Sabtu, 18 September 2021

Hilangnya Percaya, Picu Konflik Sosial

Hilangnya Percaya,  Picu Konflik Sosial

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Banner Iklan Swamedium

Institut Literasi dan Peradaban

Swamedium.ccom-Hampir dua tahun pandemi bertandang, namun titik terang bakal berlalu dan keadaan menjadi lebih baik tak kunjung datang. Pantaslah jika hari ini setiap jiwa merasa pesismis, terlebih ketika melihat penguasa hanya jago ganti istilah namun zero solusi hakiki.

Keadaan ini secara psikologi berpengaruh terhadap kejiwaan masyarakat, karena kini semakin hari semakin jelas siapa yang menanggung derita lebih banyak, di saat rumah sakit overload akhirnya tak hanya gedung sekolah atau fasilitas umum yang kemudian dijadikan tempat penampungan, namun kemudian muncul gerakan isoman mandiri di perumahan-perumahan.

Belum lagi dengan munculnya gerakan sebar tabung oksigen gratis, obat mandiri dan pengumpulan sembako untuk mereka yang isolasi mandiri, kemana penguasa? Kemudian muncul pemikiran nyeleneh, stres, depresi, bunuh diri, kepercayaan kepada klenik kembali subur dan mendapatkan tempatnya kembali, phobia berlebihan, trauma dan hoax. Kesemrawutan kondisi terjadi adalah sebuah keniscayaan, terlebih edukasi dari penguasa juga diragukan kevalidannya, sebab kini muncul pula dugaan rekayasa data ada penurunan angka positiv Covid dari para kepala daerah hanya karena ingin segera dilonggarkan kebijakan PPKM darurat.

Kesemrawutan ini tak sepenuhnya kesalahan rakyat. Kebijakan penguasa hampir-hampir tak menyentuh rakyat terutama di lapisan bawah, beban itu seolah berpindah kepada rakyat, padahal baik dana, sarana, prasarana maupun pengetahuan rakyat sangatlah terbatas. Tak heran, begitu ada salah satu individu positif Covid tanggapan rakyat beragam, ekstrimnya ada yang menolak sebagaimana yang dialami Salamat Sianipar (45), warga Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.

Ketika ia  positif Covid-19 dan ingin melakukan isolasi mandiri di rumah karena menurut pihak puskesmas desa gejalanya belum terlalu parah, ia  justru diamuk oleh warga sekitar. Bahkan aparat menyeret, mengikat dan memukuli  Salamat dengan kayu dan memaksa isolasi mandiri di hutan (Kamis, 24/7/2021). Dengan edukasi minim, orang yang terpapar Covid seakan dianggap biang kerok. 

Kesalahpahaman juga menimpa petugas bagian pemakaman.  Warga Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, yang melakukan penganiayaan terhadap tim pemakaman jenazah pasien Covid-19,  Tim dari BPBD Jember pun mendatangi rumah warga untuk mediasi, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember M Djamil menjelaskan,“Ada mediasi dan proses komunikasi. Sudah menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa itu,”.

Emosi menguasai warga Desa Jatian, karena permintaan mereka untuk memandikan jenazah tidak dihiraukan petugas. Sesuai permintaan dari Camat tim tetap melaksanakan pemakaman dan memberikan pengertian kepada warga bahwa jenazah harus mengikuti prosedur pasien Covid. Tak terelakan lagi, petugas  dihadang lalu dilempar dengan batu serta dipukul oleh sejumlah warga (kompas.com,24/7/2021). Meskipun telah kondusif keadaannya, karena warga sudah meminta maaf, namun hal ini sebetulnya tidak perlu terjadi.

Konflik horizontal makin banyak terjadi, antar anggota masyarakat dan antara masyarakat-tenaga kesehatan  dan pelaksana program terkait Covid. Juga terjadi konflik-konflik  sosial bermuara dari  ketidakpercayaan publiK pada kebijakan negara (public distrust). Hal ini karena pemerintah tidak cukup mengedukasi publik. Yang dipedulikan hanyalah angka penurunan, padahal fatal akibatnya jika hanya menghitung data namun abai dengan penanganan.

Gagapnya pemerintah baik antisipasi masuknya Covid ketika di awal masuknya virus, maupun penanganan penyebaran dan perawatan si sakit, terbukti  lemah, penanganan korban terkesan lambat bahkan lebih kepada pembiaran, hingga masyarakat mengambil tindakannya sendiri yang berujung konflik antar anggota masyarakat. Disinilah tanggung jawab negara kembali dipertanyakan. Negara harus hadir tak hanya bagi para bankir atau investor, namun juga untuk rakyat fakir.

Tak cukup ajakan  mendoakan negeri ini , sebagaimana ajakan Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,  kepada umat muslim di lingkungan Kemenparekraf/Baparekraf agar pandemi COVID-19 segera berakhir. “Mari kita juga selalu berdoa agar yang sakit diangkat penyakitnya dan kita bersama keluarga bisa kembali berjuang untuk menuju Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur. Teruntuk saudara-saudara kita yang sudah mendahului kita, mari kita doakan semoga seluruh amal ibadahnya diterima di tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ungkap Sandiaga ( kemenparekraf.go.id).

Sebab, jika merujuk pada dalil, kerusakan hari ini adalah karena penguasa enggan menggunakan sistem kesehatan yang lebih baik dan adil, yaitu sistem kesehatan Islam. Bukan semata dengan embel-embel syariat, namun benar-benar merujuk pada dalil Al-Qur’an dan As Sunnah. Semakin jauh kita dari syariat Allah SWT, maka kehidupan akan semakin sempit.

Pandemi ini memaksa kita untuk segera muhasabah dan mengingat kembali tujuan awal kita diciptakan di dunia, yaitu sebagai hamba Allah.  Allah SWT berfirman,”  Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku“. ( QS Adzariyat :56). Menurut banyak mufassir, beribadah tidak semata shalat dan ibadah Madah ( ritual) semata, namun di segala aspek kehidupan wajib menggunakan syariat, termasuk dalam bidang pemerintahan dan kesehatan. Sebab Islam adalah pasti maslahat bagi seluruh manusia di dunia. Wallahu a’ lam bish showab.**

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita