Rabu, 15 September 2021

Ketika Vandalisme Masuk Kawasan Konservasi Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

Ketika Vandalisme Masuk Kawasan Konservasi Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

Perjalanan tim 18 rombongan Ekspedisi Wartawan Peduli Taman Nasional PWI Riau ke Bukit Lancang Taman Nasional Bukit Tiga puluh (TNBT), beristirahat di depan pohon Mersawa

Rengat, Swamedium.com-Sudah semestinya hati ini senang, saat tujuan akhir telah tiba setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, ‘memanjat’ bukit Lancang dari Camp Granit Taman Nasional Bukit Tigapuluh, di Desa Talang Lakat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Sabtu (7/8). Kenapa menjadi tidak senang?

Banner Iklan Swamedium

Tujuan akhir dari perjalanan tim 18 rombongan Ekspedisi Wartawan Peduli Taman Nasional PWI Riau ke Bukit Lancang Taman Nasional Bukit Tiga puluh (TNBT) adalah untuk melihat pohon Mersawa. Pohon Mersawa dengan nama ilmiah Anisoptera Marginata Korthtermasuk dalam jenis tumbuhan Dipterocarpaceae adalah pohon tua yang diperkirakan usianya sudah lebih 200 tahun. Diamater pohon empat meter. Untuk memeluk pohon ini dibutuhkan sekitar 12 orang dewasa merentangkan tangan pada banir (akar yang menjorok dan menonjol ke luar menyerupai dinding pada bagian pangkal).Keunikan pohon inilah membuat kami tertarik untuk melihat. Walau untuk mencapainya butuh perjuangan, tanjakan terjal dan ada tanjakan yang disebut tanjakan muntah, karena begitu tegaknya tanjakan itu sepanjang 100 meter.

Namun saat kaki mulai mendekati pohon Mersawa yang sudah berdiri tegak di depan mata, ada goresan pisau yang membentuk nama-nama orang terhujam di dua batang kecil di depan pohon tua itu. Kenapa ada yang begitu tega melakukan vandalisme di dalam kawasan Taman Nasional ini?

Saat pertanyaan ini diajukan ke staf Balai TNBT yang menjadi pemandu tim ekspedisi PWI Riau ini, tak satu pun yang mengetahui siapa pelakunya. Mereka pun kecewa ada sekelompok manusia yang tega melakukan vandalisme di dalam kawasan konservasi. Dilihat lokasi yang jauh masuk ke dalam hutan, bukan jalan umum dan jalan wisata, pelakunya jelas-jelas adalah mereka yang suka bertualang. Tapi diyakini mereka bukanlah masuk petualang dalam kelompok pecinta alam atau pecinta lingkungan.

“Kita tidak bisa memantau setiap pergerakan pengunjung yang datang berkunjung ke wisata Camp Granit,” kata Andi Moenandar, Koordinator Pelayanan Balai TNBT yang jadi Ketua Pemandu Tim Ekpedisi PWI Riau ke Bukit Lancang.

Pihak TNBT baru melakukan pendampingan jika ada rombongan yang akan melakukan penelitian atau melakukan perjalanan wisata rombongan seperti Ekspedisi Wartawan Peduli Taman Nasional PWI Riau.

Vandalisme tidak saja terlihat di batang pohon dekat pohon Mersawa, tapi juga terlihat di dekat pemandian air terjun granit yang tidak jauh dari Camp Granit.

“Di lokasi air terjun mereka menggunakan cat untuk aksi vandalismenya,” kata staf lain. “Untuk cat bisa kita atasi dengan mengikis ulang. Tapi coretan dengan menggunakan pisau, kita tidak bisa menghilangkannya,” tambah Nori, staf Balai TNBT.

Aksi Vandalisme di depan pohon Mersawa dalam Kawasan TN Bukit Tiga Puluh
(denni risman)

Wisata Minat Khusus

Kepala Balai TNBT Fifin Arfiana Shut, Msi menyebutkan Taman Nasional Bukit Tiga puluh terbuka untuk wisatawan dengan minat khusus, bukan wisatawan massal. Obyek wisata yang ditawarkan di TNBT adalah panorama alam, air terjun, alam sungai Gangsal, keanekaragaman flora dan fauna serta keunikan budaya masyarakat tradisional Talang Mamak, Suku Anak Dalam dan Suku Melayu Tua.

Salah satu lokasi yang terbuka dan sering dikunjungi wisatawan itu adalah Camp Granit yang memiliki luas sekitar 23 hektar. Granit sesuai namanya, dulu adalah tempat penambangan batu granit. Tapi setelah lokasi ini menjadi kawasan Taman Nasional, nama Camp Granit tetap dipakai. Camp Granit sendiri berada di wilayah kerja Resort Talang Lakat, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Belilas, Inhu Riau.

Selain jadi lokasi wisata, Camp Granit pada tahun 2002 pernah jadi Pusat Pelatihan Penanggulangan Kebakaran Hutan (PPPKH ) yang didirikan melalui kerja sama Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan (PHKA).

“Untuk masuk ke areal kawasan wisata Camp Granit, pengunjung dipungut biaya. Mereka juga bisa menginap di mess camp atau di tenda,” kata Fifin.

Untuk kegiatan sendiri diserahkan ke wisatawan yang datang, apakah mereka mau wisata ke air terjun granit, menikmati panorama alam di Bukit Tengkorak atau di Camp Granit, atau treking ke dalam hutan untuk melihat flora dan fauna. Banyak tumbuhan unik yang bisa dilihat disepanjang jalur Bukit Lancang, ada bunga bangkai, pasak bumi, Cendawan Muka Rimau (Refflesia hasseltii).

“Di jalur Bukit Lancang ini pula kita dulunya memasang kamera trap. Dari kamera itulah kita tahu adanya harimau sumatera, beruang madu, kambing hutan, babi hutan, rusa, kijang. Dan kalau beruntung, kita akan bisa menemukan dan mendengar suara burung rangkong dan kuaw,” terang Andi Moenandar.

“Mereka yang melakukan treking ke dalam hutan, ada yang dipandu petugas camp granit dan ada juga mereka yang pergi tanpa di dampingi pemandu. Biasanya yang pergi tanpa pemandu adalah mereka yang sudah pernah pegi sebelumnya,” tambah Fifin lagi.

Menurut informasi, rombongan yang dilepas tanpa pemandu biasanya rombongan pelajar dan mahasiswa. Tujuannya ke Telaga Teduh, Pohon Mersawa dan Batu Lumba-lumba yang berada tidak jauh dari pohon Mersawa.

Tidak ada yang tahu apakah aksi vandalisme itu terjadi saat ada oknum dari rombongan itu melancarkan naluri vandalismenya.

Pohon pasak bumi yang masih kecil ditemui dalam perjalanan di Bukit Lancang
(denni risman)

Minim Pengawasan

Tidak dapat dipungkiri, hampir semua kawasan konservasi di Indonesia, baik itu Kawasan Suaka Alam; Cagar Alam dan Suaka Margasatwa maupun Kawasan Pelestarian Alam seperti Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam, minim dengan tenaga pengawas. Termasuk Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT).

TNBT yang memiliki luas 144.223 ha dan terletak di dua provinsi, Riau dan Jambi hanya dijaga oleh 28 orang Polisi Kehutanan (Polhut). “Jumlah personil yang mengelola dan mengawasi TNBT sebanyak 85 orang, baik yang bekerja di kantor maupun di lapangan,” urai Kepala Balai TNBT.

Sangat wajar kalau akhirnya terjadi aksi vandalisme di dalam kawasan TNBT yang dijadikan kawasan wisata.

Pihak Balai TNBT sendiri, dalam pemaparan Fifin kepada rombongan Tim Ekspedisi PWI Riau ke TNBT mengungkapkan saat ini pihaknya lebih banyak mengajak masyarakat yang tinggal dalam kawasan atau pinggir kawasan untuk ikut menjaga hutan. Caranya, mereka diajarkan untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, seperti mengolah aren, membudidayakan kelulut sehingga jadi produsen madu kelulut.

“Kita selalu menekankan kepada masyarakat untuk ikut menjaga dan merawat hutan dalam kawasan TNBT secara bersama-sama. Lalu merasakan manfaatnya dari hasil hutan dari aren dan madu serta buah jernang,” tambah Fifin.

Tujuan mereka merangkul masyarakat itu tidak lain agar mereka tidak lagi melakukan penebangan pohon untuk membuka lahan baru, melakukan peladangan berpindah atau membuka kebun di dalam kawasan.

Saat ini seperti diakui Fifin, kesadaran masyarakat sudah mulai tinggi. Jika masyarakat dalam kawasan dan di pinggir kawasan sudah paham untuk menjaga hutan di dalam kawasan TNBT, tinggal PR berikutnya mendidik wisatawan yang datang untuk ikut menjaga kelestarian alam. Seperti moto anak pecinta alam; Jangan Ambil Sesuatu kecuali Foto dan Jangan Tinggalkan Sesuatu, kecuali Jejak (bukan jejak di pohon atau di batu). (dennirisman/swamedium)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita