentara Salahuddin Al Ayubi yang membebaskan Palestina dan lain sebagainya. Seharusnya lah begitu, hanya dengan pengaturan Islam semua dapat diraih kembali, kemuliaan dan kedaulatan sebagai negara dan bangsa. Wallahu a’ lam bish showab.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita